Kamis, 23 Februari 2012

Tarian Manusia Urban tanpa Sekat


Sebuah pertunjukan tari kontemporer yang diilhami barisan lirik indah. Meniadakan batas dengan penonton. Selembar spanduk panjang selebar 1 meter terbentang di lantai. Warna putihnya ternoda oleh beberapa bercak warna-warni. Bercak-bercak itu kian banyak setelah satu per satu orang yang mengerumuni spanduk tersebut berlomba-lomba membuat goresan aneka corak menggunakan spons yang satu permukaannya dibubuhi cat merah, biru, kuning, dan hijau.
Dipandu Angela Liong, kerumunan itu perlahan-lahan bergeser menjauh dari spanduk. Setelah hening beberapa detik, perlahan-lahan suara musik tradisional mengalun memecah kesunyian. Dari balik pintu di bagian kiri dan kanan ruangan, muncul sepasang lelaki dan perempuan, Aditep Buanoi dan Vararom Tavivoradilok. Keduanya menari sambil berhadapan meskipun tetap berjauhan. Gerakan tari kontemporer yang mereka suguhkan lamban dan penuh liukan, mengingatkan kita pada adegan perkelahian dalam film The Matrix.
Tarian mereka berakhir, ketika dari langit-langit di tengah ruangan berjatuhan ribuan kelopak bunga berwarna merah muda. Musik tradisional berganti musik modern dengan beat yang lebih cepat dan mengentak-entak. Menelusup di sela kerumunan penonton, Aditep dan Vararom berlari ke tengah ruang. Mereka bergabung dengan empat penari lainnya, Edwin Wee, Mayu Watanabe, Wang Weiwei, dan Tomomi Aramaki, yang asyik bergoyang di bawah taburan kembang.

Menyaksikan pementasan tari Petals in the Crowd, yang digelar di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dua malam berturut-turut, Kamis-Jumat pekan lalu, itu memang memberikan sensasi tersendiri bagi penonton.Tak ada jarak antara para penari dan penonton. Ketika memasuki ruang teater, yang kita saksikan hanyalah sebuah ruang yang lapang. Tak ada panggung ataupun deretan kursi penonton.

Hanya ada sebuah “sangkar”persegi bertirai putih transparan di salah satu sisi dan “sangkar” berbentuk lingkaran tertutup tirai putih di sisi yang lain.“Penonton bebas menikmati pertunjukan dari sudut mana pun,”ujar Angela Liong, konseptor pertunjukan ini. Ruang gerak para penari adalah di antara para penonton.
Para penari menunjukkan kemampuan mereka di ruang-ruang kosong di antara kerumunan penonton. Seluruh ruangan adalah panggung mereka. Inilah mengapa penonton tak hanya bisa diam terpaku pada satu sisi. Seperti halnya penari yang berpindah-pindah tempat—termasuk menari di atas balkon—penonton juga mau tak mau ikut berpindah-pindah posisi. “Seperti menikmati karya seni rupa di sebuah museum, Anda harus bergerak mendekati masing-masing karya seni rupa itu,” Angela menjelaskan.

Perempuan yang disebut sebagai sosok spiritual tari Singapura oleh Arts Magazine (1999) itu menciptakan Petals in the Crowd bersama kelompok tari Arts Fission, kelompok tari kontemporer multi-disipliner yang ikut didirikannya pada 1994 sebagai upaya mendefinisi ulang genre-genre teater di Asia. Seperti seri pertamanya, Flowers of Lamentations, seniman tari asal Singapura itu bekerja sama dengan kelompok seni dan desain :phunk. Dia juga menggandeng DJ K, disk jockey yang memandu tata musik, dan Adrian Tan, sebagai penata cahaya. Kehadiran DJ K mampu menyulap ruang Teater Salihara layaknya arena “dugem” yang asyik buat bergoyang.

Petals in the Crowd terilhami oleh barisan lirik indah ciptaan penyair asal Amerika Serikat, Ezra Pound, In a Station of the Metro (1913) dan sebuah syair dari akhir zaman T’ang bertajuk Face and Peach Blossoms. Angela, yang yang pernah diganjar penghargaan Singapore Cultural Medallion in Dance pada 2009, kemudian merelasikan citra puitis dua syair tersebut ke dalam sensibilitas abad ke-21.
Sensibilitas manusia dalam lanskap sosial di kota-kota besar di Asia Tenggara yang berubah begitu cepat dijabarkan melalui tarian, dentuman musik DJ, dan bunyi-bunyian keriuhan kota besar. Ia juga melengkapinya dengan sedikit pertunjukan video mapping. Semuanya terangkai dalam 16 subtema koreografi yang berbeda.

Pada subtema berjudul Flower Beds, misalnya. Angela menyentil persoalan lingkungan lewat dua penari yang menari sambil membawakan ranting pohon yang mengering. Di bagian akhir, para penari menunjukkan kemampuan mereka berolah tubuh sambil menjaga keseimbangan di atas bangku kayu.

Sentuhan teatrikal terasa kuat pada adegan itu. Dan kelopak-kelopak bunga merah jambu kembali berjatuhan menyudahi pertunjukan. (korantempo, 20 Februari 2012)

0 komentar:

Posting Komentar