Tampilkan postingan dengan label Teater Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Diskus Sastra: Sungai-Sungai Muara-Muara Pesisir-Pesisir

Penciptaan karya sastra merupakan hasil kreativitas pengarang menyampaikan renungan atas sesuatu yang berada di luar dirinya. Hasil proses kreativitas tersebut menjadi sesuatu (tulisan) yang dapat dibaca oleh masyarakat. Dengan demikian, karya sastra mempunyai fungsi sosial atau manfaat yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Fitri Merawati, Catatan Karya sastra juga mempunyai struktur yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan zamannya. Umar Kayam berpendapat bahwa kesenian (sastra termasuk di dalamnya) dapatlah dipandang sebagai satu cara manusia untuk menata kembali kehidupan lewat berbagai imaji dengan cara yang dirasakan paling mesra. Sastra sebagai bagian dari kesenian mempunyai beragam fungsi. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah dulce et utileatau sweet and useful (Rene Wellek dan Austin Warren), sebagai alat untuk mencapai ”pemahaman yang imajinatif” mengenai alam kehidupan sosial dan politik sehingga sastra akan bersifat atau berfungsi kritis, etis, terapis, dan konseptualis (Roger D Spegele), dan sastra dapat pula dipandang sebagaimode of communication, mode of comprehension, dan mode of creation(Kuntowijoyo). Pemikiran-pemikiran di atas pada hakikatnya menyiratkan bahwa salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kesanggupan rokhaniah untuk menghayati segala segi kehidupan dan tatanilai yang berlaku di masyarakat adalah pengembangan kemampuan melaksanakan apresiasi sastra. Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah peduli akan hal tersebut. Karena itu, acara rutin bulanan berupa diskusi sastra digelar dan dimaksudkan sebagai salah satu cara dalam mengembangkan apresiasi satra tersebut. Kegiatan berlangsung setiap bulan sekali, yakni pada hari Rabu minggu kedua. Pada bulan ini diskusi akan dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Juni 2012 pukul 19.00 bertempat di Kampus II Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Jalan Pramuka no. 42. Diskusi tersebut akan menyajikan pembahasan terhadap puisi-puisi hasil karya tiga penyair muda di Yogyakarta, yakni Iqbal H. Saputra, Fitri Merawati, dan Latief S Nugraha. Diskusi tersebut sekaligus dalam rangka launchingbuku kumpulan puisi mereka yang berjudul sungaisungai-muaramuara-pesisirpesisir. Dalam kesempatan kali ini Prof. Dr. Suminto A. Sayuti selaku pembicara akan membedah dan mengupas tuntas puisi-puisi ketiga penyair tersebut. Selain itu akan ada pembacaan puisi oleh Teater JAB. (djgc)

Kamis, 31 Mei 2012

Hanna Fransisca Luncurkan 3 Buku Sastra

Cita-citanya, sejak awal, selain ingin menyaksikan peluncuran tiga buku Hanna Fransisca, juga ingin bertemu banyak kawan. Bahkan, pagi-pagi, saya sudah membikin status di Facebook: “mari ngopi di TIM malam nanti….” sambil menempel berita tentang acara Hanna yang dimuat di portal sastra infosastra.com. Tujuannya, ya, mengirim pesan kepada teman-teman bahwa malam itu, Selasa (29 Mei 2012), saya akan berada di Taman Ismail Marzuki. Lalu Akmal Nasery Basral, sang novelis laris itu, menyahut status itu: “Mari!”. Niat ke TIM makin “mengharukan” ketika rekan cerpenis dan esais Damhuri Muhammad menulis status di FB begini: “menunggu dengan gembira Yanusa Nugroho, Benny Arnas, Akmal Nasery Basral, Kurnia Effendi, Endah Sulwesi, Rita Achdris, Bamby Cahyadi, Mustafa Ismail, MPu Gondrong Sae, Khrisna Pabichara, dll. banyak yang kagak bisa ditag, entah kenapa. mohon maaf”. Buat saya, ini cara mengundang yang sangat menyentuh sekali. Kelihatannya, saya tampak lebay (tiba-tiba saya jadi ingat Lebay Hamid di kampung, seorang ustad yang suka mengaji tengah malam di meunasah alias surau). Tapi beneran, teori-teori komunikasi menyebutkan (sory, aku tidak akan pakai catatan kaki dalam curcol ini meski dalam dua tahun terakhir ini sangat akrab dengan catatan kaki, bukan catatan paha ya) komunikasi tidak hanya cara menyampaikan pesan juga cara “memanusiakan” orang lain. Diwongke, kata orang Jawa. Tapeu ureung, kata ibu saya di Aceh. Intinya, dalam berkomunikasi, yang dipentingkan tidak hanya pesan, justru yang lebih penting adalah cara menyampaikan pesan itu. Oke, soal ini tidak perlu kita perpanjang, karena memang sudah cukup panjang ya. Kata teman saya, sesuatu yang panjang jangan suka dipanjang-panjangkan lagi, apalagi sampai melibatkan Mak Erot, Mak Eros, Mak Curot, atau mak-mak yang lain. Pendek kata, berangkatlah saya malam itu ke TIM. Setelah memarkir “sapi” di bawah sebuah batang pohon, di depan Graha Bhakti Budaya, saya pun berjalan ke Teater Kecil. Dari jauh — sebetulnya tidak terlalu jauh, ini cuma gaya hiperbola — penyair Giyanto Subagio (Maaf, saya tidak sempat tanya apakah ia ada hubungan dengan penyair Subagio Sastrowardoyo atau Dian Sastrowardoyo) melambai, menyapa. Sok akrab juga dia, padahal kami memang cukup akrab, he..he.. (Giyanto jangan marah ya, kalau suka marah entar cepat terkenal lo). Setelah berbasa-basi sebentar — inilah tradisi orang Indonesia yang masih tetap abadi — mau masuk ke dalam. E, di depan Teater Kecil ketemu lagi sama Iwan Kurniawan dan seorang rekannya. Iwank itu sebenarnya filosof, lulusan filsafat dari sebuah universitas di Yogyakarta, tapi kami lebih sering berdiskusi tentang blog dan ia jago bikin website. Kalau lagi iseng, coba deh mampir ke blognya di sini. Tapi tunggu dulu, sebaiknya Anda menyelesaikan membaca tulisan ini. Oke, saya lanjutkan ya. Setelah bertemu Iwank, begitu ia sering disapa, saya lihat seseorang berambut gondrong, berkaca mata, duduk di pembatas Teater Kecil, persis dekat toko buku penyair Jose Rizal Manua. Siapa dia? Sebentar, saya minum dulu ya. Tehnya tinggal sedikit, tapi lumyan untuk nambah tenaga. Saya teruskan ya. Untuk menjawab siapa orang ini, lebih baik saya memulainya dengan sebuah cerita. Pada tahun 1990 (atau 1989 ya, saya agak lupa), di Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh) muncul sebuah cerpen remaja, kira-kira judulnya “Masihkah Kau Sayang Padaku, Dini?” Penulisnya adalah seorang rekan penulis, yang namanya cukup akrab, meskipun waktu itu kami belum pernah saling kenal atau ketemu langsung. Membaca cerpen itu, saya teringat sebuah cerpen yang muncul di Majalah Ceria Remaja (yang diasuh oleh Nina Pane dan Sutardji Calzoum Bahri). Singkat cerita, saya bikinlah tulisan budaya untuk Serambi Indonesia dan membandingkan kemiripan kedua cerpen itu. Kala itu, redaktur budaya adalah Fikar W. Eda, penyair yang masih sekarang suka menggondrongkan rambut. Tulisan itu dimuat dan ramailah soal itu di kalangan seniman Aceh. Terjadi balas-membalas pantun di koran itu, antara saya dengan rekan penulis itu, yang kemudian — kalau gak salah — ditengahi oleh seorang sastrawan senior di sana, saya lupa kala itu siapa yang menulis menengahi polemik di media itu. Ketika saya hadir dalam acara Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki pada November 1996, saya baru ketemu dengan penulis cerpen yang karyanya “dijiplak” oleh rekan di Aceh itu. Namanya Remmy Novaris DM. Nah, dialah lelaki yang duduk di pembatas Teater Kecil itu. Mengobrol sebentar, lalu kami masuk ke Teater Kecil, mencicipi makanan Singkawang yang disediakan Hanna, lalu masuk ke dalam gedung Teater Kecil. Rupanya, tempat peluncuran buku Hanna sudah penuh. Banyak penonton yang berdiri. Kami sempat berdiri di bagian belakang sebentar, kemudian pindah ke bagian samping kanan. Di sana, kami bertemu Hanna. Kami bersalaman, sambil mengucapkan selamat. Lalu, kami pun duduk di blok tangga. Rupanya di bagian tangga bawah, ada penyair Irmansyah. Ia sedang asyik menikmati penampilan para seniman di atas pentas “Malam Sastra Hanna Fransisca” itu. Sesekali, ia merekam penampilan itu dengan kamera ponselnya. Saat duduk di situ, dekat tangga, saya sempat mengontak Fikar W. Eda lewat massenger, dan mengatakan saya sedang berada di TIM. Ia katanya sedang di Blora bersama Mustafa A. Glanggang, mantan wartawan Serambi Indonesia yang kemudian menjadi (mantan) Bupati Kabupaten Bireun, Aceh. Saya sempat tanya: apakah sedang bersama Zoel Sawang? Nama ini cukup top di Aceh. Selain sebagai pembaca puisi handal — kerap memenangkan berbagai lomba baca pus disana — ia juga Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, sekaligus pernah menjadi anggota DPRD Kota Banda Aceh selama beberapa priode. Sekarang ia berhikmat sebagai advokat. Di DKB, ia disampingi novelis/cerpenis Saiful Bahri (sebagai sekretaris) yang pernah dikenal dengan nama Xenonmicros — gara-gara sebuah novelnya “Terbuai Mimpi” menang lomba novel Balai Pustaka pada 1980-an. Saiful adalah penulis surealis. Novel dan cerpen-cerpennya cenderung posmodernistik. Tak lama, Fikar membalas pesan massanger dan mengatakan akan menuju ke TIM. Tiba di Teater Kecil, ia kembali mengirim pesan. “Aku sudah di Teater Kecil, tapi gak bisa lama-lama, karena harus menjemput anak-anak di Condet.” Menghadapi kata “Condet”, saya jadi ingat novel Ben Sohib berjudul “The Da Peci Code” yang kocak sekaligus tragik itu. Tapi, tentu, anak-anak dimaksud Fikar bukan sedang berada di rumah salah satu tokoh dalam novel Ben Sohib yang bersetting Condet itu. Intinya, begitu menerima pesan itu, saya beranjak mau ketemu Fikar. Rukmi Wisnu Wardhani, penyair yang belakangan lebih sibuk mengurus kebun pertaniannya di Facebook, yang baru ketemu Fikar di bagian depan, menyela langkahku. “Itu ada Bang Fikar di depan,” katanya. “Ya, aku mau ke sana,” balasku. Aku pun beranjak. Fikar lagi serius menonton. Setelah ngobrol sebentar di sana, sambil bisik-bisik (sory ya kalau ada yang sempat terganggu), kami berjalan ke luar. Di depan pintu, kami bertemu Pak Sapardi Djoko Damono, yang malam itu berpidato singkat tentang karya-karya Hanna Fransisca. Sempat mengobrol sebentar, Pak Sapardi pamit pulang. “Rumah saya jauh, di Ciputat,” katanya. Saya ingin menyahut, “Rumah saya lebih jauh pak, di Pamulang”, tapi tidak jadi, he..he… Ingat, jangan suka guyonan sama orang tua. Tapi memang betul, Pamulang itu lebih jauh dari Ciputat. Dari Ciputat, kita harus menempuh sekitar lima kilometer lagi untuk sampai di Pamulang. Kalau bingung, lihat peta di google ya. Kami lalu mengangsir ke salah satu bangku di lobi Teater Kecil. Kami ngobrol tentang rencana Fikar W. Eda yang akan membaca puisi di Bus Transjakarta, Minggu 3 Juni 2012 pukul 14.00. Teman-teman datang ya nanti. Ketemunya di Halte Busway di PGC Cililitan. “Parkir mobil di (mall) PGC, lalu langsung ke halte. Tak perlu keluar PGC. Halte ada di bawah PGC,” ujar Fikar penuh semangat. Pentas itu melibatkan dua kelompok didong, seni sastra tutur dari Gayo, Aceh Tengah. Fikar akan membaca puisi-puisi tentang masalah perkotaan dengan diiringi didong. Pentas itu, menggunakan busway gandeng. Teman-teman wartawan, saya yang diminta Fikar sebagai “humas” dadakan mengundang kawan-kawan untuk hadir ya. Dan silakan mengambil rilisnya di sini ya. Pentas ini adalah ujian akhir Fikar sebagai mahasiswa Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Siapa pengujinya? “Salah satunya Bang Merwan Yusuf,” kata Fikar. “Aku belum ketemu Bang Merwan nih,” ujarnya lagi. “Bang Merwan lagi nonton di dalam,” balasku. “Oh ya?” Lumayan lama juga duduk di lobi. Malam kian tua. “Atau besok aja ya kutelpon Bang Merwan,” katanya. Lalu, aku mengajak Fikar, ayo kita temui saja Bang Merwan. Fikar setuju. Kami pun masuk ke dalam. Begitu melihat kami, Bang Merwan yang dikenal sebagai kurator seni rupa itu melambai, mengajak duduk di kursi di barisannya yang tersisa dua buah. Sebelum sempat duduk, dari kursi penonton di bagian depan kami, Akmal Nasery Basral, melambaikan tangan. Aku lalu duduk paling ujung. Fikar duduk di tengah, antara aku dan Bang Merwan. Di sebelahku, duduk seseorang yang tak kukenal. “Permisi,” kataku padanya. “Iya, silakan,” kata seseorang di sebelahku itu. Siapakah orang di sebelah yang menggunakan kaos putih itu? Mari baca selanjutnya. Fikar sempat berbicara sebentar dengan Bang Merwan, sambil bisik-bisik tentu sehingga aku pun yang di sampingnya tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Tapi bisa kupastikan yang dibicaraka adalah soal pertunjukan Fikar. Bukan soal buah-buahan atau soal ikan depik di Danau Laut Tawar, apalagi soal Lady Gaga yang gagal datang ke Indonesia. Kalau Lady Gaga jadi datang, kali heran juga dia, kok ada ya seniman bikin pertunjukan dalam bus, apa gak takut dimarahin supir bus. Atau jangan-jangan ia justru terinspirasi pengin menyanyi di dalam metro mini. Pendek kata, sebelum acara benar-benar selesai, ia pamit pulang. Kami pun melepasnya seperti pahlawan pergi ke medan perang, diiringi tetabuhan rapai, seurune kalee, dan lagu bungong jeumpa yang dinyanyikan oleh pusukan inong dengan rencong di pinggang. Ups, jangan melamun. Kejadian tidak sedramatis itu. Biasa aja. Fikar pergi, dan saya kembali meneruskan menikmati Hanna yang sedang — di atas pentas — menyelesaikan baca puisinya. Baru ketika Hanna benar-benar menyelesaikan seluruh rangkain acara itu, baru saya meninggalkan kursi. Di lobi Teater Kecil, saya bertemu banyak teman, antara lain Binhad Nurochmad, Esthi Winarni, dan sempat pula ngobrol lama dengan Akmal. Ia bercerita baru saja menyelesaikan novel tentang salah seorang tokoh DI/TII di Aceh. “Sekarang novel itu sedang dicetak,” ujarnya. Obrolan sempat tersela dengan kehadiran beberapa teman lain. Kami lalu sepakat mau ngopi di gerbang TIM. Begitu keluar dari gedung Teater Kecil, aku bertanya: Damhuri kok gak kelihatan? “Itu Damhuri,” kata Akmal sambil menunjuk seseorang yang sedang ngobrol dengan seseorang lainnya di teras Teater Kecil. Setelah bersalamaan dan mengucapkan selamat — karena Damhuri Muhammad salah seorang yang mendukung suksesnya acara Hanna — seseorang berbaju putih datang, dan bersamalam juga dengan Damhuri. Ia menyebut nama, “Arif Gumantia.” Saya tersentak. Pikiranku menerawang ke Facebook. Saya punya teman di facebook dari Jawa Timur bernama Arif Guumantia. Rupanya benar, dialah rekan facebook itu. “Padahal tadi kita duduk jejeran ya,” ujarnya. Aku baru ngeh. Ternyata lelaki berkaos putih yang duduk di sampingku tadi adalah Arif. Kami kemudian memutuskan pergi ke gerbang TIM dan duduk lesehan di “bata merah” — begitu sebagian kawan-kawan menyebutnya. Padahal lantai yang berundak-undak itu bukan terbuat dari batu-bata, tapi dari keramik. Tapi memang warnanya merah. Di sana, akhirnya ngumpul banyak teman. Ada Akmal, Aris Kurniawan, Arif Gumantia, Esti Winarni, Rukmi Wisnu Wardhani, Damhuri, dan beberapa yang lain. Sehabis mengobrol ke sana-kemari, sekitar pukul 23.30, saya dan Akmal pamit, beranjak pulang. Sejumlah kawan lainnya tetap meneruskan nongkrong di sana, entah sampai kapan. Mungkin sampai sekarang. Nggak percaya, coba deh cek ke sana. [musismail.com] Penyair Hanna Fransisca meluncurkan buku di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Selasa malam (29/5) kemarin. Hanna secara bersamaan meluncurkan tiga genre sastra, buku kumpulan puisi “Benih Kayu Dewa Dapur”, kumpulan cerpen “Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” dan naskah lakon “Kawan Tidur”. Pada gelaran yang mengusung tajuk “Malam Sastra Hanna Fransisca” disemarakkan oleh oleh pembacaan cerpen oleh Joni Ariadinata, orasi Sapardi Djoko Damono, musikalisasi puisi oleh Arus Langit dan teater Garasi. Penyair Hanna Fransisca pada malam itu membaca puisi ”Benih Kayu Dewa Dapur” yang diiringi alunan musik etnik Tionghoa, Guzheng. Acara meriah dihadiri oleh sastrawan Abdul Hadi WM, Leon Agusta, Damhuri Muhammad, kritikus .dan para pecinta sastra. Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia), lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 30 Mei 1979. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan naskah drama. Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media antara lain Kompas, Koran Tempo dan Suara Merdeka. Sebelumnya, ia telah menerbitkan kumpulan puisi Konde Penyair Han (2010) yang mendapat pujian dari berbagai pihak. Buku itu kemudian menjadi Buku Sastra Terbaik pilihan Tempo 2010. Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu (Juni 2010). Selain menulis sastra, ia aktif di organisasi sosial dan profesi Lions Club Jakarta Kalbar Prima. Ia juga pengusaha bisnis otomotif dan menetap di Jakarta. Baru-baru ini, ia terlibat sebagai salah satu pelakon dalam pentas teater puisi “Kapal Penyeberangan Hukla” Leon Agusta di Taman Ismail Marzuki, 8-9 Mei lalu. Dramaturgi pertunjukan itu ditulis Afrizal Malna dan disutradarai Aidil Usman. (journalbali.com)

Sabtu, 21 April 2012

Puluhan Murid SD Berprestasi Kunjungi Nissan

Puluhan murid kelas 5 (lima) dengan ranking terbaik dari 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dari SDN I Dangdeur, SDN II Dangdeur, SDN I Cigelam dan SDN II Cigelam mengunjungi Pabrik PT Nissan Motor Indonesia (NMI) di kawasan Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat, baru-baru ini.

Kunjungan yang telah dilaksanakan ke-enam kalinya ini dapat terselenggara atas kerjasama NMI dengan pengurus Japan Club Kawasan Bukit Indah (KBI-JC). Kegiatan ini merupakan salah agenda dari program Nissan for Education, sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkesinambungan dari NMI. Program ini dilaksanakan sebagai wujud komitmen NMI dalam memajukan dunia pendidikan di tanah air yang pada tahun ini kembali difokuskan pada sektor pendidikan.

Dalam kunjungan tersebut, sekitar 24 murid berikut 6 guru pendamping berkesempatan mengikuti kegiatan plant tour. Melalui kegiatan ini, NMI ingin membagi pengetahuan kepada para murid mengenai proses produksi kendaraan Nissan mulai dari proses welding, painting, assembling, hingga vehicle quality control. Selain itu, juga termasuk proses dan prosedur keselamatan kerja yang diterapkan di pabrik Nissan.

“Kami ingin memperkenalkan otomotif sejak dini kepada anak-anak diusia sekolah. Tentunya dengan kegiatan plant tour ini, anak-anak akan lebih mudah memahami dunia otomotif. Di Nissan, kami percaya pendidikan salah satu aspek penting untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Toru Takahashi, Vice President Director Manufacturing NMI, Kamis, Purwakarta.

Di akhir acara, NMI memberikan presentasi mengenai profil perusahaan serta menggelar kuis berhadiah bagi para murid yang pertanyaannya seputar aktivitas plant tour. Aktivitas ini diselenggarakan agar anak-anak bukan hanya sekedar tour saja namun dapat mengingat kembali pengetahuan otomotif yang sudah diajarkan kepada mereka.

“Antusiasme para murid dalam mengikuti kegiatan ini sangat besar. Ini merupakan kegiatan yang menyenangkan, bermanfaat dan memberikan pengalaman baru bagi mereka. Semoga kegiatan ini dapat terus dipertahankan oleh NMI khususnya bagi para murid yang bersekolah di sekitar kawasan pabrik NMI di Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat,” tutup Ela Tati Hayati, perwakilan guru dari SDN II Cigelam Purwakarta. (tim)

Sabtu, 14 April 2012

Pelatihan Menulis Dengan Hati Ala Buddha Tzu Chi

Pelatihan Menulis Dengan Hati Ala Buddha Tzu Chi

Tim 3 in 1 Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menggelar pelatihan jurnalistik, terutama untuk menulis dengan hati. Artinya, calon-calon penulis diajarkan menulis berita maupun artikel bukan dengan laporan lapangan, tapi lebih dulu merasakan kondisi sebenarnya di lapangan. Soalnya materi yang mau ditulis berkaitan langsung dengan nilai-nilai kebajikan dan sisi social kemanusiaan, sesuai ajaran Master Tzu Chi.

“Kami melakukan pelatihan menulis dengan hati ini secara acak, tapi rutin. Ini supaya terjadi roling atau untuk memberi kesempatan calon-calon penulis baru. Karena penulis yang sudah lama akan mendapat pelatihan yang lebih mendalam dan lebih pada penulisan jurnalis umum. Apalagi yang sudah mendapat basic harus ikut naik juga sebagai penulis terampil,” papar Stephen Ang, coordinator acara Pelatihan Menulis Dengan Hati Tim 3 in 1 Yayasan Buddha Tzu Chi usai acara di Book Café Tzu Chi, kawasan Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (14/4).

Menurut Stephen, menulis dengan hati lebih ke arah sosial kemanusiaan. Tujuannya agar orang-orang, terutama relawan Yayasan Tzu Chi mampu membuat tulisan yang ingin dituliskannya menggugah hati pembaca sekaligus penulisnya sendiri. “Jadi Tim 3 in 1, ini berharap agar calon-calon penulis mau merasakan dulu sebelum menulis beritanya. Sehingga akan terharu dan kami ingin membangkitkan cinta kasih sehingga akan lebih banyak lagi orang-orang yang mau membantu sesama bagi kurang mampu,” imbuh anak muda.

Karena tujuannya untuk memberikan bekal akan sisi kebajikan itu, lanjut Stephen, maka siapa pun bisa ikut. Dari segala umur, pria wanita, dari latar belakang apa saja, anggota relawan Tzu Chi maupun masyarakat umum. “Pelatihan ini hanya seperti memberi tips maupun panduan. Di mana intinya, tim 3 in 1 berharap agar calon-calon penulis betul-betul mau merasakan kondisi di lapangan. Sehingga menulisnya tidak hanya laporan lapangan atau hard news. Misalnya, kegiatan pemberian beras bagi yang kurang mampu. Bukan menulis laporan dari kegiatan itu, tapi pengalaman batin yang dirasakannya. Seperti ada nenek-nenek yang antri demi mendapatkan pemberian beras bantuan. Ini,kan,menyentuh sekaligus menggugah namanya. Sedangkan bagi relawan diharapkan mau menuliskan kegiatan di tempat tinggalnya. Sehingga semua kegiatan tercover oleh bulletin Tzu Chi,” kilah.

Makanya, simpul Stephen, yang dimaksud menulis dengan hati adalah sisi dalam penulisnya. Karena itu, materi atau tips yang diberikan dua instruktur gadis cantik relawan Tzu Chi yang tergabung dalam Tim 3 in 1 ini, lebih menekankan pada upaya mau mendengara ceramah dari sang Master Tzu Chi. Kemudian mencatat dan merangkumnya. “Kalau dasar penulis jurnalistik sudah umum. Dari buku-buku juga banyak. Tapi kami lebih menekannya pada menulis dengan hatinya. Seperti mata pelajaran mendengar ceramah Master dan mempraktikan ajaran Master, seperi Benar (Zhen) sesuai dengan kenyataan terjadid, bajik (shan) mengandung nilai-nilai kebaikan dan hal-hal positif, dan terakhir Indah (mei). Artinya menampilkan keindahan budaya humanis, merangkainya jadi tulisan yang indah dan enak dibaca,” timpal Erli Tan, salah seorang pemberi materi pelatihan. (tim)

Minggu, 08 April 2012

Forum Seniman Perempuan, Junjung Bunda Bumi

Selama April—Mei 2012 Komunitas Salihara menampilkan “Forum Seniman Perempuan Salihara: Menjunjung Bunda Bumi”, di mana para seniman perempuan dari berbagai disiplin seni akan mengolah tema-tema tentang tubuh perempuan dan aspirasi perempuan.

Sebagaimana kita ketahui, dalam lima belas tahun terakhir ini makin banyak seniman perempuan berkiprah dalam khazanah kesenian kita. Mereka, para seniman perempuan itu, telah mengubah karakter, wawasan dan lingkungan penonton kesenian kita—dan, lebih luas lagi, bersama dengan gerakan perempuan di bidang-bidang lain, mengubah wacana dan amalan dalam kehidupan sosial-budaya kita.

Dalam “Forum Seniman Perempuan Salihara: Menjunjung Bunda Bumi” akan tampil seniman-seniman perempuan Indonesia terkini dengan karya-karya terbaru mereka. Forum ini adalah mosaik yang padat dari pelbagai tema, bentuk, dan kecenderungan: bahwa gerakan perempuan di lapangan artistik selalu bersifat majemuk dan terus-menerus memperbaharui diri. Dalam arti ini, para seniman perempuan kita, sebagaimana ditunjukkan oleh mereka yang hadir dalam forum ini, selalu mencari sumber-sumber penciptaan baru. Alih-alih bersifat eksklusif—misalnya saja, “memelihara kekhasan dunia perempuan”—mereka selalu melakukan dialog intensif dengan dunia laki-laki, dengan budaya-budaya lain. Di Forum ini juga tampil seniman-seniman perempuan dari mancanegara yang, sebagaimana seniman-seniman perempuan kita termaksud, juga berkreasi secara lintas-budaya.

“Menjunjung Bunda Bumi” adalah tema khusus yang kami lekatkan ke Forum ini untuk menggarisbawahi wawasan lingkungan yang terkandung dalam berbagai kreasi para seniman perempuan itu. Lingkungan termaksud bukan hanya lingkungan alam, tapi juga lingkungan budaya, yang harus dirawat terus-menerus sebagai sumber-sumber terbarukan, untuk melahirkan para pencipta baru di masa depan.

Para seniman perempuan adalah kaum bunda yang dengan tekun, melalui karya mereka, menjunjung dan menghidupi Bunda Bumi, yang telanjur dibuat tidak subur oleh tubuh-tubuh dan aspirasi maskulin selama ini. “Forum Seniman Perempuan Salihara: Menjunjung Bunda Bumi” adalah irisan antara aspirasi keperempuanan di lapangan artistik dan wawasan lingkungan publik.

Eksploitasi terhadap bumi telah menyebabkan kerusakan dan kehancuran lingkungan. Mereka yang merusak berdalih untuk mencari energi dari bumi demi keberlangsungan kehidupan manusia. Pertambangan, pembukaan pemukiman, perkebunan kelapa sawit, dianggap menguntungkan manusia, tapi sebenarnya merusak lingkungan dan mengancam masa depan manusia itu sendiri. Hubungan manusia dengan bumi tidak bersifat linier (lurus dan terputus), dikeruk dan selesai, tapi lebih bersifat siklus (berputar). Apa yang diambil dari bumi akan kembali dampaknya pada manusia. Karena itu, pemanfaatkan bumi tak bisa lepas dari ikhtiar untuk selalu merawatnya. Banyak kearifan lokal yang mencoba merawat bumi tetapi kalah oleh laju deforestasi dari tahun ke tahun. Adakah cara yang ramah dan sehat terhadap bumi, meski kita mengambil energinya tapi tak lantas merusaknya? Apa yang akan kita wariskan kepada anak-cucu kita, ketika kita terus-menerus menguras bumi tanpa bisa merawatnya?

Diskusi ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dari perspektif dua pembicara yang berbeda, meski kita akan menemukan titik persinggungan keduanya. Diskusi akan menampilkan Yani Saloh dan Tri Mumpuni. Yani Saloh adalah aktivis lingkungan sekaligus Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Perubahan Iklim. Sementara Tri Mumpuni adalah penggiat lingkungan yang berhasil mengusahakan energi alternatif dan menerima Ramon Magsaysay Award 2011.

Diskusi ini akan berlangsung di Serambi Salihara, Rabu, 11 April 2012, pukul 19:00 WIB. Terbuka untuk umum, tempat terbatas. (slr)

Telkomsel Gandeng Universitas Indonesia Melakukan Pengembangan Green Data Center

Telkomsel Gandeng Universitas Indonesia Melakukan Pengembangan Green Data Center

Sebagai operator telekomunikasi seluler yang memiliki pasar layanan Broadband serta infrastruktur jaringan terbesar di Indonesia, Telkomsel membangun 45 Data Center (IT & Telco Equipment Room) di seluruh pelosok Indonesia seiring pertumbuhan beragam produk layanan baru. Sebagai perusahaan yang peduli lingkungan dan efisiensi konsumsi energi, Telkomsel melakukan penelitian dan pengembangan Green Data Center yang bekerjasama dengan Universitas Indonesia dimulai pada bulan Februari 2012 lalu.

Ricardo Indra, Head of Corporate Communications Division mengatakan, ’’Untuk mendukung Go Green yang dicanangkan Pemerintah serta mengantisipasi perkembangan ICT yang sangat pesat, terutama aplikasi pengolahan data dan data storage, Telkomsel bekerja sama dengan Departemen Teknik Elektro Universitas Indonesia dalam Roadmap penelitian untuk mengembangkan Green Data Center. Dengan fokus pada fasilitas yang mewadahi perangkat ICT dan infrastruktur penting dari operasional Data Center Telkomsel. Green Data Center merupakan tempat penyimpanan perangkat dengan sistem pendingin, elektrikal, pencahayaan dan IT dirancang untuk memaksimumkan efisiensi energi dan meminimumkan dampak lingkungan. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol lingkungan misalnya AC dan ventilasi, pencegah bahaya kebakaran, serta piranti keamanan fisik.’’

Pada umumnya, Data Center mengkonsumsi lebih banyak energi, seiring kebutuhan akan server berkembang menjadi lebih besar, lebih panas, dan akan berdampak kepada bertambahnya karbon emisi, disertai dengan penggunaan daya listrik dan biaya operasional yang meningkat secara signifikan. Sebuah Data Center besar diperkirakan dapat mengkonsumsi energi listrik sama banyaknya seperti sebuah kota kecil.

Dalam mengembangkan Green Data Center Telkomsel, disusun Roadmap penelitian yang memiliki tiga area kegiatan dan terdapat area utama dari penggunaan energi atau Energy Loss dalam fasilitas ICT. Efisiensi energi tersebut terpusat pada :

1. Peralatan IT dan perangkat lunak dengan konsumsi energi yang rendah, termasuk didalamnya efisiensi Power Supply (Rectifier, UPS & Inverter dll), IT Equipment Fans dan Virtualization.

2. Rantai sumber energi seperti efisiensi UPS dan Trafo, distribusi tegangan tinggi, efisiensi motor, penggunaan daya DC (Direct Current), efisiensi dan kendali pencahayaan, serta penggunaan sumber energi terbaru.

3. Sistem pendingin (Cooling) seperti optimalisasi aliran udara dengan konsep baru desain ruangan yang memisahkan antara udara panas dan dingin, Liquid/Air Cooling (Musicool), pengkondisian lingkungan, penggunaan DC fan (Exhaust Fan), efisiensi kapasitas pendinginan dan optimasi Plant pendingin.

Joint Research ini fokus pada solusi potensial dengan perkembangan teknologi agar tercipta peningkatan efisiensi energi Data Center yang ramah lingkungan. Dan didukung oleh jaringan yang maksimal, Telkomsel secara berkelanjutan melakukan riset dan pengembangan penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan sebagai upaya menjaga kualitas layanan.

Telkomsel juga telah mengoperasikan lebih dari 2.500 BTS Hijau (Base Transceiver Station) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan merupakan BTS Hijau terbanyak di Asia. BTS Hijau tersebut terdiri dari 2 kategori, yaitu BTS yang memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif ramah lingkungan untuk menghasilkan tenaga listrik bagi BTS dan BTS yang mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan dari sisi konsumsi listrik serta estetika lingkungan. Teknologi BTS hijau tersebut dapat menurunkan penggunaan daya listrik sampai dengan 52% dengan konfigurasi maksimal.

Selain upaya menghadirkan teknologi yang ramah lingkungan seperti Green Data Center dan BTS Hijau, Telkomsel fokus pada pengembangan jaringan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan memaksimalkan 44.000 BTS Existing, Mapping penambahan BTS dan upaya mendapatkan penambahan frekuensi dalam memberikan kualitas kecepatan layanan data dengan tingkat delay yang rendah namun tetap ramah lingkungan. (hms)

Rabu, 21 Maret 2012

Kemenkop Kembangkan Inkubator bisnis di Perguruan Tinggi

Kemenkop Kembangkan Inkubator bisnis di Perguruan Tinggi

Pertumbuhan jumlah kewirausahaan Indonesia sudah mengalami peningkatan pesat dibanding tiga-lima tahun sebelumnya. Atau sekarang rasionya 1,56 persen dari jumlah penduduk Indonesia 250 juta lebih. Pertumbuhan ini diyakini Menteri Koperasi (Menkop) dan UKM Syarif Hasan, tak lepas dari sumbangan incubator bisnis di perguruan tinggi (PT). Karena itu, Syarif mendorong pihak akademi untuk terus melanjutkan program incubator bisnis ini.
“Pertumbuhan rasio kewirausahaan sebesar 1,56 persen saat ini, belum cukup atau masih sedikit dibanding negara-negara lain. Karena rasio ideal jumlah wirausaha dengan jumlah penduduk adalah dua persen. Seperti Singapura dan Malaysia saja, sekarang rasio mereka di atas lima persen. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia saat masuk kategori bagus,” papar Syarif Hasan, Menkop dan UKM dihadapan peserta incubator bisnis dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia di auditorium Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (20/3).
Menkop dan UKM bertekad akan mencanangkan incubator bisnis ini menjadi gerakan sebagaimana Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN), sehingga menjadi Gerakan Inkubator Nasional nantinya. Karena itu, Syarif meminta kalangan rector yang hadir untuk ikut mensosialisasikan incubator bisnis ini supaya familiar. “Kalau perlu, lakukan evaluasi terhadap nama terminology incubator. Apa sudah familiar atau belum? Seperti entrepreneur, karena tidak familiar, sekarang lebih dikenal dengan nama kewirausahaan. Walaupun arti secara harfiahnya, katanya, tidak tepat. Tapi karena entrepreneur memberi arti kemampuan seseorang untuk menciptakan suatu barang untuk usaha, maka bisa disamakan dengan kewirausahaan. Nah, jadi apa sebenarnya incubator itu, harus dicari terminology. Kalau memang sudah familiar, tidak masalah. Ini jadi tugas kita bersama untuk membuat lebih familiar lagi,” pinta Syarif pada acara yang dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Joko Santoso.
Dalam kesempatan itu, Syarif meminta para rector untuk ikut memberi pengertian nmahasiswanya agar tidak melakukan demontrasi menentang kenaikkan BBM (Bahan Bakar Minyak). Menurut Syarif, tujuan kenaikan BBM bukan untuk menyelematkan APBN, tapi justru untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia yang sedang baik ini. “Karena kita masuk dalam salah satu Negara denagn ekonomi baik, maka ini perlu kita selamatkan. Salah satu caranya menaikkan BBM. Pemahaman ini perlu diketahui kalangan rector, walau forum rector sudah setuju atas kenaikan BBM ini,” pintanya.
Dirjen Dikti Kemendibud, Joko Santoso menambahkan, sekarang sebenarnya ada 60-90 juta entrepreneur di Indonesia. Entrepreneur yang ada di pinggir-pinggir jalan atau yang lebih dikenal dengan pedagang kaki lima (PKL), justru tidak merepotkan pemerintah. Karena mereka jalan sendiri dan mandiri bahkan malah jadi penopang ekonomi bangsa. “Tulang punggung ekonomi Indonesia ada pada PKL. Masalah tercatat, tidak tercatat, itu yang harus dicatat. Pemerintah akan mengindentifikasi, mencatat, dan merestrukturisasi usaha-usaha PKL. Kelemahan mereka hanya teknik atau cara jual barang. Karena mereka selama ini pakai teknik sendiri. Nah, itulah yang perlu direstrukturkan untuk bisnis. Pemerintah dengan instansi terkait harus melakukannya, terutama dalam hal marketing. Jadi tidak hanya membiayai mereka, terutama kalangan incubator di perguruan tinggi,” paparnya.
Deputi bidang Pengembangan Usaha dan Restrukturisasi Chairul Djamhari mengatakan, sekarang ada dua masalah yang dihadapi incubator di perguruan tinggi. Pertama masalah konsep pengembangan incubator bisnis belum rinci dan detail. Kedua belum ada paying hokum yang jadi titik toal bagi incubator untuk berkembang. “Sebanyak 15 inkubator perguruan tinggi dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi telah melakukan presentasi akhir. Mereka diseleksi terkait teknis proposal, program yang menunjukkan input, proses, dan output atas komitmen awal yang dilakukan. Berdasarkan survey dan identifikasi, maka ada dua masalah yang paling menonjol pada incubator,” lapor Chairul Djamhari sebagai penyelenggara.
Selain itu, penilaian incubator diharapkan menjadi tiga tahun. Karena tahun pertama tahap pres inkubasi, proses, dan pasca. Tapi karena terkendala anggaran, maka baru akan dilaksanakan tahun 2013. “Parameter nilai juga spesifik. Karena pesertanya ada yang ABG, pemuda, dan yang sudah berpengalaman. Lazimnya penilaian pada incubator tiga tahun. Tapi karena kendala anggaran, akhirnya setiap tahun saja. Ini akan dialokasi menjadi anggaran berkelanjutan per tiga tahun,” pungkas Chairul. (tim)

Senin, 19 Maret 2012

Erotika dalam Alkitab: Kidung Agung, Gairah dan Eros

Pembicara Seri Kuliah Erotika dan Tubuh, Septemmy Lakawa, dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta di Salihara, Sabtu (17/3)

Jadilah pelaku firman bukan sekadar penghafal firman, itulah ungkapan Sudjiwotedjo, budayawan dalam account twitter @ Sudjiwotedjo.
Ungkapan ini mungkin tepat untuk membahas makna ajaran Kidung Agung (KA) alkitab dalam perspektif gereja Kristen Protestan. Diskusi tentang KA dibahas dalam kuliah umum tentang Erotika di Komunitas Salihara, Jakarta,Sabtu,(17/3). Pembicara kali ini Septemmy Lakawa, dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Doktor alumni School of Theology Boston University, Boston, MA, AS, selain mengajar juga menjadi pendeta di Jakarta. Tema bahasan kali ini tentang “Erotika Dalam Alkitab: Kidung Agung, Gairah Dan Eros”.
Kitab KA sendiri di tulis oleh raja Salomo. Kitab ini di anggap ‘kontroversi’ karena membicarakan hal-hal yang bersifat “erotis” dan tabu, tidak seharusnya masuk ke dalam Alkitab. Isinya penuh dengan ungkapan “erotisme” yang di gubah dalam syair-syair halus dan indah. Barangkali oleh karena tema cinta muncul dalam kitab ini, maka beberapa seksolog dan penasihat pernikahan Kristen menggunakan kitab ini sebagai referensi kehidupan seks dalam pernikahan. Sehingga kitab ini menjadi bacaan “khusus dewasa” diyakini oleh sebagian umat Kristen, ungkap Septemmy Lakawa.
Padahal Septemmy menyatakan ketika membaca makna KA jangan dulu bicara lembaga perkawinan, yang penuh aturan dalam agama ataupun negara. Erotika yang dibahas dalam KA penuh dengan “simbol” atau perumpaan tanpa “klimaks” yang dapat ditafsirkan oleh siapapun sedemikian “bebas” dalam konteks ruang dan waktu. Karena kebebasan itulah kemudian lembaga agama (yang didalamnya ada tokoh-tokoh agama) “mengatur/membimbing”sedemikian rupa tentang makna yang terkandung dalam KA tersebut.
Menurut penulis, tujuan pengaturan itu tidak lain untuk “penundukan” atau alat kontrol institusi agama terhadap tubuh individu yang menyangkut soal sex dan mistik (baca spitualitas).
Dari situasi itu, maka kemudian lahir aturan-aturan yang sedemikian rupa dalam soal tubuh dan sex didalam ajaran agama sampai kebijakan negara mengacu pada pandangan agama. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang suci dan mana yang kotor. Jelas terpisah dengan tegas antara “Zina” dan perkawinan sah yang dianggap suci. Hal ini dilakukan agar umat tidak “liar” terhadap sex dalam memaknai KA, ungkap Septemmy.
Padahal pertanyaan dasarnya siapa sebenarnya yang “liar” memaknai KA, cara berpikir lembaga agama (dengan seperangkat orang dan aturan) atau umatnya? Penulis berpendapat lembaga agama terlalu “angkuh” mengatur tubuh,sex dan spritualitas umat dengan kaca mata “mereka” tanpa pernah berangkat dari pengalaman masing-masing umat. Semestinya lembaga agama tidak berpikir, “bukan seharusnya menjadi apa,tapi yang penting apa yang terjadi”. Artinya berangkat dari pengalaman individu umat, ungkap Septemmy.
Selama ini pengalaman manusia selalu diabaikan tentang sex, karena pengalaman umat selalu dianggap “liar” atau “amoral” oleh pandangan lembaga agama. Padahal setiap manusia punya makna berbeda-beda tentang sex, kenikmatan dan spiritualitas yang tidak selalu harus masuk dalam lembaga perkawinan ala “agama” yang heterosentris (kebenaran hanya heteroseksual).
Septemmy menegaskan KA bermakna seksualitas sebagai bagian integral (menyatuh) dari spitualitas atau ketuhanan. Ketika manusia dapat memahami seksualitas secara meyeluruh dalam KA, maka akan lepas dari semua identitas apapun. Saat itulah tubuh,sex, nafsu dan keilahihan menyatu dalam Eros. Eros yang dimaksud sebagian pihak menyakini sang Kristus itu sendiri. Yang tidak lagi melihat phisik,suku, agama, jenis kelamin,orientasi seksual, identitas gender, warna kulit, berat badan dan segala indentitas. Semua lepas dan meyatu dalam makna Eros ketuhanan itu. Saat itulah, diri kita yang tak beridentitas telah “bersetubuh” dengan yang transendental (baca sang khalik/Tuhan). Penuh dengan kasih dan cinta, tanpa eksploitasi dan diskriminasi satu dengan lainnya.
KA bukan kitab tentang kehidupan teknis tentang sex,praktik seksual,apalagi tentang perkawinan. KA sebuah bentuk imajinasi puitis-erotis dalam seluruh kompleksitasnya. Bukankah yang erotis juga dapat menjadi politis!
Erotisme didalam KA melampuai batas-batas gender dan seksualitas. Karena gairah dan hasrat yang merupakan bagian dari erotisme sebagai sumber teologis untuk memahami makna Tuhan. Bukankah Yesus juga sexy! Sehingga pendeta juga diizinkan sexy, ungkap Septemmy menutup kuliah umumnya malam itu. (ourvoice)

Selasa, 13 Maret 2012

Islamic Book Fair (IBF) 2012, Ajang Pameran Buku Islami Terbesar se-Asia Tenggara

Kita patut berbangga dan bersyukur, karena event sekaliber Islamic Book Fair (IBF) itu bisa terselenggara di negeri tercinta ini. IBF diklaim sebagai ajang pameran buku Islam terbesar se-Asia Tenggara. Hal ini cukup beralasan, mengingat pameran buku Islam terbesar di dunia sampai saat ini masih diampu oleh Cairo International Book Fair, Pameran Buku Internasional Kairo, Frankfurt, Mesir.

Konon, pameran buku internasional Kairo mampu menyedot lebih dari dua juta pengunjung setiap penyelenggaraannya. Secara rutin, pameran buku Islam di Mesir itu diselenggarakan setiap tahunnya pada akhir Januari, dan menjadi ajang promosi, silaturrahim antar penerbit, serta bertemunya para penulis Islam dunia.

IBF 2012 yang berlangsung sejak 9-18 Maret 2012 nanti, di Istora Senayan Jakarta itu mengusung tema "Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qur'ani". Sekaligus merupakan IBF yang ke-12 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2001. IBF tahun ini dirasa paling mewah, karena kali ini dalam penyelenggaraannya dimeriahkan oleh beberapa negara partisipan, seperti Arab Saudi, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Turki. Berdasarkan list panitia, tercatat 350 penerbit yang terbagi ke dalam 396 stand ikut serta dan menyukseskan kegiatan ini. Panitia menargetkan 400 ribu pengunjung dan 2600 buku laku terjual dalam IBF tahun ini.

Dalam perkembangannya, IBF selalu mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Sebagai perbandingan, pada saat mula IBF diselenggarakan sebelas tahun silam, yang ikut berpartisipasi hanya 60 penerbit, dan pada tahun ini, meningkat lima kali lipat lebih. Ini patut dicatat sebagai salah satu prestasi dalam sejarah perjalanan IBF. Prestasi tersebut diraih bukanlah tanpa usaha, sebab panitia sudah berjibaku dalam merangkul dan mengajak para penerbit buku Islam di Indonesia agar meramaikan perhelatan ini. Di samping itu, promosi dan kerja sama dengan pelbagai pihak, terutama pemerintah dan intern Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), juga menjadi indikator penentu dalam prestasi penyelenggaraan IBF tahun ini.

Inisiatif penyelenggaraan IBF di Indonesia dilatarbelakangi oleh keterpurukan industri perbukuan yang diakibatkan badai krisis moneter pada 1998. Hingga tahun 2000, imbas krisis itu masih belum pula reda, bahkan menurut data keanggotaan IKAPI, 30% lebih dari anggotanya gulung tikar alias tidak beroperasi lagi. Sisanya masih bertahan, dan yang masih bertahan itu mayoritas ialah para penerbit buku Islam. Atas dasar itu, kemudian muncul ide untuk diselenggarakannya pameran buku Islami. Ide ini lahir dari diskusi kelompok kerja Buku Agama Islam di IKAPI Jakarta.

Jargon "dari penerbit, oleh penerbit, untuk masyarakat buku Indonesia" seolah menjadi spirit dan ruh bagi hidupnya IBF, dulu dan kini. Awalnya hanya bertujuan untuk mengejar profit semata dengan cara mengintensifkan promosi dan perluasan pemasaran. Akan tetapi, kini IBF menjelma menjadi payung raksasa yang memiliki tujuan mulia, menyediakan buku-buku Islami berkualitas, dan ikut mengawal Indonesia pada budaya baca menuju kemandirian, keunggulan bangsa di masa depan.

Tidak salah kiranya, jika kemudian Prof M Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyebut, pagelaran IBF membangun empat pilar budaya, baca, menulis, berbagi, dan menghargai. Mendikbud juga mendukung sepenuhnya wacana Jakarta Internasional Book Fair yang rencananya mulai digelar tahun depan. Hal itu disampaikan Mendikbud sesaat sebelum beliau membuka secara resmi IBF 2012, pada Jumat (9/3) lalu.

IBF, dengan demikian, bukanlah ajang pameran buku semata, akan tetapi momentum bagi para penerbit untuk saling memperkenalkan dirinya kepada masyarakat, ajang untuk terus berinovasi menjadi yang terbaik dan menelurkan produk-produk berkualitas, serta wadah bagi bersilaturrahimnya antar penulis buku Islam, dan antara penulis dan pembacanya.

Penyelenggaraan IBF diharapkan mampu menjadi daya tarik dan barometer buku-buku Islam, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Bagi Anda yang mukim di Jakarta dan sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, jangan ketinggalan untuk berkunjung ke stand-stand penerbit yang Anda inginkan, guna memburu buku-buku dengan diskon yang bervariatif. Anda juga akan dimanjakan oleh berbagai kegiatan berhadiah. Di samping itu, Anda pun berkesempatan bertemu dengan para penulis buku Islam secara face to face dan mendapatkan tanda tangannya.

Sederet fasilitas lain yang sudah disiapkan oleh para penerbit pun siap menyambut Anda. Salah satunya, mendapatkan 10 e-book gratis dari salah satu penerbit, hanya dengan membawa smartphone sebagai media penyimpanan, atau alat penyimpanan lain seperti flashdisk. Tidak hanya sampai di situ, karena IBF dari tahun ke tahun selalu didisain dengan konsep yang padu antara religi, wisata, dan edukasi.

Kendati buku-buku yang dijual dengan harga lebih murah dari biasanya, alias didiskon. Namun, hal itu tidak membuat penjual buku merugi. Pasalnya, jumlah buku yang terjual lebih banyak dari biasanya. Sedikitnya dalam sehari, ratusan buku dapat terjual dalam pemeran tersebut “Alhamdulillah untung, pembelinya lebih dari target. Target sehari Rp 3,5 juta dapatnya Rp 4 jutaan. Buku yang saya jual didiskon 20 persen. Tapi, Alhamdulillah masih ada untungnya. Ini pertama kalinya saya ikut berjualan di IBF, Alhamdulillah menguntungkan,” ujar Varhan (21), salah satu penjual buku di IBF 2012 saat berbincang dengan Republika, Sabtu (10/3). (ibf)

Minggu, 11 Maret 2012

Erotika: Tubuh, Nafsu Dan Spritualitas

Erotika: Tubuh, Nafsu Dan Spritualitas



Jakarta. ourvoice.or.id – Erotika tidak perlu belajar dari Barat,karena sudah mengakar ada di Nusantara. Erotika di masyarakat Indonesia, ibarat bahan pangan seperti beras,gula atau garam yang dimport dari Barat,padahal sudah ada berabad-abad di Indonesia. Bahkan sebelum kolonial dan agama-agama “import” datang ke bumi Nusantara.
Kira-kira begitu ungkapan Elizabeth D.Inandak, penyair asal Perancis yang menterjemahkan dan menafsirkan kembali sastra Serat Centhini (SC). Karya “ulang” itu diberi judul Centhini,Kekasih Yang Tersembunyi. Melalui karya ini, Elizabeth banyak mendapatkan apresiasi oleh intelektual di Indonesia. Diantaranya mendapatkan anugerah Lietary Prize for Asia (2003) atas karya tersebut. Kali ini Elizabeth untuk kedua kalinya memberikan kuliah umum tentang Centhini di Komunitas Salihara, Jakarta, Sabtu (10/3/2012). Kegiatan ini bagian dari rangkaian kuliah umum di Komunitas Salihara tentang Erotika pada Maret 2012.
Serat Centhini sendiri sastra yang sering dijuluki sebagai karya adiluhunng yang erotik sekaligus mistik (religius). Tembang-tembangnya banyak berisi tentang persoalan seksualitas sampai yang paling intim dan “operasional”. SC ditulis pada masa Pangeran Amangkunegara III yang menjadi Pakubuwono V di Solo (1820-1823 M). Penulisnya tiga orang pujangga, Sastranagara-Ranggasustrasna-Sastradipura. SC terdiri dari dua belas jilid, sembilan buku, 152 tembang dan 4.000 halaman. Semua sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Cerita dalam SC menampilkan tokoh Amongraga yang menikah dengan Tambanglaras. Sedangkan tokoh Centhini sebagai pendamping atau “pelayan” setia Tambanglaras. Menurut Elizabeth tokoh Centhini sering dianggap “misterius” karena bukan tokoh “besar” dalam cerita SC. Tetapi tokoh Centhini seorang “pelayan” yang sangat abdi, setia dan menampilkan sosok yang penuh dengan “kesempurnaan” dan keserdahanaan sebagai manusia. Mungkin tokoh Centhini sebagai simbol dari semua cerita keseluruhan dalam karya SC.
Selain itu, SC memberi pesan bagaimana menjadi manusia dapat memadukan antara nafsu, syahwat dan spritual menjadi satu kesatuan. Menurut Elizabeth situasi ini disebut dengan “Erotisme tingkat tinggi”. Dimana tidak lagi melihat seksualitas sebagai sesuatu yang kotor, hina dan tidak terjebak pada kepuasan tubuh dan nafsu belaka. Tetapi lepas dari sekat-sekat identitas apapun, termasuk identitas kelamin ataupun orientasi seksual, tegas Elizabeth. Hal ini seperti yang ada dalam tembang 72 SC, Empat Puluh Malam Dan Satunya Hujan. Sang tokoh suami-istri (Amongraga dan Tambangraras) melewati 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh (penetrasi) yang akhirnya menjadi satu kesatuan.Berikut isu tembangnya ; Dikamar pengantin, angin diam mengembus kandil. Ini malam ke-39. Diranjang bidadari, Amongraga dan Tambangraras tidak lagi melihat ketelanjangan masing-masing maupun jarak pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan maupun buritan, raib pula garis batas air.
Dalam empuk hangat kegelapan, mereka merasa makin lebur menyatu tubuh. Mereka saling menjadi yang lain dan pasrah keduanya pada dekapan keremangan. Suara mereka pun mengalir yang satu dalam yang lain dan juga dalam yang kian pasang.(Tembang 72)
Dalam makalah Elizabeth ditegaskan, dari malam ke malam, erotik dan mistik, tasawuf dan Asmaragama berkembang berbarengan sehingga pada akhirnya mistik terbakar oleh api erotika dan erotika terbakar oleh nyala mistik. Dua-duanya musnah. Yang tersisa hanya cahaya. Cahaya sayap-sayapnya sang Eros.

Tembang-tembang SC banyak bercerita tentang hubungan seksual dari mulai hal yang “liar” dari seksualitas perempuan sampai praktek hubungan seksual sejenis. Sehingga dari pengalaman Elizabeth ketika melakukan riset tentang SC untuk memintah bantuan para tasawuf/tokoh agama Islam di Jawa, para ulama keberatan ketika diminta mentejemahkan bagian tembang SC khususnya cerita-cerita tentang seksualitas yang dianggap terlalu vulgar pada konteks kekinian.
Ini beberapa tembang yang dianggap sangat vulgar dan sangat “operational”;…Jayengraga (laki-laki) berkata kepada Banem (perempuan): ” Karena kamu yang mau, lakukan sesukamu.” Mendengar ucapan itu jantung Banem berdegup, tak pernah seorang laki-laki mempertaruhkan diri kepadanya. Ia menyingkap sarung Jayengraga dan memegang zakarnya, besar dan panjang walau masih menggelantung. Ia belum pernah melihat barang seaneh itu. Banem bertanya kepada Jayengraga : ” Dan sekarang, apa yang harus kulakukan?”. “Wah! Aku tidak tahu. Yang kepingin yang memimpin.” Jawab Jayengraga. (Tembang 127)
Selain itu masih ada tembang yang bercerita praktek hubungan sejenis; …..Cebolang (laki-laki) berkata: “Kutunggu petunjukmu.” Seorang Warok berkumis menyuruhnya menanggalkan sarungnya, ia menggenggam batang Cebolang dan mengelusnya tanpa henti melancarkan rayuan gombalnya. Cebolang terpesona karena batangnya cepat mengeras ditangan wangi sang Warok : ” Selama hidup belum pernah kulihatnya begitu besar!” Sang Warok menyodorkan pinggulnya yang lebih luwes. Kemudian Cebolang menghunjamkan lingganya yang bimbang ke dalam gua tempat bergema ketidakmampuan sang macan dan ejekan rebana reog. Semua bersetubuh seperti kucing jantan dan betina…. (Tembang 48)
Bahkan adegan sejenis antara Cebolang dengan seorang Adipati juga digambarkan dalam karya SC ini ; Adipati membisikan dengan menggelitik kepada Cebolang; “Aku ingin tanya kepadamu, mana yang lebih nikmat, menunganggi atau ditunggangi? Bedanya gimana?” Cebolang menjawab tertawa: “Sesungguhnya, perbedaannya sangat besar, lebih nikmat yang ditunggangi, tiada bandingnya. Bila yang memasukannya pintar, nikmatnya menjalar ke seluruh tubuh, dari dasar bol ke semua saraf otak yang kepayang. Seluruh nadi silau detaknya jantung dan bahkan sumsum di tulang gemetar. Daging membara dan orang dapat merasakan tubuh nurnya. Adipati tampak tergoda: “Benar yang kamu katakan? Ayo kita buktikan omonganmu!” Cebolang membujuknya dengan kata-kata lembut sambil meraba tebing-tebing curam duburnya. Sang Adipati bagai terguna-guna, lupa ia pria, merasa menjadi perempuan, sarungnya melorot, batang Cebolang kerja keras menerobos jalan masuknya. Ia lalu membaca salah satu rapal konyol rahasianya. Zakarnya semakin mengeras dan akhirnya amblas ke lubang yang disodorkan itu. Si Adipati terloncat, pandangan nanar, semua terasa berputar. Cebolang menyogoknya hingga ambang diri. Adipati berteriak: “Sudah! Jangan! Cukup! Tarik kembali lelemu dari jambangku!” (Tembang 52)
Begitulah beberapa isi tembang dalam SC yang dinilai sangat sensual dan erotis. Sehingga jika kita membacanya sepotong-potong dan tidak dikaitkan secara menyeluruh pesan karya ini, maka akan terkesan ini sebuah karya yang “porno”. Hal ini juga ditegaskan oleh Elizabeth, bahwa membaca karya SC tidak boleh hanya mengambil adegan-adegan “seksualnya” saja. Tetapi harus melihat makna keseluruhan yang memadukan antara nafsu dan mistik. Sehingga melahirkan “erotika tingkat tinggi” yang melepas dari sekat apapun. Seksualitas berpadu dengan spritualitas menjadi Eros, ungkap Elizabeth dalam buku tersebut.
Kita bisa bayangkan ketika tembang-tembang SC ini dihadapkan pada Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi pasal 1, meyebutkan: Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.
Dari definisi itu, bagaimana nasib tembang-tembang itu yang merupakan karya tulisan? Apakah kemudian karya besar itu akan dianggap sebagai barang pornografi?
Sepertinya para pembuat UU pornografi lupa akan kesejarahan bangsa sendiri. Sekarang ini, kita seperti dihadapkan pada soal ajaran Islam yang “buta”. Padahal jelas dalam SC memaduhkan pendidikan sex dan seni bercinta dalam konteks ajaran Islam serta budaya Jawa (yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha).
Pesan utama karya SC, yang paling penting dalam melakukan hubungan sex harus dijunjung tinggi kesetaraan, keadilan, bukan hubungan seks yang eksploitatif. Sehingga pelecehan seksual, pemaksaan hubungan sex, pemerkosaan diruang publik maupun private bukan erotika yang diajarkan dalam karya SC ini. Alasan itulah SC ini dinilai sebagai karya sastra yang sangat adiluhung.
Karya SC ini juga pernah diteliti oleh Dr. Mohammed Rasjidi dalam disertasinya berbahasa Perancis, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Pertimbangan Kritis Dalam Centhini (1956). Sayangnya penelitian itu belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Rasjidi sendiri pernah menjadi menteri agama pertama RI masa pemerintahan Soekarno. Menurut Elizabeth, walau Rasjidi sendiri banyak tidak setuju makna didalam SC, tetapi melakukan kritis dan dialog dengan isi SC merupakan sikap yang sangat bijaksana.
Sepertinya kita (masyarakat Indonesia) mulai “mengingkari” kebudayaan, sejarah seksualitas di Nusantara Indonesia. Malu mengakui akan sejarah dan kebudayaan sendiri. Indikasinya banyak lahir kebijakan ditingkat nasional maupun daerah yang selalu menampilkan seksualitas manusia sebagai sesuatu kotor sehingga layak diredam. Lagi-lagi budaya Barat selalu dijadikan “kambing hitam” atas “kekotoran” erotika itu. Padahal sejarah budaya Barat penuh dengan moralis dan peredaman Erotika dan Mistik, berbeda dengan budaya Nusantara.
Dan yang paling ironis, kita sebenarnya sedang mengingkari kebertubuhan diri sendiri, sebagai manusia sensual sekaligus spritual. Padahal dua hal itu sesuatu yang sangat intim ada dalam diri manusia, apapun bentuk dan namanya. Mudah-mudahan dengan diangkat kembali karya besar SC ini dapat menjadi bahan renungan bagi setiap orang tentang makna Erotika, sex,tubuh dan spitualitas. (Hartoyo/jurnal todopoli)