Senin, 18 Juni 2012
Jumat, 15 Juni 2012
Kecemburuan Masyarakat Teater pada Media Massa Besar
Telkomsel Gelar Diskon di Jakarta Fair 2012
Kekuatan Pentas ”Nabi Kembar” pada Komedi Slapstik
Apakah pertunjukan teater yang membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak itu otomatis produksinya bagus? Sudah pasti. Tidak pakai tergantung. Analisanya, bentuk komedi ada tiga kelompok, komedi situasi, slapstik, dan lawak. Tidak ada yang salah dari ketiganya atau saling melemahkan. Walau kalau yang bersifat slapstik cenderung dinilai lebih murahan. Karena yang slapstik bisa ada di dalam komedi situasi apalagi di lawak. Slapstik artinya, kekonyolan. Seperti orang yang jatuh dari kulit pisang di lantai atau jalanan.
Karena pertunjukkan teater itu bersifat statis, tidak seperti film atau sinetron yang dinamis. Sehingga diperlukan keterampilan sutradara maupun penulis naskah untuk bisa membuat tertawa penonton. Tujuannya supaya penonton punya waktu untuk menyegarkan otak dan perasaannya atas keseriusan pertunjukkan. Karena itu, sutradara atau penulis naskah komedi relatif lebih sulit dibanding memproduksi yang nonkomedi. Komedia situasi seperti film-film karya Nyak Abba Acub (Inem Pelayan Seksi) atau film karya Chairul Umam, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan paling fenomena film Nagabonar karya Asrul Sani.
Pada pertunjukan teater yang paling gress adalah teater Amoeba dari Jakarta Barat yang mementaskan naskah bertajuk Nabi Kembar, karya Slowomir Mrozek terjemahan Jum’an dan disutradarai Join Bayu Winanda. Naskah dengan grup ini dipilih komunitas Salihara, tak lepas tentunya dari keberhasilan mereka mencetak predikat juara I pada Festival Teater Jakarta (FTJ), 2010. Namun sukses ini pula yang sekaligus membuat pertunjukkan di Salihara, pada Jumat-Sabtu (8-9/6), lalu, tidak mantap lagi seperti penampilan mereka di final FTJ. Ini bisa dimaklumi. Karena persiapan mereka akibat mengikuti FTJ 2011. Artinya, Teater Amoeba kembali menyiapkan selama satu tahun naskah Tikus dan Manusia karya John Steinbeck untuk tampil di FTJ 2011 dan terbukti, grup ini kembali merebut gelar juara umum di FTJ tahunan yang sudah berusia 30-an tahun.
Lain hal kalau Salihara, meminta Teater Amoeba mementaskan kembali naskah Tikus dan Manusia. Sehingga malah lebih kental. Sedangkan pada naskah Nabi Kembar, Teater Amoeba mau tidak mau dipaksa membangkitkan memori dan menyesuaikan kondisi gedung yang sedikit banyak mengalami perubahan. Semua inilah yang terlihat membuat pementasan Teater Amoeba tidak menggigit. Walaupun tidak perlu membandingkan dengan pementasan terdahulu di ajang festival, tapi secara peristiwa pun dapat terasakan jika pementasan itu kehilangan sisi humorisnya. Ironisnya lagi, slapstick-slapstik, terutama lontaran beberapa dialog yang ingin dicapai untuk menciptakan bahan penonton tertawa tidak berhasil.
Terkait pentas komedi situasi dapat dipinjam pementasan dari Teater Stasiun di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), pada 24 Mei 2012. Pementasan bertajuk Repertoar Sabun Colek karya dan disutradarai sendiri Ediyan Munaedi layak disejajarkan dengan film-film Nyak Abbas Acub tadi. Setidaknya penciptakan situasi komedinya yang bisa dibayangkan dalam film Nagabonar. Atau dalam pertunjukan teater lain pada naskah Mentang-Mentang dari New York karya Norca ANM Massardi. Siapapun sutradara dan grup maupun di mana naskah-naskah macam ini dipentaskan, sutradara tidak terlalu sulit untuk menciptakan rasa komedinya. Justru sutradara tinggal mengentalkan atau mengeksplorasai adegan untuk mendapatkan hasil-hasil kelucuannya.
Kembali pada pentas Nabi Kembar, memang tidak disalahkan bentuk-bentuk slapstick yang diciptakan sutradara karena bertujuan mendapatkan kelucuan. Apalagi sekarang menggejala bentuk-bentuk pementasan yang sisi kelucuan dominant atau setidaknya berhasil mengimbangi persentase keseriusan yang telah membuat otak memeras maksud dan tujuan semiotiknya. Karena memang suatu kesulitan besar bagi grup maupun sutradara untuk membuat penonton sabar duduk menonton pertunjukan serius dengan durasi di atas satu jam. Tapi kosenkwensinya, keberhasilan itu akan menyempurkan level perrtunjukkannya.
Nabi Kembar mengisahkan cerita seorang wali yang menghadapi masalah berat. Di Istananya muncul sepasang Nabi Kembar, sama rupa dan sama pintarnya yang mengkhotbahkan jalan keselamatan. Untuk mengatasi kesulitan ini, wali memanggil tiga profesor dan memintanya untuk memastikan Nabi mana yang benar-benar asli dan layak dipercaya. Sementara rakyat sudah berkumpul di depan istana, menunggu kepastian. Akan tetapi, tiga profesor itu tidak bisa memutuskan. Akhirnya profesor mengambil jalannya sendiri menyuruh Juru Sita untuk membunuh salah satu Nabi. Setelah membunuh Nabi, Juru Sita malah ketagihan dan membunuh satu Nabi lainnya. Keadaan jadi kacau dan Wali mesti mempertanggungjawabkan keadaan ini kepada rakyat yang terus menunggu. Akhirnya rakyat murka dan menerobos istana. Anarki terjadi dan korbannya adalah para profesor danWali. Hanya Juru Sita yang selamat.
Lewat Nabi Kembar, Teater Amoeba mencoba menafsir kembali kekacauan politik di Polandia saat diduduki Rusia yang dibayang-bayangi oleh sosok Ratu Adil. Kekerasan politik berbanding lurus dengan tipu muslihat penguasa dan pembunuhan mereka yang dianggap menghalangi sang penguasa.
Jika Mrozek menghadirkan publik yang marah dengan simbol suara-suara dari luar istana, Teater Amoeba menghadirkannya di atas pentas sebagai kelompok demonstrans di gedung istana dengan gerakdan bunyi-bunyian sebagai simbol kemarahan. Dengan slide pendudukan gedung DPR/MPR Senayan oleh mahasiswa, pada 1998, panggung dipenuhi oleh para demonstran yang membuat riuh dengan cara memukuli kerangka scaffolding. Selain itu, ada juga tentara, tokh yang bertugas mengabarkan kejadian di luar istana,termasuk penembakan sempat orang demonstran dan perusakan pagar istana yang harganya miliaran rupiah itu. Eksplorasi bunyi-bunyian komedi bernuansa blues dihadirkan sebagai penguat ide artistik secara keseluruha. Termasuk dalam menampilkan adegan pembunuhan yang semula keji menjadi penuh humor dan parodi. Dengan gaya seperti ini, Teater Amoeba mencoba menempuh siasat untuk menampilkkan teater politik tidak semata-mata sebagai teater yang penuh jargon dan khotbah, dengan
tokoh-tokoh besar, tapi menghadirkan sisi sisi lain yang tak kalah menariknya, tokoh kecilnya di saping ironi tentang siapa yang selamat dan binasa dalam sebuah pengadilan rakyat.
Teater Amoeba berdiri sejak 26 Nopember 1996 atas inisiatif Tarmidi Komeng dan menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat.Lakon yang pernah dipentaskan Sssst, dan Topeng karya-karya Ikranegara, Ken Arok karya Saini KM, Wot, Malam Jahanam, Romeo and Julliet, Machbet, Grafito, dll. (hery s)Workshop Membaca Tradisi DKJ di 5 Wilayah DKI
Selasa, 05 Juni 2012
PAMERAN LUKISAN: Srihadi Soedarsono Beraksi Tunggal
Pelukis Srihadi Soedarsono menggelar pameran tunggal di Art:1 New Museum, Jalan Rajawali Selatan Raya No 3, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut, juga diluncurkan buku Srihadi dan Seni Rupa Indonesia yang ditulis Jim Supangkat, kurator pameran. Acara peresmian yang berlangsung tadi malam, Selasa (30/5), ini diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti dan dihadiri ratusan pencinta seni.
“Pameran ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian Art:1 terhadap terselenggaranya program pameran yang berkualitas. Pameran perdana Srihadi menjadi signifikan dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia di masa depan,” kata pengelola Art:1 New Museum, Martha Gunawan.
Menurut Martha, pameran yang berlangsung sampai 30 Agustus ini juga bertujuan mengedepankan edukasi seni, terutama mengenai perkembangan seni rupa Indonesia, baik tokoh, sejarah, maupun karya seni rupanya, ke masyarakat yang lebih luas.
Kurator Jim Supangkat mengatakan bahwa pameran tunggal ini akan menampilkan 130 karya yang terdiri dari karya-karya yang belum pernah dipamerkan sebelumnya, dari sketsa, print, drawing dan lukisan termasuk 10 karya terbaru. Pameran ini merupakan retrospeksi perjalanan Srihadi. “Karya-karya penting Srihadi diangkat dari koleksi pribadi sang pelukis, yang disimpannya selama bertahun-tahun sejak awal karirnya. Pameran ini menyajikan pula karya-karya terbaru Srihadi yang masih memperlihatkan perkembangan,” kata Jim.
Sementara itu, Srihadi mengatakan bahwa pada pameran ini ditampilkan karya yang dibuat mulai tahun 1946 sampai 2012. Di antaranya drawing saat mempertahankan RI pada 1945-1947 yang disebut Dokumentasi Yogya. Salah satu drawing itu adalah jatuhnya pesawat Dakota yang membawa obat-obatan dan ditumpangi Dokter Abdurahman Saleh yang terjadi pada 29 Juli 1947.
Sekitar tiga dekade, jejak seni rupa Indonesia pernah hilang dari perkembangan seni rupa dunia. Di Indonesia, seni rupa modern pernah dituding sebagai seni rupa borjuis, pemikiran Barat, dan serupa dengan kolonialisme. Namun seorang pelukis bernama Srihadi Soedarsono membuka ruang kesadaran banyak orang. Sejak berguru pada Soedjojono yang kental dengan humanisme universal dan sosialisme, karya-karya Srihadi ternyata mewakili Indonesia dalam sejarah perkembangan seni rupa modern dunia.
Srihadi bukan hanya elemen penting sejarah seni rupa Indonesia, tetapi juga potongan berharga dari seni rupa modern dunia. Pada usia 80 tahun, dia masih tak goyah menoreh sejarah seni rupa. Guru Besar Institut Teknologi Bandung ini menggelar pameran besar yang mengisahkan perjalanan kariernya. Di Art:1 New Museum Jl Rajawali Selatan Raya No 3 Jakarta Pusat, hingga 30 Agustus 2012, Srihadi menampilkan 130 karya. Sebagian besar karya bahkan merupakan koleksi pribadi yang belum pernah dipamerkan. Mulai dari sketsa, print, drawing dan lukisan yang disimpan selama bertahun-tahun. “Sesuai tema Srihadi dan Seni Rupa Indonesia, pameran ini tidak hanya soal pameran Srihadi, tetapi lebih pada kontekstual perkembangan Srihadi untuk bisa melihat sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Srihadi punya kebiasaan mengumpulkan karya-karya terbaik. Kita bisa melihat masa kubisme dan abstrakisme ketika dia di Amerika. Atau bisa dibilang hampir semua perkembangan ada di sini,” kata Kurator Jim Supangkat.
Menurut Jim, Srihadi menghasilkan cukup banyak karya abstrak, meskipun pada akhirnya justru menolak abstrakisme. Saat berada di luar negeri, Srihadi menolak abstrak karena mempertahankan persepsi yang dibawa dari Indonesia. Di Amerika pun, abstrakisme juga mendapat penolakan sebagian seniman. “Bagian terpenting, penolakan itu adalah sebuah data otentik, perkembangan seni rupa Indonesia dalam seni rupa global. Arus besar membuat semua terpengaruh dan terus berkembang sampai sekarang. Sementara Srihadi berada di lingkaran tanpa isme, tapi bukan eksklusif karena berada di tengah. Dia berkembang di tengah perkembangan seni rupa dunia. Lewat Srihadi, seni rupa Indonesia tetap bisa dibaca kritikus seni dunia. Meskipun juga mendalami abstrak, Srihadi konsisten pada sikapnya yang tidak bisa meninggalkan realitas. Pria kelahiran Solo 4 Desember 1931 ini tidak bisa menempatkan persoalan bahasa rupa sebagai persoalan utama dalam art-making. Srihadi mengadopsi pemikiran pelukis Mark Rothko yang percaya bahwa ruang abstrak pada lukisan-lukisannya menampilkan renungan transendental.
Dalam perkembangan, lukisan-lukisan Srihadi pada 1960 -1970 subject matter semakin lama menjadi semakin mudah dikenali. Melalui ketegasan subject matter ini, realitas yang diangkat Srihadi mudah dikenali juga. Realitas pada lukisan Srihadi kerap muncul sebagai realitas yang spesifik. Sepanjang karier, realitas di Indonesia merupakan subject matter dominan pada lukisan-lukisan Srihadi. Secara konsisten, Srihadi mempertahankan pencarian kebenaran pada realitas spesifik. Keterikatan itulah yang membuat Srihadi menolak abstrakisme dan sekaligus modernisme.“Inspirasi saya berkarya dimulai dengan sesuatu yang menggugah. Sesuatu yang bisa menggerakkan untuk dijadikan karya. Sesuatu itu bisa saja obyek, tapi ada satu waktu, saya lebih intensif pada kritik sosial. Adakalanya ditinggalkan karena menyangkut perkembangan kejiwaan. Semua itu diikuti rasa. Itulah kenapa orang tidak bisa lagi melihat karya-karya saya seperti tahun 70, semua terkait perkembangan usia dan kejiwaan,” tambah Srihadi.
Pada pameran besar ini, Srihadi memuji fasilitasi dan mensyukuri keberadaan Art:1 New Museum dalam memenuhi obsesinya untuk menggelar pameran yang ideal. Dengan ruangan yang luas, dia bisa menampilkan sebagian besar karya-karya bersejarah. Sebut saja, gambar berjudul Wreckage of VT-CLA Plane 1, yang dibuat tahun 1947, yakni momentum pesawat Dakota yang ditembak jatuh Belanda di Yogyakarta. Peristiwa yang sama juga dilukis ulang dengan cat minyak, pada tahun 1982. Di sudut lain, Srihadi juga memperlihatkan kepekaaanya pada kondisi sosial dan lingkungan. Salah satunya kanvas berjudul Beauty Contest (1973). Lukisan berobyek tujuh gadis itu berselempang nama-nama media massa besar. Pesan Srihadi, penghargaan kontes kecantikan mestinya justru diberikan pada media massa yang membisu pada realitas lingkungan sosial.
Pada kanvas cat minyak berjudul Air Mancar (1973), dia pernah mengabadikan suasana Jakarta yang tenggelam arus global. Kanvas itu juga yang membuat berang Gubernur DKI Jakarta (alm) Ali Sadikin, sebelum pameran di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Sang gubernur mencorat-coret lukisan Srihadi dengan spidol berisi kata-kata makian karena menganggap Jakarta tidak seperti gambar Srihadi yang “berantakan” dengan reklame produk Jepang. Sang empu lukisan akhirnya dipanggil khusus dan Ali Sadikin pun akhirnya meminta maaf.
Jim menjelaskan Srihadi telah melalui sejumlah fase dan tema yang seluruhnya berkembang secara paralel. Meskipun demikian, tema-tema lama seperti sosial tidak sepenuhnya hilang saat Srihadi menuju ke fase yang baru. Seperti kanvas berjudul Logo Dialogue (1987) atau Mt Merapi and Borobudur- the endless Hope and Prayer (2006).
“Kini Srihadi masih memperlihatkan perkembangan ke fase baru. Indikasinya tampak dari lukisan tari bedaya yang sakral dan tradisi dan sakral. Namun Srihadi justru mempersenjatai penari bedaya. Dia menampilkan penari dengan panah dan membawa keris terhunus. Srihadi juga menuju topik perempuan. Sangat universal. Renungan Srihadi berada di ruang pemikiran transeden. Beragam masalah muncul di ruang itu,” tambah Jim. (espe/kbr.c)Happy Salma Puas Perankan Istri Bung Karno
Berbekal pengalaman menjadi seorang pemain sinetron dan teater, Happy Salma kembali menjejakan kakinya di dunia seni teater. Rencananya, Happy akan memainkan peran sebagai salah satu istri Soekarno. Sebelumnya, model asal Sukabumi ini telah sukses tampil memainkan sebuah pertunjukkan bertajuk "Monolog Inggit" di kota kembang tahun lalu. Ketertarikan selebritas pemilik nama lengkap Jero Happy Salma Wanasari pada sosok Inggit terlihat pada saat dirinya terlibat dalam pembuatan film tentang istri-istri Soekarno. Sosok Inggit yang diperankan oleh Happy Salma ini seakan hilang dari ingatan sejarah Bangsa Indonesia.
”Sosok Inggit Garnasih ini sangat inspiratif bagi kaum perempuan di Indonesia. Sebagai istri, semangat Inggit telah menghantarkan suaminya menuju pintu gerbang kebebasan kemerdekaan tanah air," ujar Happy kepada VIVAlife, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 30 Mei 2012, terkait pertunjukan Monolog Inggit" yang berlangsung pada 4 dan 5 Juni 2012, di Teater Salihara, Jakarta Selatan.
Happy Salma merasa ada bagian sisi kepahlawanan yang dimiliki Inggit Garnasih. "Sebagai perempuan dengan kesederhanannya, beliau mampu mengambil sikap dan konsekuensi dengan pilihannya serta mampu menjaga harga dirinya sendiri," ujarnya.
Kesulitan yang dihadapinya karena tokoh Inggit Ganarsih pernah hidup di dunia. Bukan tokoh fiktif atau imajiner yang acapkali dimainkannya dalam pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Jadi, ia mempelajari betul tokoh tersebut dari berbagai referensi yang ada. Seperti membaca buku "Kuantar Kau ke Gerbang" yang ditulis oleh Ramadhan KH.
Apalagi, ia mementaskan sendiri pertunjukan itu selama 2 jam di atas panggung. Karenanya, ia harus berlatih keras dan menghapal skrip yang sangat panjang. Sebab, pertunjukan itu berlangsung sepanjang 13 babak. ”Tantangan konsistensinya itu, saya harus berlatih dan menghapal. Ada 13 babak. Dan, itu bukan kisah imaginer, ceritanya harus betul. Saya harus menceritakan dengan rinci dan detail," ucapnya.
Happy juga banyak bertanya kepada orang yang mengetahui sosok Inggit semasa hidupnya. Ia melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Bandung, Jawa Barat, tempat Inggit menghabiskan masa tuanya setelah berpisah dengan Bung Karno.
Inggit, adalah wanita sederhana. Dialah yang membimbing Soekarno sehingga menjadi orang luar biasa. Dia juga menunjukkan sikap perempuan selayaknya bekerja. Karena itu, Happy mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk mempelajari tokoh tersebut. "Saya banyak bertanya kepada keluarganya Inggit, bagaimana dia saya pelajari betul. Saya ingin mewakili spiritnya dia. Kelupaan sejarah itu menjadi semangat cita-cita saya mementaskan monolog ini," ucapnya.
”ketika Kusno diminta menghapus atau meniadakan kata imperialisme pada tulisannya oleh guru-gurunya, Kosno selalu bilang tidak. Maka saya pun yang begitu tahu dan memahami apa yang dikerjakan dan diperjuangkan Kusno, akan tetap setia mendukungnya..." Itulah kepingan monolog yang menunjukkan Inggit Garnasih, begitu setia dan paham akan apa yang diperjuangkan Soekarno. Itu pula yang menjadi bagian dari monolog berdurasi sekitar 1,5 jam yang membuat sekitar 300 penonton terpukau dan kusuk mendengar serta menyaksikan Monolog Happy Salma 'Inggit' di Gedung Kesenian Dewi Asri, STSI Bandung, pada Kamis (22/12/2011).
Happy yang menilai Inggit Garnasih sebagai Srikandi yang terlupakan, tampak berupaya serius memunculkan karakter seorang Inggit Garnasih dalam menolognya yang disautradarai Wawan Sofwan dan penulis naskah Ahda Imran. Dengan kain batik warna krem dan kebaya hitam motif bunga-bunga putih, Happy berpenamilan sosok perempuan masa perjuangan kemerdekaan RI. Rambutnya diberi garis-garisan putih sebagai uban, serta kaki beralaskan sepatu sandal masa itu.
Monolog yang digelar Mainteater yang bekerjasama dengan Titimangsa Foundation dengan sponsor utama Bakti Budaya Djarum Foundation itu merupakan momentum hari ibu, sehingga diharapkan menjadikan hari ibu tidak sebagai perayaan atau seremonial saja. Dalam sejarah, hanya menceritakan bahwa Inggit adalah salah satu istri Soekarno yang sangat setia. Namun lebih dari itu, Inggit adalah salah seorang yang paling berjasa pada keteguhan dan keyakinan Soekarno akan perjuangannya.
Selain kesetiannya serta dukungan Inggit yang membuat Soekarno teguh dan yakin pada perjuangannya, seperti yang ditunjukan pada petikan di atas, diceritakan ketika Soekarno sibuk menyiapkan pidato untuk membela negeri ini, Inggit juga dengan tekun menjahitkan kancing jas Kusno, begitu Inggit memanggilnya, supaya ia tampak gagah, di depan ruang sidang esok harinya. Dan benar terjadi, pidato Soekarno di ujung Desember 1930 dengan judul Indonesia Menggugat. (tbn.c)Sabtu, 02 Juni 2012
Gabungan 2 Boyband AS Sukses Goyang Ancol
Kamis, 31 Mei 2012
Soegija, Sebuah Film untuk Perenungan
Hanna Fransisca Luncurkan 3 Buku Sastra
JAKARTA KECIL DAN MACETNYA “JET COASTER TEATER”
Sabtu, 21 April 2012
Teater Garasi Pentaskan Goyang Penasaran di Salihara
Balas dendam seorang penyanyi dangdut yang penasaran dengan guru mengajinya.Bagaimana jika seorang penyanyi dangdut yang diidolakan para lelaki dan dianggap merusak moral ternyata jatuh penasaran pada seorang guru mengaji. Inilah kisah hidup Salimah, seorang penyanyi dangdut yang membuat para lelaki bertekuk lutut di hadapannya.
Salimah bisa saja memilih salah satu dari penggemarnya. Salah satunya Solihin, pemuda perlente yang kemudian menjadi lurah. Meski lamarannya pada Salimah ditolak, namun Solihin tetap bertahan. Sayangnya Solihin tak tahu bahwa Salimah begitu penasaran pada Haji Ahmad, guru mengajinya semasa remaja.
Ironisnya, Haji Ahmad inilah yang menjulukinya sebagai sumber dosa di kampungnya. Lelaki ini pula yang membuatnya turun panggung dan terusir dari desanya. Dua tahun kemudian, Salimah yang telah penasaran, kembali untuk menuntut balas.
Kisah horor ini adalah jalan cerita lakon Goyang Penasaran yang dipentaskan Teater Garasi dari Yogyakarta di Teater Salihara, yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Kamis (19/4) dan Jumat (20/4), pukul 20.00 WIB. Tiket pertunjukan ini dijual Rp50 ribu untuk umum dan Rp25 ribu untuk mahasiswa.
Skenario lakon ini ditulis oleh Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi yang diangkat dari cerpen berjudul sama karya Intan Paramaditha yang berada dalam bagian buku Kumpulan Budak Setan, berisi kumpulan cerita pendek hasil pembacaan ulang karya-karya horor Abdullah Harahap oleh Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, dan Ugoran Prasad.
Pada hari terakhir, 20 April, setelah pentas akan diadakan diskusi terbuka dengan para seniman yang terlibat dalam pertunjukan Goyang Penasaran.
Sehari kemudian, 21 April, tim pertunjukan lakon ini mengadakan diskusi bertema Gender dan Agama dalam Seni dan Media di Newsmuseum Kafe di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. (brt-1)
Puluhan Murid SD Berprestasi Kunjungi Nissan
Puluhan murid kelas 5 (lima) dengan ranking terbaik dari 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dari SDN I Dangdeur, SDN II Dangdeur, SDN I Cigelam dan SDN II Cigelam mengunjungi Pabrik PT Nissan Motor Indonesia (NMI) di kawasan Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat, baru-baru ini.
Kunjungan yang telah dilaksanakan ke-enam kalinya ini dapat terselenggara atas kerjasama NMI dengan pengurus Japan Club Kawasan Bukit Indah (KBI-JC). Kegiatan ini merupakan salah agenda dari program Nissan for Education, sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkesinambungan dari NMI. Program ini dilaksanakan sebagai wujud komitmen NMI dalam memajukan dunia pendidikan di tanah air yang pada tahun ini kembali difokuskan pada sektor pendidikan.
Dalam kunjungan tersebut, sekitar 24 murid berikut 6 guru pendamping berkesempatan mengikuti kegiatan plant tour. Melalui kegiatan ini, NMI ingin membagi pengetahuan kepada para murid mengenai proses produksi kendaraan Nissan mulai dari proses welding, painting, assembling, hingga vehicle quality control. Selain itu, juga termasuk proses dan prosedur keselamatan kerja yang diterapkan di pabrik Nissan.
“Kami ingin memperkenalkan otomotif sejak dini kepada anak-anak diusia sekolah. Tentunya dengan kegiatan plant tour ini, anak-anak akan lebih mudah memahami dunia otomotif. Di Nissan, kami percaya pendidikan salah satu aspek penting untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Toru Takahashi, Vice President Director Manufacturing NMI, Kamis, Purwakarta.
Di akhir acara, NMI memberikan presentasi mengenai profil perusahaan serta menggelar kuis berhadiah bagi para murid yang pertanyaannya seputar aktivitas plant tour. Aktivitas ini diselenggarakan agar anak-anak bukan hanya sekedar tour saja namun dapat mengingat kembali pengetahuan otomotif yang sudah diajarkan kepada mereka.
“Antusiasme para murid dalam mengikuti kegiatan ini sangat besar. Ini merupakan kegiatan yang menyenangkan, bermanfaat dan memberikan pengalaman baru bagi mereka. Semoga kegiatan ini dapat terus dipertahankan oleh NMI khususnya bagi para murid yang bersekolah di sekitar kawasan pabrik NMI di Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat,” tutup Ela Tati Hayati, perwakilan guru dari SDN II Cigelam Purwakarta. (tim)
Sabtu, 14 April 2012
Pameran Domestic Stuff dalam Forum Perempuan
Domestic Stuff adalah pameran seni rupa mengenai wilayah domestik dengan segala dimensi dan isu yang melingkupinya. Ketujuh seniman yang terlibat dipilih oleh Mella Jaarsma dan diminta untuk mengajak seorang seniman lain untuk berkolaborasi. Yakni, Lidyawati, Amrizal Salayan St. Parpatih, Maria Indria Sari, Samuel Indratma, Sekarputri, Mufti “Amenk” Priyanka, Ariani Darmawan,Ferdiansyah Thajib, Restu Ratnaningtyas, Agung Kurniawan, Mie Cornoedus, Setu Legi, dan Melati Suryodarmo, dan Afrizal Malna.Pembukaan Pameran Domestic Stuff yang masih dalam rangkaian kegiatan acara Forum Perempuan Seni Indonesia ini, diselenggarakan pada Sabtu, 14 April 2012, pukul 19.00 WIB. Terbuka untuk umum dan gratis. Diadakan di Galeri Salihara, pameran ini berlangsung hingga 06 Mei 2012.Melalui karya-karya ini, para seniman dapat secara jujur menangapi dan mengkritik fenomena sosial dan mengekspresikan pendekatan mereka atas realitas secara personal. Yang akan dilihat dalam pameran ini adalah pengalaman domestik tiap seniman ketika berkenaan dengan isu yang lebih luas—seperti lingkungan hidup, identitas, sejarah, dan sebagainya; serta konstelasi dari beragam hal yang privat ketika bersanding dengan perkembangan publik.
Domestic stuff boleh jadi mulai dengan sudut pandang perempuan terhadap dunia domestik. Tetapi, menampik esensialisme tentang keperempuanan, para seniman perempuan ini tampil serba-terbuka dengan berkolaborasi dengan para seniman lelaki yang mereka pilih sendiri. Pameran dengan kurator Mella Jaarsma ini menggarisbawahi bahwa yang feminin adalah yang berubah, yang rajin merangkul yang beda. Bahwa yang domestik adalah kritik bernada humor terhadap kejantanan, kebisingan dan adu kuat di luar sana. Bahwa memandang, menciptakan tata rupa, ialah langkah penting dalam menciptakan yang bersifat publik.
Pameran ini dikuratori oleh Mella Jaarsma, perupa dan kurator kelahiran Belanda yang menetap di Yogyakarta. Sejumlah karyanya dipamerkan, antara lain, di Singapore Art Museum, Singapura, dan Third Asia Pasific Triennale, Brisbane, Australia. Bersama Nindityo Adipurnomo ia menerima The John D. Rockefeller 3rd Award (2006), dan Anugerah Seni dari ISI Yogyakarta (2008). (slr)
Teater Garasi Pentas dalam Rangka Forum Seniman Perempuan
Dua tahun kemudian, ia kembali ke kampung dan menuntut balas. Lakon ini mengolah moda horor untuk mempersoalkan cara kita memandang tubuh, seksualitas, agama, dan kekerasan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Lakon ini adalah proyek kolaborasi Teater Garasi yang diadaptasi dari cerpen Intan Paramaditha dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Naomi Srikandi, serta didukung oleh Empowering Women Artists Yayasan Kelola (2010—2011). Teater Garasi adalah kelompok seniman dan laboratorium seni pertunjukan yang berkomitmen mengembangkan idiom-idiom pertunjukan yang segar dalam upaya membangun dialog yang kritis dengan publik/lingkungannya. Karya-karyanya termasuk Waktu Batu, Repertoar Hujan, Je.ja.l.an, dan Tubuh Ketiga. Beberapa di antaranya telah dipentaskan di festival internasional.
Pertunjukan teater “Goyang Penasaran” ini akan berlangsung di Teater Salihara pada Kamis—Jumat (19-20) April, pukul 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 50.000.
Mengalihkan sebuah cerita pendek atau karya sastra lainnya menjadi sebuah karya pentas adalah sebuah alternatif bagi pengayaan naskah teater. Tetapi itu berlangsung bukan tanpa masalah, misalnya antara mempertahankan watak karya sastra dan mencari kemungkinan pemanggungan yang dibayangkan sutradara. Bagaimana jika keduanya bertemu dan membicarakan kemungkinan pemanggungan karya tersebut? Intan Paramaditha selaku penulis cerpen “Goyang Penasaran” dan Naomi Srikandi selaku sutradara akan berbagi pengalaman seputar kolaborasi mereka dalam menulis naskah dan memanggungkan lakon Goyang Penasaran.
Diskusi “Goyang Penasaran: Dari Cerpen ke Panggung” akan berlangsung di Teater Salihara, Jumat, 20 April 2012, pukul 21:30 WIB (setelah pertunjukan). Terbuka untuk umum, tempat terbatas. Pendaftaran paling lambat Kamis, 19 April 2012
Gabung Teater Kolom untuk Profesionalisme (1)
Perjalanan karir Stefan Zhou merantau ke
Karena dia lebih memilih ke Jakarta untuk mencoba peruntungan nasib, maka grup teaternya dilanjutkan dengan membentuk sendiri bernama Masqurade Theater, sejak 2005 di Jakarta. Grup teater ini diklaim sebagai hobi oriented, bukan profit oriented. Walaupun pementasannya lebih banyak di mal-mal pada acara berkaitan Perayaan Imlek dan Cap Go Meh maupun undangan pentas lain di mana pun. Grup ini akan dipertahankan Stefen sampai seumur hidupnya. Walaupun Stefan sudah mulai banyak bergabung dengan grup teater-teater professional, seperti Teater Kolom Jakarta.
“Sebenarnya saya pernah ikut main dalam pentas drama musical berjudul Cinta, tapi tidak usah disebutkan nama grupnya. Saya tidak enak. Karena saya cuma jadi bintang tamu, pada pementasan di Universitas Bunda Maria, kawasan Lodan, Jakarta Utara, baru-baru ini,” ujar Stefan zhou di sela-sela berlatih teater bersama Teater Kolom di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (31/3).
Diakuinya, walaupun grup teater bentukannya masih terus dipertahankan, tapi dia mengaku masuk Teater Kolom untuk tempat menimba ilmu sekaligus menyimpan cita-cita ingin maju bersama Teater Kolom. “Saya bukan mau muluk-muluk, tapi saya merasakan dan melihat ada sesuatu yang menjanjikan bersama Teater Kolom. Karena itu, biar saya tidak ikut terlibat main, saya akan datang setiap jadwal latihan rutinnya. Tapi saya juga tidak mau menutup tawaran untuk panggilan mentas buat grup saya sendiri,” papar pria kelahiran
Diakuinya, bakat seni tidak mendapat keturunan dari orangtuanya. Karena kedua orangtuanya seorang wiraswasta. Dia mendapat bakat seni sejak kecil sudah sering terlibat dengan dunia kesenian.Tapi bakat usaha dari orangtuanya justru yang mengalir. Karena dia sekarang membuka butik dan grosir pakaian di Pasar Pagi Mangga Dua Blok B 55 bernama Toko Louis. “Bisnis ini saya rintis bersama saudara sepupu, sejak tahun 2005. Ini karena saya sudah punya pengalaman lebih dulu di bisnis fashion selama di




