Tampilkan postingan dengan label Headlines Home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headlines Home. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

EDWIN VAN DER SAR BERTEMU PEMENANG RED MATCH KARTU DANAMON MANCHESTER UNITED

  PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. (“Danamon”) sebagai satu-satunya pemegang lisensi penerbitan Kartu Manchester United di Indonesia hari ini mengumumkan pemenang Red Match periode pertama di tahun 2012, yaitu 8 Nasabah Kartu Debit dan 5 Nasabah Kartu Kredit, yang akan menyaksikan secara langsung klub kesayangannya, Manchester United, berlaga di Stadion Old Trafford Inggris. Pengumuman pemenang dihadiri oleh Kiper Legendaris Manchester United, Edwin van der Sar, yang pada kesempatan yang sama berjumpa dengan pemegang Kartu Debit & Kartu Kredit Manchester United. Kehadiran Edwin van der Sar dan program Red Match ini merupakan wujud komitmen Danamon dalam mendekatkan para fans ke klub kesayangannya dan memberikan pengalaman yang tidak dapat dinilai dengan uang untuk para nasabah. “Danamon dengan bangga menyambut kehadiran Edwin van der Sar, legenda Manchester United, dalam pengumuman pemenang Red Match Kartu Danamon Manchester United, sebagai kelanjutan rangkaian acara Kartu Danamon Manchester United. Rangkaian acara ini merupakan realisasi dari komitmen kami untuk selalu memberikan produk dan pelayanan terbaik bagi nasabah, terutama yang juga merupakan fans Manchester United.” papar Henry Ho , Presiden Direktur Danamon di Jakarta. Program Red Match Kartu Danamon Manchester United ini memberikan kesempatan kepada 48 (empat puluh delapan) nasabah Kartu Debit dan Kartu Kredit Danamon Manchester United setiap tahunnya untuk dapat menyaksikan langsung pertandingan Manchester United di Stadion Old Trafford Inggris dan mengikuti rangkaian kegiatan seperti berlatih sepakbola langsung dengan para pelatih klub, bertemu dengan pemain, melihat langsung ruang ganti pemain serta tur stadium dan museum Manchester United. “Hari ini merupakan pengumuman pertama dari empat periode Red Match Kartu Danamon Manchester United di tahun 2012. Sebanyak 8 nasabah Kartu Debit dan 5 Nasabah Kartu Kredit Danamon Manchester United akan diberangkatkan pada periode ini. Penarikan undian ini dilakukan pada tanggal 13 Juni 2012 kemarin dan telah disaksikan dan disahkan oleh notaris.” kata Michellina Triwardhany , Consumer Banking Director Danamon. Satu poin kesempatan akan didapatkan nasabah Kartu Danamon Manchester United untuk setiap transaksi pembelanjaan dengan kelipatan Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) bagi nasabah Kartu Kredit dan Debit. Khusus bagi Nasabah Kartu Debit akan mendapatkan tambahan poin untuk setiap saldo rata-rata bulanan di tabungan sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah). Selain Red Match, terdapat fitur Red Rewards dan Red Hot Deals di dalam Kartu Danamon Manchester United. Dengan Red Rewards, nasabah dapat mengumpulkan poin melalui transaksi Kartu Debit & Kredit yang dapat ditukarkan dengan tiket penerbangan gratis (melalui program mileage) dan merchandise asli Manchester United. Sedangkan Red Hot Deals memberikan berbagai penawaran menarik dan istimewa di kafe, gerai olahraga, fashion, arena futsal dan outlet-outlet pilihan lainnya. (hery s)

Jumat, 15 Juni 2012

Kecemburuan Masyarakat Teater pada Media Massa Besar

Sejumlah media massa di Jakarta senada menolak pandangan masyarakat teater bahwa porsi pemberitaan pertunjukkan seni teater kurang mendapat porsi atau kurang mereka perhatikan. Apalagi media besar macam Kompas dan grup Tempo memiliki kantong seni yang dinilai dapat menipiskan peluang grup-grup teater di luar komunitas media massa besar, seperti Kompas dengan basis kantong seninya, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan grup Tempo dengan gedung keseniannya TUK dan belakangan pindah lokasi dan nama seiring levelnya yang profesional dan proporsional bernama Salihara. Redaktur pelaksana bidang Seni Budaya harian umum Jurnal Nasional (Jurnas) Arie MP Tamba mengatakan, harus diakui terjadinya pergeseran cara pandang masyarakat teater. Tidak saja di lingkungan masyarakat teater itu sendiri, tapi juga penonton dan pemerhatinya. Kalau tahun 1970-an, ada Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ- TIM) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dan atau Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di kawasan Pasar Baroe, Jakarta Pusat, lantas media massa mudah sekali mencari narasumbernya di situ. Tapi pada 1990-an, kegiatan kesenian tidak lagi di TIM, karena mulai hidup kantong-kantong seni. Salah satu upayanya dimulai dari komunitas lingkungan masing-masing. Kalau kegiatan di TIM mendapat sponsor dari pemerintah daerah lewat APBD, komunitas alternative tetap mencari sponsor juga. Cuma polanya beda. Yaitu patungan dari anggota komunitas ditambah dari perusahaan swasta lain. Maka hidupnya kegiatan teater dari dana sendiri. ”Upaya mereka menghidupkan kegiatan menjadikan besar seperti TIM, yaitu BBJ dan TUK yang berubah nama jadi Salihara. Malah saya dengar, BBJ itu buka cabang di sejumlah daerah. Risikonya untuk pemberitaan adalah harus mau tidak lagi memprioritaskan lingkungan sendiri. Seperti aktifitas TIM yang jadi kurang perhatian dari pemberitaan. Ini tidak ada hubungannya dengan kualifikasi, tapi untuk coba perhatian. Sedangkan kualitas bisa dilihat dari kritikly dan grupnya,” ulas Arie MP Tamba, Redaktul Pelaksana Jurnal Nasional di kantornya, kawasan Cut Meutia, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Jadi, lanjut Arie, itu kriteria media sekaligus risiko dari komunitas-komunitas desentring pemecah pusat yang bisa saja salah nilai terhadap pentas satu teater. Sebaliknya grup teater bisa memperbaiki diri. ”Kalau Jurnas akan bersikap adil saja. Artinya, mau di BBJ, Salihara, TIM, GKJ, kami coba mengapresiasi untuk mengcover. Memang tak lepas pertimbangannya ada hubungan pertemanan, disukai pembaca yang akibatnya membatasi pembaca lain. Maka itu, semua kantong seni mendapat prioritas bagi Jurnas. Kecuali kalau ada pertunjukkan dalam waktu bersamaan, pertimbangannya yang tadi, pertemanan dan dibatasi oleh pembaca,” papar Arie yang juga sastrawan. Tapi kalau kedua pertunjukkan sama kuat, lanjut dia, maka Jurnas akan menurunkan berita kedua-duanya. Bedanya pada pilihan angel. Misalnya, satu pentas teater Garasi, satu lagi pemenang Festival Teater Jakarta (FTJ), maka pada Garasi diambil angel pernyutradaraan, tapi pada teater jebolan FTJ pada aktor dan aktrisnya, atau pada angle lain yang kuat diberitakan. Yang penting jangan sampai diangkat dari kantong seninya. ”Misalnya, Salihara sedang adakan program Forum Teater Adaptasi selama Juni 2012 ini, kami pilih pertunjukkannya saja. Bukan forumnya itu. Harus diakui, 70 persen pilihan media menerbitkan adalah kepentingan kelompok,” kilahnya. Kalau mengambil contoh pemberitaan FTJ, kata dia, sebenarnya banyak hal mempengaruhinya. Bayangkan dari sisi media, harus bersaing dengan banyak peristiwan. Begitu pula dari sisi pementasannya, banyak persaingan grup yang waktu bersamaan pementasan juga, sementara halaman koran terbatas. ”Memang ada dua sisi mata uang. Mungkin media ingin memberitakan FTJ sebagai proses yang sesungguhnya, tapi di masyarakat teater ingin diberitakan yang sesungguhnya pertunjukan mereka. Jurnas selalu peduli itu, tapi memang sekarang halaman mengalami pengurangan. Sehingga sekarang tidak lagi menerbitkan tulisan teater sebagai ilmu, tapi berupa resensi saja,” tukasnya. Ini senada dengan wartawan Kompas Putu Fajar Arcana. Kalau di media asing, kolom untuk pentas kesenian sangat diapresiasi bahkan mendapat rubrik khusus, seperti New York Time. Tapi media umum berbasis publik di Indonesia, sekarang ini tidak ada lagi rubrik khusus setiap hari. Kalau pun ada setiap minggu. Kecuali hanya Kompas, Tempo, dan Suara Merdeka. Kalau media publik berbasis umum akhirnya berpijak pada dua kaki. Pertama, untuk publik dan kedua untuk perkembangan kebudayaan. Namun dalam praktiknya, kadang satu pihak harus dikorbankan. ”Karena itu, barangkali diperlukan media atau jurnal teater, seperti Dramakala yang berbasis jurnal. Titik pijak sebagai media umum, kebijakan beritanya bersifat apresiasi. Apresiasinya seperti apa? Peristiwa-peristiwa kebudayaan setiap hari terjadi dan berserakan sampai ke daerah-daerah. Saat bersamaan ada peristiwa kebudayaan berupa pentas teater. Maka perhitungan yang diambil adalah keterbacaan koran. Artinya, karena gaungnya yang besar dari pentas teater itu, maka tetap diberitakan dengan porsi beritanya terpaksa lebih kecil,” timpal Putu Fajar Arcana melalui ponselnya, Sabtu (9/6). Terkait FTJ yang punya basis massa cukup kuat dan rutin diselenggarakan setiap tahun, diakui Putu sebagai peristiwa perayaan orang-orang urban di Jakarta dalam menuangkan ekspresinya, tapi menurut Putu, kelemahannya tidak mau menyentuh media. Misalnya, pergi melakukan kunjungan kerja ke media-media. Sehingga para editor dan redaktur media mengenal betul dan mendetail tentang FTJ. “Menyentuh Koran ini yang harus digarap oleh panitia FTJ. Lakukan roadshow sejumlah media besar itu. Sehingga info FTJ diketahui. Karena sebenarnya perhatian orang media pun kecil terhadap FTJ. Peristiwa yang dicover media bukan pada posisi tawar menawar, tapi mendorong untuk merebut media massa. Jadi lebih moderat kalau masyarakat teater itu menyentuh Kompas atau Tempo,” kilahnya. Menyinggung soal komunitas BBJ, Putu mengaku itu bukan CSR—nya Kompas. Karena BBJ merupakan unit tersendiri. Jadi, pinta dia, jangan menyalahkan BBJ yang mementaskan teater lantas ditulis Kompas. ”Jangan lupa, belum tentu pementasan diBBJ akan ditulis Kompas. Sebab ada pertimbangan-pertimbangan redaksi di internal media. Jadi masyarakat teater jangan cengeng dengan mengklaim setiap kantong seni punya komunitas sendiri dan itu menjadi layak diberitakan. Maka itu, saya sarankan masyarakat teater harus menyentuh media besar itu dengan cara berkunjunglah,” pungkasnya. Sementara Rizal Nasti, Pemimpin Umum Bulletin Sombox mengatakan, masyarakat teater jangan gelisah soal tidak diberitakannya pertunjukkan teater di media besar. Karena media besar itu punya kepentingan selling point alias jualan korannya dan mempertimbangkan iklan. Kalau pertunjukkan teater mau disadari punya kekuatan sebagai alat propaganda,sebenarnya media besar dan kecil tidak perlu ada pertimbangan. Kecuali pertimbangan untuk kepentingan komunitasnya. "Kita tahu, sekarang ada komunitas kantong seni yang menjadi basis kelompok teater tersendiri. Namun sebagai teater yang diluar basis itu, kita perlu mempertahankan kualitas dan eksistensi. Persoalan berat bagi teater-teater yang tidak dikenal media,tapi punya basis masyarakat yang besara adalah eksistensi. Kalau mau besar berbuatlah untuk menjadi besar sehingga menyentuh media besar itu," pungkasnya. (hery s)

Telkomsel Gelar Diskon di Jakarta Fair 2012

Untuk ketujuh kalinya, Telkomsel kembali berpartisipasi dalam Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau biasa dikenal dengan Jakarta Fair (14 Juni-15 Juli 2012). Dalam PRJ yang ke-45 ini, Telkomsel membuka 12 booth sekaligus, yakni Main Booth seluas 200m2, 1 Medium Booth Hall D, 5 minibooth, serta 5 booth mobile yang tersebar melayani pelanggan sepanjang penyelenggaraan pameran terbesar di Indonesia ini. Head of Marketing Jabotabek Jabar Division Abdullah Fahmi mengatakan, “Keikutsertaan Perusahaan kita dalam festival Jakarta Fair 2012 merupakan salah satu wujud komitmen Telkomsel dalam melayani pelanggan dengan hadir lebih dekat dan mudah bagi pelanggan, sekaligus memberikan informasi layanan, harga khusus, hadiah, dan games menarik.” Dalam kesempatan tersebut Telkomsel juga meluncurkan Kartu Perdana Edisi PRJ dengan harga Rp 5 ribu dapat Pulsa Rp 10 rb. Selain itu setiap pelanggan isi ulang pulsa minimal Rp.50 rb otomatis mendapat bonus 20%,contoh isi pulsa 50 ribu akan mendapat 60 rb. “Masih dalam suasana HUT Telkomsel ke - 17, kali ini di PRJ kami menawarkan promo khusus Shocking Sales tiap weekend yakni HP atau Modem seharga hanya Rp 17 ribu,” tambah Fahmi. Berbagai produk dan layanan Telkomsel dipamerkan di sini dengan harga maupun promosi khusus, seperti ragam paket HP murah Qwerty (TiPhone, CSL) dan Modem (ZTE, Speed Up, Hilink) seharga Rp 199.000, Tablet Android 7” mulai dari Rp.1,899 juta. Tidak ketinggalan device dan gadget canggih dari Samsung, Motorolla, Sony, LG, dan Nokia yang bisa di cicil 0% hingga 6 bulan, serta bonus internet data simPATI beli paket Rp 50 rb dapat @250 MB utk 3 bulan. Setiap transaksi minimal Rp.500 rb pelanggan juga berkesempatan memenangkan doorprize Honda Scoopy, Sepeda, dan HP yang diundi setiap minggu. Selain itu juga berhak atas hadiah langsung yang menarik. Booth Telkomsel dapat ditemui dengan mudah di beberapa lokasi strategis, yakni Main Booth yang berlokasi di dekat panggung utama PRJ, Medium Booth yang terletak di Hall D. Sementara 5 mini booth dan mobile booth masing-masing berlokasi di Hall A, B, C, E, dan Gambir Expo. “Kehadiran kami disini juga merupakan bentuk partisipasi Telkomsel dalam perayaan HUT Jakarta ke-485, dimana Telkomsel akan mendatangkan artis-artis ternama yang akan menghibur pengunjung PRJ yang datang diantaranya Tip-Ex, Souljah, Triad, Wali, Zigas, Five Minute,” pungkas Fahmi. (hery s)

Kekuatan Pentas ”Nabi Kembar” pada Komedi Slapstik

Apakah pertunjukan teater yang membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak itu otomatis produksinya bagus? Sudah pasti. Tidak pakai tergantung. Analisanya, bentuk komedi ada tiga kelompok, komedi situasi, slapstik, dan lawak. Tidak ada yang salah dari ketiganya atau saling melemahkan. Walau kalau yang bersifat slapstik cenderung dinilai lebih murahan. Karena yang slapstik bisa ada di dalam komedi situasi apalagi di lawak. Slapstik artinya, kekonyolan. Seperti orang yang jatuh dari kulit pisang di lantai atau jalanan. Karena pertunjukkan teater itu bersifat statis, tidak seperti film atau sinetron yang dinamis. Sehingga diperlukan keterampilan sutradara maupun penulis naskah untuk bisa membuat tertawa penonton. Tujuannya supaya penonton punya waktu untuk menyegarkan otak dan perasaannya atas keseriusan pertunjukkan. Karena itu, sutradara atau penulis naskah komedi relatif lebih sulit dibanding memproduksi yang nonkomedi. Komedia situasi seperti film-film karya Nyak Abba Acub (Inem Pelayan Seksi) atau film karya Chairul Umam, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan paling fenomena film Nagabonar karya Asrul Sani. Pada pertunjukan teater yang paling gress adalah teater Amoeba dari Jakarta Barat yang mementaskan naskah bertajuk Nabi Kembar, karya Slowomir Mrozek terjemahan Jum’an dan disutradarai Join Bayu Winanda. Naskah dengan grup ini dipilih komunitas Salihara, tak lepas tentunya dari keberhasilan mereka mencetak predikat juara I pada Festival Teater Jakarta (FTJ), 2010. Namun sukses ini pula yang sekaligus membuat pertunjukkan di Salihara, pada Jumat-Sabtu (8-9/6), lalu, tidak mantap lagi seperti penampilan mereka di final FTJ. Ini bisa dimaklumi. Karena persiapan mereka akibat mengikuti FTJ 2011. Artinya, Teater Amoeba kembali menyiapkan selama satu tahun naskah Tikus dan Manusia karya John Steinbeck untuk tampil di FTJ 2011 dan terbukti, grup ini kembali merebut gelar juara umum di FTJ tahunan yang sudah berusia 30-an tahun. Lain hal kalau Salihara, meminta Teater Amoeba mementaskan kembali naskah Tikus dan Manusia. Sehingga malah lebih kental. Sedangkan pada naskah Nabi Kembar, Teater Amoeba mau tidak mau dipaksa membangkitkan memori dan menyesuaikan kondisi gedung yang sedikit banyak mengalami perubahan. Semua inilah yang terlihat membuat pementasan Teater Amoeba tidak menggigit. Walaupun tidak perlu membandingkan dengan pementasan terdahulu di ajang festival, tapi secara peristiwa pun dapat terasakan jika pementasan itu kehilangan sisi humorisnya. Ironisnya lagi, slapstick-slapstik, terutama lontaran beberapa dialog yang ingin dicapai untuk menciptakan bahan penonton tertawa tidak berhasil. Terkait pentas komedi situasi dapat dipinjam pementasan dari Teater Stasiun di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), pada 24 Mei 2012. Pementasan bertajuk Repertoar Sabun Colek karya dan disutradarai sendiri Ediyan Munaedi layak disejajarkan dengan film-film Nyak Abbas Acub tadi. Setidaknya penciptakan situasi komedinya yang bisa dibayangkan dalam film Nagabonar. Atau dalam pertunjukan teater lain pada naskah Mentang-Mentang dari New York karya Norca ANM Massardi. Siapapun sutradara dan grup maupun di mana naskah-naskah macam ini dipentaskan, sutradara tidak terlalu sulit untuk menciptakan rasa komedinya. Justru sutradara tinggal mengentalkan atau mengeksplorasai adegan untuk mendapatkan hasil-hasil kelucuannya. Kembali pada pentas Nabi Kembar, memang tidak disalahkan bentuk-bentuk slapstick yang diciptakan sutradara karena bertujuan mendapatkan kelucuan. Apalagi sekarang menggejala bentuk-bentuk pementasan yang sisi kelucuan dominant atau setidaknya berhasil mengimbangi persentase keseriusan yang telah membuat otak memeras maksud dan tujuan semiotiknya. Karena memang suatu kesulitan besar bagi grup maupun sutradara untuk membuat penonton sabar duduk menonton pertunjukan serius dengan durasi di atas satu jam. Tapi kosenkwensinya, keberhasilan itu akan menyempurkan level perrtunjukkannya. Nabi Kembar mengisahkan cerita seorang wali yang menghadapi masalah berat. Di Istananya muncul sepasang Nabi Kembar, sama rupa dan sama pintarnya yang mengkhotbahkan jalan keselamatan. Untuk mengatasi kesulitan ini, wali memanggil tiga profesor dan memintanya untuk memastikan Nabi mana yang benar-benar asli dan layak dipercaya. Sementara rakyat sudah berkumpul di depan istana, menunggu kepastian. Akan tetapi, tiga profesor itu tidak bisa memutuskan. Akhirnya profesor mengambil jalannya sendiri menyuruh Juru Sita untuk membunuh salah satu Nabi. Setelah membunuh Nabi, Juru Sita malah ketagihan dan membunuh satu Nabi lainnya. Keadaan jadi kacau dan Wali mesti mempertanggungjawabkan keadaan ini kepada rakyat yang terus menunggu. Akhirnya rakyat murka dan menerobos istana. Anarki terjadi dan korbannya adalah para profesor danWali. Hanya Juru Sita yang selamat. Lewat Nabi Kembar, Teater Amoeba mencoba menafsir kembali kekacauan politik di Polandia saat diduduki Rusia yang dibayang-bayangi oleh sosok Ratu Adil. Kekerasan politik berbanding lurus dengan tipu muslihat penguasa dan pembunuhan mereka yang dianggap menghalangi sang penguasa. Jika Mrozek menghadirkan publik yang marah dengan simbol suara-suara dari luar istana, Teater Amoeba menghadirkannya di atas pentas sebagai kelompok demonstrans di gedung istana dengan gerakdan bunyi-bunyian sebagai simbol kemarahan. Dengan slide pendudukan gedung DPR/MPR Senayan oleh mahasiswa, pada 1998, panggung dipenuhi oleh para demonstran yang membuat riuh dengan cara memukuli kerangka scaffolding. Selain itu, ada juga tentara, tokh yang bertugas mengabarkan kejadian di luar istana,termasuk penembakan sempat orang demonstran dan perusakan pagar istana yang harganya miliaran rupiah itu. Eksplorasi bunyi-bunyian komedi bernuansa blues dihadirkan sebagai penguat ide artistik secara keseluruha. Termasuk dalam menampilkan adegan pembunuhan yang semula keji menjadi penuh humor dan parodi. Dengan gaya seperti ini, Teater Amoeba mencoba menempuh siasat untuk menampilkkan teater politik tidak semata-mata sebagai teater yang penuh jargon dan khotbah, dengan tokoh-tokoh besar, tapi menghadirkan sisi sisi lain yang tak kalah menariknya, tokoh kecilnya di saping ironi tentang siapa yang selamat dan binasa dalam sebuah pengadilan rakyat. Teater Amoeba berdiri sejak 26 Nopember 1996 atas inisiatif Tarmidi Komeng dan menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat.Lakon yang pernah dipentaskan Sssst, dan Topeng karya-karya Ikranegara, Ken Arok karya Saini KM, Wot, Malam Jahanam, Romeo and Julliet, Machbet, Grafito, dll. (hery s)
Workshop Membaca Tradisi DKJ di 5 Wilayah DKI

Workshop Membaca Tradisi DKJ di 5 Wilayah DKI

Lanjutan program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertajuk Workshop Teater Membaca Tradisi yang berlangsung di lingkungan Jakarta Barat bekerjasama dengan Ikatan Drama Jakarta Barat (Indraja), pada 6-9 Juni 2012, lebih bersifat kuliah umum. Padahal instruktur workshop, Afrizal Malna selalu terus mendorong agar workshop itu betul-betul berlangsung selayak workshop dan Afrizal ingin memposisikan diri sebagai pendamping sekaligus penengah. Kenyataan ini terbukti dari dorongan Afrizal kepada ratusan peserta agar berkomentar apa pun secara bergiliran. Semua peserta mengakui, mereka telah mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Yaitu tentang tradisi yang bukan melihatnya ke belakang. Artinya, tradisi bukan latar belakang kebudayaa suatu masyarakat atau komunitas. Meskipun dalam pemberian materi workshopnya, Afrizal memutar video tentang kesenian tradisi seperti tradisi Hudoq Dayak, Kalimantan Selatan. Boleh jadi, sikap Afrizal itu yang membuatnya enggan menjawab semua pertanyaan peserta terkait rencana produksi teaternya dalam rangka mengikuti Festival Teater Jakarta (FTJ) 2012. Misalnya, ketika Afrizal ditanya soal video Performance Art Firman Djamil, Afrizal yang kebetulan ikut terlibat dalam video itu bisa dijadikan contoh langsung untuk pertunjukan teater, pria berkepala plontos itu tetap ogah menanggapi. Pokoknya, Afrizal merasa cukup memberi referensi dan ilmu tentang membaca tradisi yang implementasinya diserahkan pada sutradara sebagai peserta workshop itu. Upaya Afrizal menularkan pengetahuan yang menyerupai suatu pergerakan itu, terlihat misalnya, ketika Afrizal meminta tiga orang peserta untuk melakukan reaksi atas benda kursi dengan kue ulang tahun di atasnya berdasarkan pertanyaan yang diajukan Afrizal, yaitu; “Apakah itu Apakah?” Ketika peserta ada yang memakannya, kemudian yang lain menghidupkan seluruh properti itu sebagai bentuk upacara hari ulang tahun, ternyata menurut Afrizal semua itu linear. Jadi Afrizal ingin peserta berani melakukan yang bukan linear, terutama dalam menghadapi tradisi. “Upacara hari ulang tahun sudah menjadi tradisi kita, bukan? Karena dilaksanakan orang yangmerayakannya setiap tahun. Ini kan linear. Coba lakukan reaksi yang tidak linear menjadi tradisi yang baru lagi,” pinta Afrizal. Selain itu, Afrizal mengingatkan tentang salah satu adegan pertunjukkan teater Rumah yang Dikuburkan karya Sam Shepard, terjemahan Akhudiat dan disadur oleh Afrizal sendiri. Saat dipentaskan Teater SAE , ada tokohnya yang muncul sambil sikat gigi seperti kehidupan sehari-hari. “Ini menjadi tidak linear karena ditampilkan dalam pertunjukkan teater. Sepengetahuan saya, belum pernah ada atau belum berani orang menampilkan adegan keseharian seperti yang sehari-hari itu. Itu yang membuatnya jadi linear,” pungkas Afrizal yang malam 7 Juni 2012 itu bertepatan dengan HUT –nya yang ke-55.

Selasa, 05 Juni 2012

PAMERAN LUKISAN: Srihadi Soedarsono Beraksi Tunggal

Pelukis Srihadi Soedarsono menggelar pameran tunggal di Art:1 New Museum, Jalan Rajawali Selatan Raya No 3, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan tersebut, juga diluncurkan buku Srihadi dan Seni Rupa Indonesia yang ditulis Jim Supangkat, kurator pameran. Acara peresmian yang berlangsung tadi malam, Selasa (30/5), ini diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti dan dihadiri ratusan pencinta seni. “Pameran ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian Art:1 terhadap terselenggaranya program pameran yang berkualitas. Pameran perdana Srihadi menjadi signifikan dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia di masa depan,” kata pengelola Art:1 New Museum, Martha Gunawan. Menurut Martha, pameran yang berlangsung sampai 30 Agustus ini juga bertujuan mengedepankan edukasi seni, terutama mengenai perkembangan seni rupa Indonesia, baik tokoh, sejarah, maupun karya seni rupanya, ke masyarakat yang lebih luas. Kurator Jim Supangkat mengatakan bahwa pameran tunggal ini akan menampilkan 130 karya yang terdiri dari karya-karya yang belum pernah dipamerkan sebelumnya, dari sketsa, print, drawing dan lukisan termasuk 10 karya terbaru. Pameran ini merupakan retrospeksi perjalanan Srihadi. “Karya-karya penting Srihadi diangkat dari koleksi pribadi sang pelukis, yang disimpannya selama bertahun-tahun sejak awal karirnya. Pameran ini menyajikan pula karya-karya terbaru Srihadi yang masih memperlihatkan perkembangan,” kata Jim. Sementara itu, Srihadi mengatakan bahwa pada pameran ini ditampilkan karya yang dibuat mulai tahun 1946 sampai 2012. Di antaranya drawing saat mempertahankan RI pada 1945-1947 yang disebut Dokumentasi Yogya. Salah satu drawing itu adalah jatuhnya pesawat Dakota yang membawa obat-obatan dan ditumpangi Dokter Abdurahman Saleh yang terjadi pada 29 Juli 1947. Sekitar tiga dekade, jejak seni rupa Indonesia pernah hilang dari perkembangan seni rupa dunia. Di Indonesia, seni rupa modern pernah dituding sebagai seni rupa borjuis, pemikiran Barat, dan serupa dengan kolonialisme. Namun seorang pelukis bernama Srihadi Soedarsono membuka ruang kesadaran banyak orang. Sejak berguru pada Soedjojono yang kental dengan humanisme universal dan sosialisme, karya-karya Srihadi ternyata mewakili Indonesia dalam sejarah perkembangan seni rupa modern dunia. Srihadi bukan hanya elemen penting sejarah seni rupa Indonesia, tetapi juga potongan berharga dari seni rupa modern dunia. Pada usia 80 tahun, dia masih tak goyah menoreh sejarah seni rupa. Guru Besar Institut Teknologi Bandung ini menggelar pameran besar yang mengisahkan perjalanan kariernya. Di Art:1 New Museum Jl Rajawali Selatan Raya No 3 Jakarta Pusat, hingga 30 Agustus 2012, Srihadi menampilkan 130 karya. Sebagian besar karya bahkan merupakan koleksi pribadi yang belum pernah dipamerkan. Mulai dari sketsa, print, drawing dan lukisan yang disimpan selama bertahun-tahun. “Sesuai tema Srihadi dan Seni Rupa Indonesia, pameran ini tidak hanya soal pameran Srihadi, tetapi lebih pada kontekstual perkembangan Srihadi untuk bisa melihat sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Srihadi punya kebiasaan mengumpulkan karya-karya terbaik. Kita bisa melihat masa kubisme dan abstrakisme ketika dia di Amerika. Atau bisa dibilang hampir semua perkembangan ada di sini,” kata Kurator Jim Supangkat. Menurut Jim, Srihadi menghasilkan cukup banyak karya abstrak, meskipun pada akhirnya justru menolak abstrakisme. Saat berada di luar negeri, Srihadi menolak abstrak karena mempertahankan persepsi yang dibawa dari Indonesia. Di Amerika pun, abstrakisme juga mendapat penolakan sebagian seniman. “Bagian terpenting, penolakan itu adalah sebuah data otentik, perkembangan seni rupa Indonesia dalam seni rupa global. Arus besar membuat semua terpengaruh dan terus berkembang sampai sekarang. Sementara Srihadi berada di lingkaran tanpa isme, tapi bukan eksklusif karena berada di tengah. Dia berkembang di tengah perkembangan seni rupa dunia. Lewat Srihadi, seni rupa Indonesia tetap bisa dibaca kritikus seni dunia. Meskipun juga mendalami abstrak, Srihadi konsisten pada sikapnya yang tidak bisa meninggalkan realitas. Pria kelahiran Solo 4 Desember 1931 ini tidak bisa menempatkan persoalan bahasa rupa sebagai persoalan utama dalam art-making. Srihadi mengadopsi pemikiran pelukis Mark Rothko yang percaya bahwa ruang abstrak pada lukisan-lukisannya menampilkan renungan transendental. Dalam perkembangan, lukisan-lukisan Srihadi pada 1960 -1970 subject matter semakin lama menjadi semakin mudah dikenali. Melalui ketegasan subject matter ini, realitas yang diangkat Srihadi mudah dikenali juga. Realitas pada lukisan Srihadi kerap muncul sebagai realitas yang spesifik. Sepanjang karier, realitas di Indonesia merupakan subject matter dominan pada lukisan-lukisan Srihadi. Secara konsisten, Srihadi mempertahankan pencarian kebenaran pada realitas spesifik. Keterikatan itulah yang membuat Srihadi menolak abstrakisme dan sekaligus modernisme.“Inspirasi saya berkarya dimulai dengan sesuatu yang menggugah. Sesuatu yang bisa menggerakkan untuk dijadikan karya. Sesuatu itu bisa saja obyek, tapi ada satu waktu, saya lebih intensif pada kritik sosial. Adakalanya ditinggalkan karena menyangkut perkembangan kejiwaan. Semua itu diikuti rasa. Itulah kenapa orang tidak bisa lagi melihat karya-karya saya seperti tahun 70, semua terkait perkembangan usia dan kejiwaan,” tambah Srihadi. Pada pameran besar ini, Srihadi memuji fasilitasi dan mensyukuri keberadaan Art:1 New Museum dalam memenuhi obsesinya untuk menggelar pameran yang ideal. Dengan ruangan yang luas, dia bisa menampilkan sebagian besar karya-karya bersejarah. Sebut saja, gambar berjudul Wreckage of VT-CLA Plane 1, yang dibuat tahun 1947, yakni momentum pesawat Dakota yang ditembak jatuh Belanda di Yogyakarta. Peristiwa yang sama juga dilukis ulang dengan cat minyak, pada tahun 1982. Di sudut lain, Srihadi juga memperlihatkan kepekaaanya pada kondisi sosial dan lingkungan. Salah satunya kanvas berjudul Beauty Contest (1973). Lukisan berobyek tujuh gadis itu berselempang nama-nama media massa besar. Pesan Srihadi, penghargaan kontes kecantikan mestinya justru diberikan pada media massa yang membisu pada realitas lingkungan sosial. Pada kanvas cat minyak berjudul Air Mancar (1973), dia pernah mengabadikan suasana Jakarta yang tenggelam arus global. Kanvas itu juga yang membuat berang Gubernur DKI Jakarta (alm) Ali Sadikin, sebelum pameran di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Sang gubernur mencorat-coret lukisan Srihadi dengan spidol berisi kata-kata makian karena menganggap Jakarta tidak seperti gambar Srihadi yang “berantakan” dengan reklame produk Jepang. Sang empu lukisan akhirnya dipanggil khusus dan Ali Sadikin pun akhirnya meminta maaf. Jim menjelaskan Srihadi telah melalui sejumlah fase dan tema yang seluruhnya berkembang secara paralel. Meskipun demikian, tema-tema lama seperti sosial tidak sepenuhnya hilang saat Srihadi menuju ke fase yang baru. Seperti kanvas berjudul Logo Dialogue (1987) atau Mt Merapi and Borobudur- the endless Hope and Prayer (2006). “Kini Srihadi masih memperlihatkan perkembangan ke fase baru. Indikasinya tampak dari lukisan tari bedaya yang sakral dan tradisi dan sakral. Namun Srihadi justru mempersenjatai penari bedaya. Dia menampilkan penari dengan panah dan membawa keris terhunus. Srihadi juga menuju topik perempuan. Sangat universal. Renungan Srihadi berada di ruang pemikiran transeden. Beragam masalah muncul di ruang itu,” tambah Jim. (espe/kbr.c)

Happy Salma Puas Perankan Istri Bung Karno

Berbekal pengalaman menjadi seorang pemain sinetron dan teater, Happy Salma kembali menjejakan kakinya di dunia seni teater. Rencananya, Happy akan memainkan peran sebagai salah satu istri Soekarno. Sebelumnya, model asal Sukabumi ini telah sukses tampil memainkan sebuah pertunjukkan bertajuk "Monolog Inggit" di kota kembang tahun lalu. Ketertarikan selebritas pemilik nama lengkap Jero Happy Salma Wanasari pada sosok Inggit terlihat pada saat dirinya terlibat dalam pembuatan film tentang istri-istri Soekarno. Sosok Inggit yang diperankan oleh Happy Salma ini seakan hilang dari ingatan sejarah Bangsa Indonesia. ”Sosok Inggit Garnasih ini sangat inspiratif bagi kaum perempuan di Indonesia. Sebagai istri, semangat Inggit telah menghantarkan suaminya menuju pintu gerbang kebebasan kemerdekaan tanah air," ujar Happy kepada VIVAlife, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 30 Mei 2012, terkait pertunjukan Monolog Inggit" yang berlangsung pada 4 dan 5 Juni 2012, di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Happy Salma merasa ada bagian sisi kepahlawanan yang dimiliki Inggit Garnasih. "Sebagai perempuan dengan kesederhanannya, beliau mampu mengambil sikap dan konsekuensi dengan pilihannya serta mampu menjaga harga dirinya sendiri," ujarnya. Kesulitan yang dihadapinya karena tokoh Inggit Ganarsih pernah hidup di dunia. Bukan tokoh fiktif atau imajiner yang acapkali dimainkannya dalam pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Jadi, ia mempelajari betul tokoh tersebut dari berbagai referensi yang ada. Seperti membaca buku "Kuantar Kau ke Gerbang" yang ditulis oleh Ramadhan KH. Apalagi, ia mementaskan sendiri pertunjukan itu selama 2 jam di atas panggung. Karenanya, ia harus berlatih keras dan menghapal skrip yang sangat panjang. Sebab, pertunjukan itu berlangsung sepanjang 13 babak. ”Tantangan konsistensinya itu, saya harus berlatih dan menghapal. Ada 13 babak. Dan, itu bukan kisah imaginer, ceritanya harus betul. Saya harus menceritakan dengan rinci dan detail," ucapnya. Happy juga banyak bertanya kepada orang yang mengetahui sosok Inggit semasa hidupnya. Ia melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Bandung, Jawa Barat, tempat Inggit menghabiskan masa tuanya setelah berpisah dengan Bung Karno. Inggit, adalah wanita sederhana. Dialah yang membimbing Soekarno sehingga menjadi orang luar biasa. Dia juga menunjukkan sikap perempuan selayaknya bekerja. Karena itu, Happy mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk mempelajari tokoh tersebut. "Saya banyak bertanya kepada keluarganya Inggit, bagaimana dia saya pelajari betul. Saya ingin mewakili spiritnya dia. Kelupaan sejarah itu menjadi semangat cita-cita saya mementaskan monolog ini," ucapnya. ”ketika Kusno diminta menghapus atau meniadakan kata imperialisme pada tulisannya oleh guru-gurunya, Kosno selalu bilang tidak. Maka saya pun yang begitu tahu dan memahami apa yang dikerjakan dan diperjuangkan Kusno, akan tetap setia mendukungnya..." Itulah kepingan monolog yang menunjukkan Inggit Garnasih, begitu setia dan paham akan apa yang diperjuangkan Soekarno. Itu pula yang menjadi bagian dari monolog berdurasi sekitar 1,5 jam yang membuat sekitar 300 penonton terpukau dan kusuk mendengar serta menyaksikan Monolog Happy Salma 'Inggit' di Gedung Kesenian Dewi Asri, STSI Bandung, pada Kamis (22/12/2011). Happy yang menilai Inggit Garnasih sebagai Srikandi yang terlupakan, tampak berupaya serius memunculkan karakter seorang Inggit Garnasih dalam menolognya yang disautradarai Wawan Sofwan dan penulis naskah Ahda Imran. Dengan kain batik warna krem dan kebaya hitam motif bunga-bunga putih, Happy berpenamilan sosok perempuan masa perjuangan kemerdekaan RI. Rambutnya diberi garis-garisan putih sebagai uban, serta kaki beralaskan sepatu sandal masa itu. Monolog yang digelar Mainteater yang bekerjasama dengan Titimangsa Foundation dengan sponsor utama Bakti Budaya Djarum Foundation itu merupakan momentum hari ibu, sehingga diharapkan menjadikan hari ibu tidak sebagai perayaan atau seremonial saja. Dalam sejarah, hanya menceritakan bahwa Inggit adalah salah satu istri Soekarno yang sangat setia. Namun lebih dari itu, Inggit adalah salah seorang yang paling berjasa pada keteguhan dan keyakinan Soekarno akan perjuangannya. Selain kesetiannya serta dukungan Inggit yang membuat Soekarno teguh dan yakin pada perjuangannya, seperti yang ditunjukan pada petikan di atas, diceritakan ketika Soekarno sibuk menyiapkan pidato untuk membela negeri ini, Inggit juga dengan tekun menjahitkan kancing jas Kusno, begitu Inggit memanggilnya, supaya ia tampak gagah, di depan ruang sidang esok harinya. Dan benar terjadi, pidato Soekarno di ujung Desember 1930 dengan judul Indonesia Menggugat. (tbn.c)

Sabtu, 02 Juni 2012

Gabungan 2 Boyband AS Sukses Goyang Ancol

Dua boyband asal AS, New Kids On The Block (NKOTB) dan Backstreet Boys (BSB) atau yang lebih dikenal dengan sebutan NKOTBSB seakan terlahir kembali ketika mereka bergoyang dan bernyanyi di atas panggung Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, Jakarta Utara, Jumat (1/6/2012). "Jakarta malam ini seru sekali bukan? Malam ini seperti tahun 1989 saja. Dan sampai sekarang sudah banyak petualangan yang kami lewati, tapi kami seakan baru saja memulai petualangannya," ujar Jordan Knight mewakili Joey McIntyre, Donnie Wahlberg, Danny Wood, dan Jonathan Knight di NKOTB sebelum lagu populer mereka, "Tonight" mengajak para "ABG 1990an" bergoyang. Ini bukan histeria pertama yang tercipta MEIS semalam. Sejak awal pertunjukan NKOTB yang membuka konser dengan lagu "Summertime" langsung disambut riuh rendah sebelum jatah panggung bergeser ke BSB, yang kini tinggal dihuni Brian Littrell, Nick Carter, A.J McLean, dan Howie Dorough, dengan lagu "The Call". NKOTB dan BSB silih berganti menguasai panggung. Masing-masing mengajak penggemarnya bernostalgia dengan lagu-lagu yang pernah populer antara 1984-1994 seperti "Dirty Dancing" dan "You Got It" dari NKOTB yang populer di 1998. Sementara BSB dengan "Get Down" dan "Larger Than Life". Lagu-lagu kalem seperti "Valentine Girl" dan "Don't Go Girl" dari NKOTB pun ikut menggoda para penonton. Tak kalah serunya, BSB yang mengenakan setelan jas dan celana putih membuat penonton histeris tak karuan di lagu "Show Me The Meaning", dan "Ten Thousand Promises". "Jakarta apa kalian senang malam ini? Kami NKOTBSB senang berada di Jakarta malam ini. Kalian punya perempuan-perempuan yang luar biasa. Kami memerlukan kalian untuk membantu kami (BSB) di atas sini," seru Dorough sebelum para personel BSB memilih empat perempuan untuk menjadi pasangan di lagu "I'll Never Break Your Heart". Lagu itu seakan membuat penonton perempuan yang tak terpilih menjadi gerah lantaran keempat personel BSB bertekuk lutut di akhir lagu. "Kalian senang? Mau lagi?" seru Carter ketika menggulirkan "Drowing" dan "Incomplete". Setelahnya, panggung kembali menjadi milik NKOTB. Lagu "Step By Step" yang paling populer selama perjalanan karier NKOTB sebagai boyband akhirnya dikumandangkan dengan aransemen musik yang tak menghilangkan warna synthesyzer 1990an. Tak hanya wanita, penonton pria pun ikut histeris di bagian aksi panggung Jordan. Tak sekadar bernyanyi, dengan koreografi yang apik NKOTB menyajikan sesuatu yang berbeda dari Wahlberg yang tahun ini genap berusia 44 tahun. "Jakarta, aku cinta kamu," seru Wahlberg lantang sambil memamerkan otot-ototnya yang masih kekar di antara lagu "Cover Girl" dan "My Favorite Girl". Berikutnya BSB mengajak penggemar untuk menikmati lagu-lagu Top 40 dari era 1995 sampai 1997, yang antara lain; "Shape of My Heart", "As Long as You Love Me", "All I Have to Give", "Backstreet Back", hingga "Quit Playing Games With My Heart" sebelum "I'll Be Loving You" (NKOTB), dan "I Want it That Away" (BSB) bergantian memanjakan penonton. Berikutnya, kolaborasi NKOTBSB yang paling dinantikan akhirnya tercipta di hadapan penonton. "Terimakasih sudah menunggu BSB sekian lama, dan menunggu NKOTB sekian lama. Apa kalian mau New Kids kami ajak lagi ke atas?" kata Littrell mengawali kolaborasi NKOTBSB untuk lagu "Don't Turn The Light's On" dan memungkasi aksi panggung dengan lagu "Hangin Tough" (NKOTB) dan "Everybody" yang dikombinasikan para personel NKOTB yang berbusana batik di akhir pertunjukan. Boyband asal Amerika Serikat, New Kids On The Block (NKOTB) dan Backstreet Boys (BSB) menggelar konser di MEIS, Ancol, Jakarta, malam ini, Jumat 1 Juni 2012. Konser yang bertajuk "One Night, One Stage" ini sudah dipadati ribuan penggemar. Hal itu terlihat dari jalanan yang padat mulai pintu masuk Ancol. Konser dimulai tepat waktu, pukul 20.00 WIB. Karena itu, banyak penonton yang terlambat dan berlari-lari memasuki tempat konser. Meski sempat menyatakan bubar, pesona kedua boyband ini masih tetap dinantikan para penggemar di Indonesia. Hena salah satunya, ia datang bersama sepupunya. Dia sudah menanti aksi NKOTB selama 20 tahun. Ia ingin sekali menyaksikan NKOTB membawakan lagu berjudul "Hangin’ Tough". Tak hanya Hena, beberapa artis ternama seperti Andi Soraya, Project Pop, Rachel Maryam, hingga Wulan Guritno juga hadir dalam konser ini. Sebelumnya, NKOTB datang ke Indonesia pada 1992. Saat itu, kedatangan mereka mampu menghipnotis penggemar, yang rata-rata kaum wanita. Dengan gaya panggung yang menawan, konser NKOTB saat itu di Istora Senayan, Jakarta, berlangsung meriah. Sementara itu, Backstreet Boys manggung di Jakarta pada 2008 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center.(viva/kmp.c)

Kamis, 31 Mei 2012

Soegija, Sebuah Film untuk Perenungan

Meski mengangkat kisah tentang Romo Soegijapranata namun film "Soegija" tidak hanya menggambarkan sosok uskup pribumi pertama di Indonesia bernama lengkap Albertus Soegijapranata itu saja. Film garapan sutradara Garin Nugroho itu menampilkan nilai-nilai kemanusiaan universal melalui kisah-kisah di tengah revolusi. Garin mencoba melukiskan situasi dalam setiap pernyataan yang disampaikan Soegija dalam gambar-gambar khasnya, membuat "Soegija" tidak hanya menuturkan sejarah secara verbal tapi juga menyuguhkannya sebagai ilustrasi kehidupan."Karena misal Soegija mengatakan soal penderitaan, kalau tidak digambarkan situasi zamannya seperti apa, itu tidak mungkin. Nanti hanya dialog saja seperti film umumnya," kata Garin usai penayangan film beranggaran Rp12 miliar itu di Jakarta, Kamis (24/5). Sutradara kelahiran Yogyakarta itu mengumpulkan referensi dari berbagai sumber seperti buku sejarah, buki harian serdadu Belanda dan Jepang, kisah-kisah revolusi dan sahabat-sahabat Mgr. Soegijapranata untuk menghidupkan sisi-sisi kemanusiaan sang uskup."Kami mencari cerita-cerita ketika dialog itu dimunculkan. Sumber macam-macam kami kumpulkan untuk ilustrasi situasi pada saat Soegija bicara. Itu yang sangat sulit karena kalau tidak nanti isinya hanya pidato dia saja," tambahnya. Maka jadilah film sejarah yang sangat "Garin", dengan gambar-gambar bercerita yang disempurnakan dengan muatan dialog dari narasi sarat makna yang dibuat Armantono dan Garin Nugroho. Sang sutradara tampaknya secara cermat memilih penampilan adegan dengan gambar yang bercerita atau narasi sehingga adegan-adegan dengan format berbeda terasa pas, dan bertambah enak dinikmati dengan tata musik Djaduk Ferianto dan akting para pemain yang natural.Garin, yang sebagian karya filmnya mendapat penghargaan internasional, menampilkan pemain dengan beragam latar belakang budaya untuk mewujudkan gambaran situasi dan pelaku sejarah yang terkait dalam filmnya. Pemeran film itu berasal dari beberapa etnis di dalam negeri dan beberapa pemain dari luar negeri. Secara keseluruhan, penggarapan film itu melibatkan 2.775 pemain dari Jawa, Cina, Belanda, dan Jepang. Perenungan Film "Soegija" mengisahkan kerja kepemimpinan dengan "silent diplomacy" serta prinsip kebangsaan dan kemanusiaan Soegija pada era 1940-1950. Garin mengangkat sisi-sisi kemanusiaan dari delapan tokoh utama dalam film yang berlatar masa penjajahan Belanda, lalu perebutan kekuasaan oleh Jepang serta masa krisis menjelang dan setelah kemerdekaan.Meski berlatar zaman perang namun film "Soegija" sama sekali tidak menampilkan adegan-adegan berdarah maupun kekerasan. Tidak ada sosok penjahat juga di sini.Sang sutradara memilih suasana di pengungsian dan menyusup ke dalam diri tokoh-tokoh utamanya, mengajak penonton merenung dengan menampilkan sisi kemanusiaan mereka dengan gambar yang indah, dialog yang kuat dan iringan musik dramatis. Dalam film sepanjang 115 menit ini, perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya dan Ling Ling (Andrea Reva) terpisah sang ibu (Olga Lydia).Keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga mereka yang menjajah.Serdadu Jepang, Nobuzuki (Suzuki), tidak pernah tega terhadap anak-anak karena ia juga punya anak yang selalu ia rindukan di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang serdadu Belanda yang merasa menjadi mesin perang hebat, hatinya tersentuh oleh bayi yang ia temukan di medan perang yang membuat dia merindukan ibunya, bukan negaranya. Sementara bagi Hendrick (Wouter Braaf), perang membuat dia tak bisa memiliki cinta yang dia temukan. Soegija (Nirwan Dewanto) ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian. Bagi dia, kemanusiaan itu satu meski berbeda berbeda bangsa, agama, asal-usul, dan ragamnya. Soegija berusaha mewujudkan keinginannya melalui surat menyurat dan pertemuan dengan para pemimpin Indonesia seperti Syahrir, dan Soekarno. Dia juga mendukung pengorganisasian gerakan pemuda dan pelayanan sosial. Ia menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan melalui kunjungan warga, khotbah dan tulisan-tulisan. "Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri kita sendiri," katanya. Menurut Garin, nilai-nilai kemanusiaan yang diyakini oleh Soegijapranata sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini meski dalam perspektif yang berbeda. Yakni bahwa seperti Soegija, para pemimpin seharusnya mampu mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan untuk meredam gejolak kekerasan, untuk mendamaikan. "Film ini merupakan sebuah catatan tepat untuk hari ini. Ini perayaan kegembiraan beragam dan berbangsa. Sudah saatnya tidak ada ketakutan," demikian Garin Nugroho. Dunia perfilman Indonesia memang sedang bangkit. Namun, tak banyak yang mengangkat tema sejarah. Garin Nugroho, bersama rekan-rekannya menghadirkan film yang mengangkat cerita tentang Soegija, seorang uskup pribumi pertama dalam Gereja Katolik Indonesia.Film didukung banyak sineas, aktor, serta aktris yang kemampuan aktingnya sudah tidak bisa diragukan lagi. Beberapa di antaranya Nirwan Dewanto dan Annisa Hertami. Nirwan Dewanto, pemeran sosok Soegija sempat beberapa kali menolak terlibat dalam fim ini. Akhirnya, Nirwan tertarik dan merasa berkepentingan untuk menjalankan ide-ide yang ada dalam cerita Soegija. Menurut Nirwan, Soegija adalah tokoh penting yang berjasa pada masa revolusi Indonesia. Ia mengusahakan pengakuan Vatikan untuk Republik Indonesia. "Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan itu penting," jelas Nirwan. Menurut Nirwan, berperan dalam film ini menuntut keseriusan dan harus total. Ia mencurahkan waktu selama dua bulan untuk Soegija. "Pada waktu itu saya meninggalkan pekerjaan dan keluarga saya. Tidak mungkin terlibat di film kalo komitmen bercabang-cabang. Selama dua bulan saya memberikan waktu untuk Soegija. Ini pekerjaan serius yg menuntut konsentrasi," ujar Nirwan. Selain Nirwan, sosok yang juga memiliki karakter kuat dalam film ini adalah Mariyem, yang diperankan Annisa Hertami. Cewek manis ini mengaku malu karena baru benar-benar mengenal sejarah. Ia mengenal tokoh Soegija ketika mendapat peran di film yang diproduksi dengan dana fantastis itu. Annisa mengaku banyak sekali perenungan yang bisa diambil dari film itu. Seperti nilai-nilai kemanusiaan, rasa cinta terhadap tanah air, dan ketegasan memilih untuk berkorban demi rasa cinta terhadap negara dan bangsa.Annisa memerankan sosok perawat yang jatuh cinta pada warga negara Belanda. Ada pertentangan bathin dalam diri Mariyem. Di satu sisi ia mencintai Hendrick, warga negara asing yang menjajah negerinya, di satu sisi ia sangat mencintai bangsanya."Film ini merepresentasikan nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana cinta secara fisik mewujud pada cinta kemanusiaan dan wujud cinta pada bangsa. Dia jatuh cinta sama Hendrick, penjajah Belanda. Ternyata di sisi laen dia sebagai seorang perempuan kalem, dia punya prinsip keras. Ada perang bathin, tapi pada akhirnya dia bisa tegas kalo dia lebih mencintai bangsanya," kisah Anissa. Menurut Annisa, film ini menghibur, tanpa mendagkalkan maknanya. Ia juga mengaku, apa yang disampaikan sang uskup, masih sangat relevan untuk disampaikan di masa sekarang. Penjelasan Nirwan dan Anissa juga diamini sang produser, Murti Hadi Wijayanto. Ia mengaku ingin mengangkat nilai yang kuat dari tokoh kebangsaan dari gereja Katolik. Menurut laki-laki yang biasa di sapa Romo Murti itu, film Soegija merupakan cerita sederhana namun menyentuh."Kita ingin memperlihatkan, ada kebaikan dibalik 'kejahatan'. Di film ini tidak ada orang yang benar-benar jahat," ujar Murti. "Kalo mengaku orang Indonesia sejati, harus nonton film ini," tutup Murti. Film melibatkan banyak aktor dan aktris baik dari Indonesia maupun dari Belanda dan Jepang. Film Soegija akan dirilis 7 Juni mendatang, dan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia. Kontroversi mengenai film Soegija marak dibicarakan di dunia maya dan Blackberry Messenger (BBM). Banyak orang menilai bahwa film ini akan mempengaruhi iman seseorang jika menontonnya. Mendengar hal itu, salah satu pemain dalam film ini, Butet Kertaradjasa menyayangkan adanya pendapat seperti itu."Tidak akan ada iman seseorang itu berubah hanya karena menonton karya seni. Saya kasihan kenapa orang berpikir sedangkal itu. Sama halnya dengan orang beli makan nanya ini yang masak agama apa, udah sunat belum? Kan lucu. Gosip itu saya anggap promosi gratisan aja," tutur Butet saat ditemui di Ballroom Hotel Gran Melia, Kuningan, Selasa, 16 Mei 2012. Pemain teater yang juga komedian ini juga menambahkan bahwa film garapan Garin Nugroho ini bukanlah film tentang keagamaan seperti yang ramai dibicarakan."Ini film tentang manusia yaitu seorang uskup pertama di zaman perang. Banyak perannya untuk negara ini salah satunya menghentikan perang 5 hari di Semarang antara Jepang, gerilyawan, dan pasukan Belanda," katanya. Di film ini, Butet berperan sebagai Koster Toegimin. Untuk mendalami karakternya tersebut, ia bertemu langsung dengan seorang koster di salah satu gereja. Film yang juga melibatkan sejumlah seniman ternama seperti Landung Simatupang, Djaduk Ferianto, Nirwan, dan Olga Lidya ini akan tayang 7 Juni 2012 mendatang. Butet berharap film ini dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dan memberi inspirasi tentang multikultural dalam basis nasionalisme."Jadi film ini tujuannya untuk menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme, kemanusiaan dan bagaimana harus bersikap dalam situasi yang tidak stabil," tambahnya. (ant/vivanews/metrotv.com)

Hanna Fransisca Luncurkan 3 Buku Sastra

Cita-citanya, sejak awal, selain ingin menyaksikan peluncuran tiga buku Hanna Fransisca, juga ingin bertemu banyak kawan. Bahkan, pagi-pagi, saya sudah membikin status di Facebook: “mari ngopi di TIM malam nanti….” sambil menempel berita tentang acara Hanna yang dimuat di portal sastra infosastra.com. Tujuannya, ya, mengirim pesan kepada teman-teman bahwa malam itu, Selasa (29 Mei 2012), saya akan berada di Taman Ismail Marzuki. Lalu Akmal Nasery Basral, sang novelis laris itu, menyahut status itu: “Mari!”. Niat ke TIM makin “mengharukan” ketika rekan cerpenis dan esais Damhuri Muhammad menulis status di FB begini: “menunggu dengan gembira Yanusa Nugroho, Benny Arnas, Akmal Nasery Basral, Kurnia Effendi, Endah Sulwesi, Rita Achdris, Bamby Cahyadi, Mustafa Ismail, MPu Gondrong Sae, Khrisna Pabichara, dll. banyak yang kagak bisa ditag, entah kenapa. mohon maaf”. Buat saya, ini cara mengundang yang sangat menyentuh sekali. Kelihatannya, saya tampak lebay (tiba-tiba saya jadi ingat Lebay Hamid di kampung, seorang ustad yang suka mengaji tengah malam di meunasah alias surau). Tapi beneran, teori-teori komunikasi menyebutkan (sory, aku tidak akan pakai catatan kaki dalam curcol ini meski dalam dua tahun terakhir ini sangat akrab dengan catatan kaki, bukan catatan paha ya) komunikasi tidak hanya cara menyampaikan pesan juga cara “memanusiakan” orang lain. Diwongke, kata orang Jawa. Tapeu ureung, kata ibu saya di Aceh. Intinya, dalam berkomunikasi, yang dipentingkan tidak hanya pesan, justru yang lebih penting adalah cara menyampaikan pesan itu. Oke, soal ini tidak perlu kita perpanjang, karena memang sudah cukup panjang ya. Kata teman saya, sesuatu yang panjang jangan suka dipanjang-panjangkan lagi, apalagi sampai melibatkan Mak Erot, Mak Eros, Mak Curot, atau mak-mak yang lain. Pendek kata, berangkatlah saya malam itu ke TIM. Setelah memarkir “sapi” di bawah sebuah batang pohon, di depan Graha Bhakti Budaya, saya pun berjalan ke Teater Kecil. Dari jauh — sebetulnya tidak terlalu jauh, ini cuma gaya hiperbola — penyair Giyanto Subagio (Maaf, saya tidak sempat tanya apakah ia ada hubungan dengan penyair Subagio Sastrowardoyo atau Dian Sastrowardoyo) melambai, menyapa. Sok akrab juga dia, padahal kami memang cukup akrab, he..he.. (Giyanto jangan marah ya, kalau suka marah entar cepat terkenal lo). Setelah berbasa-basi sebentar — inilah tradisi orang Indonesia yang masih tetap abadi — mau masuk ke dalam. E, di depan Teater Kecil ketemu lagi sama Iwan Kurniawan dan seorang rekannya. Iwank itu sebenarnya filosof, lulusan filsafat dari sebuah universitas di Yogyakarta, tapi kami lebih sering berdiskusi tentang blog dan ia jago bikin website. Kalau lagi iseng, coba deh mampir ke blognya di sini. Tapi tunggu dulu, sebaiknya Anda menyelesaikan membaca tulisan ini. Oke, saya lanjutkan ya. Setelah bertemu Iwank, begitu ia sering disapa, saya lihat seseorang berambut gondrong, berkaca mata, duduk di pembatas Teater Kecil, persis dekat toko buku penyair Jose Rizal Manua. Siapa dia? Sebentar, saya minum dulu ya. Tehnya tinggal sedikit, tapi lumyan untuk nambah tenaga. Saya teruskan ya. Untuk menjawab siapa orang ini, lebih baik saya memulainya dengan sebuah cerita. Pada tahun 1990 (atau 1989 ya, saya agak lupa), di Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh) muncul sebuah cerpen remaja, kira-kira judulnya “Masihkah Kau Sayang Padaku, Dini?” Penulisnya adalah seorang rekan penulis, yang namanya cukup akrab, meskipun waktu itu kami belum pernah saling kenal atau ketemu langsung. Membaca cerpen itu, saya teringat sebuah cerpen yang muncul di Majalah Ceria Remaja (yang diasuh oleh Nina Pane dan Sutardji Calzoum Bahri). Singkat cerita, saya bikinlah tulisan budaya untuk Serambi Indonesia dan membandingkan kemiripan kedua cerpen itu. Kala itu, redaktur budaya adalah Fikar W. Eda, penyair yang masih sekarang suka menggondrongkan rambut. Tulisan itu dimuat dan ramailah soal itu di kalangan seniman Aceh. Terjadi balas-membalas pantun di koran itu, antara saya dengan rekan penulis itu, yang kemudian — kalau gak salah — ditengahi oleh seorang sastrawan senior di sana, saya lupa kala itu siapa yang menulis menengahi polemik di media itu. Ketika saya hadir dalam acara Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki pada November 1996, saya baru ketemu dengan penulis cerpen yang karyanya “dijiplak” oleh rekan di Aceh itu. Namanya Remmy Novaris DM. Nah, dialah lelaki yang duduk di pembatas Teater Kecil itu. Mengobrol sebentar, lalu kami masuk ke Teater Kecil, mencicipi makanan Singkawang yang disediakan Hanna, lalu masuk ke dalam gedung Teater Kecil. Rupanya, tempat peluncuran buku Hanna sudah penuh. Banyak penonton yang berdiri. Kami sempat berdiri di bagian belakang sebentar, kemudian pindah ke bagian samping kanan. Di sana, kami bertemu Hanna. Kami bersalaman, sambil mengucapkan selamat. Lalu, kami pun duduk di blok tangga. Rupanya di bagian tangga bawah, ada penyair Irmansyah. Ia sedang asyik menikmati penampilan para seniman di atas pentas “Malam Sastra Hanna Fransisca” itu. Sesekali, ia merekam penampilan itu dengan kamera ponselnya. Saat duduk di situ, dekat tangga, saya sempat mengontak Fikar W. Eda lewat massenger, dan mengatakan saya sedang berada di TIM. Ia katanya sedang di Blora bersama Mustafa A. Glanggang, mantan wartawan Serambi Indonesia yang kemudian menjadi (mantan) Bupati Kabupaten Bireun, Aceh. Saya sempat tanya: apakah sedang bersama Zoel Sawang? Nama ini cukup top di Aceh. Selain sebagai pembaca puisi handal — kerap memenangkan berbagai lomba baca pus disana — ia juga Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, sekaligus pernah menjadi anggota DPRD Kota Banda Aceh selama beberapa priode. Sekarang ia berhikmat sebagai advokat. Di DKB, ia disampingi novelis/cerpenis Saiful Bahri (sebagai sekretaris) yang pernah dikenal dengan nama Xenonmicros — gara-gara sebuah novelnya “Terbuai Mimpi” menang lomba novel Balai Pustaka pada 1980-an. Saiful adalah penulis surealis. Novel dan cerpen-cerpennya cenderung posmodernistik. Tak lama, Fikar membalas pesan massanger dan mengatakan akan menuju ke TIM. Tiba di Teater Kecil, ia kembali mengirim pesan. “Aku sudah di Teater Kecil, tapi gak bisa lama-lama, karena harus menjemput anak-anak di Condet.” Menghadapi kata “Condet”, saya jadi ingat novel Ben Sohib berjudul “The Da Peci Code” yang kocak sekaligus tragik itu. Tapi, tentu, anak-anak dimaksud Fikar bukan sedang berada di rumah salah satu tokoh dalam novel Ben Sohib yang bersetting Condet itu. Intinya, begitu menerima pesan itu, saya beranjak mau ketemu Fikar. Rukmi Wisnu Wardhani, penyair yang belakangan lebih sibuk mengurus kebun pertaniannya di Facebook, yang baru ketemu Fikar di bagian depan, menyela langkahku. “Itu ada Bang Fikar di depan,” katanya. “Ya, aku mau ke sana,” balasku. Aku pun beranjak. Fikar lagi serius menonton. Setelah ngobrol sebentar di sana, sambil bisik-bisik (sory ya kalau ada yang sempat terganggu), kami berjalan ke luar. Di depan pintu, kami bertemu Pak Sapardi Djoko Damono, yang malam itu berpidato singkat tentang karya-karya Hanna Fransisca. Sempat mengobrol sebentar, Pak Sapardi pamit pulang. “Rumah saya jauh, di Ciputat,” katanya. Saya ingin menyahut, “Rumah saya lebih jauh pak, di Pamulang”, tapi tidak jadi, he..he… Ingat, jangan suka guyonan sama orang tua. Tapi memang betul, Pamulang itu lebih jauh dari Ciputat. Dari Ciputat, kita harus menempuh sekitar lima kilometer lagi untuk sampai di Pamulang. Kalau bingung, lihat peta di google ya. Kami lalu mengangsir ke salah satu bangku di lobi Teater Kecil. Kami ngobrol tentang rencana Fikar W. Eda yang akan membaca puisi di Bus Transjakarta, Minggu 3 Juni 2012 pukul 14.00. Teman-teman datang ya nanti. Ketemunya di Halte Busway di PGC Cililitan. “Parkir mobil di (mall) PGC, lalu langsung ke halte. Tak perlu keluar PGC. Halte ada di bawah PGC,” ujar Fikar penuh semangat. Pentas itu melibatkan dua kelompok didong, seni sastra tutur dari Gayo, Aceh Tengah. Fikar akan membaca puisi-puisi tentang masalah perkotaan dengan diiringi didong. Pentas itu, menggunakan busway gandeng. Teman-teman wartawan, saya yang diminta Fikar sebagai “humas” dadakan mengundang kawan-kawan untuk hadir ya. Dan silakan mengambil rilisnya di sini ya. Pentas ini adalah ujian akhir Fikar sebagai mahasiswa Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Siapa pengujinya? “Salah satunya Bang Merwan Yusuf,” kata Fikar. “Aku belum ketemu Bang Merwan nih,” ujarnya lagi. “Bang Merwan lagi nonton di dalam,” balasku. “Oh ya?” Lumayan lama juga duduk di lobi. Malam kian tua. “Atau besok aja ya kutelpon Bang Merwan,” katanya. Lalu, aku mengajak Fikar, ayo kita temui saja Bang Merwan. Fikar setuju. Kami pun masuk ke dalam. Begitu melihat kami, Bang Merwan yang dikenal sebagai kurator seni rupa itu melambai, mengajak duduk di kursi di barisannya yang tersisa dua buah. Sebelum sempat duduk, dari kursi penonton di bagian depan kami, Akmal Nasery Basral, melambaikan tangan. Aku lalu duduk paling ujung. Fikar duduk di tengah, antara aku dan Bang Merwan. Di sebelahku, duduk seseorang yang tak kukenal. “Permisi,” kataku padanya. “Iya, silakan,” kata seseorang di sebelahku itu. Siapakah orang di sebelah yang menggunakan kaos putih itu? Mari baca selanjutnya. Fikar sempat berbicara sebentar dengan Bang Merwan, sambil bisik-bisik tentu sehingga aku pun yang di sampingnya tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Tapi bisa kupastikan yang dibicaraka adalah soal pertunjukan Fikar. Bukan soal buah-buahan atau soal ikan depik di Danau Laut Tawar, apalagi soal Lady Gaga yang gagal datang ke Indonesia. Kalau Lady Gaga jadi datang, kali heran juga dia, kok ada ya seniman bikin pertunjukan dalam bus, apa gak takut dimarahin supir bus. Atau jangan-jangan ia justru terinspirasi pengin menyanyi di dalam metro mini. Pendek kata, sebelum acara benar-benar selesai, ia pamit pulang. Kami pun melepasnya seperti pahlawan pergi ke medan perang, diiringi tetabuhan rapai, seurune kalee, dan lagu bungong jeumpa yang dinyanyikan oleh pusukan inong dengan rencong di pinggang. Ups, jangan melamun. Kejadian tidak sedramatis itu. Biasa aja. Fikar pergi, dan saya kembali meneruskan menikmati Hanna yang sedang — di atas pentas — menyelesaikan baca puisinya. Baru ketika Hanna benar-benar menyelesaikan seluruh rangkain acara itu, baru saya meninggalkan kursi. Di lobi Teater Kecil, saya bertemu banyak teman, antara lain Binhad Nurochmad, Esthi Winarni, dan sempat pula ngobrol lama dengan Akmal. Ia bercerita baru saja menyelesaikan novel tentang salah seorang tokoh DI/TII di Aceh. “Sekarang novel itu sedang dicetak,” ujarnya. Obrolan sempat tersela dengan kehadiran beberapa teman lain. Kami lalu sepakat mau ngopi di gerbang TIM. Begitu keluar dari gedung Teater Kecil, aku bertanya: Damhuri kok gak kelihatan? “Itu Damhuri,” kata Akmal sambil menunjuk seseorang yang sedang ngobrol dengan seseorang lainnya di teras Teater Kecil. Setelah bersalamaan dan mengucapkan selamat — karena Damhuri Muhammad salah seorang yang mendukung suksesnya acara Hanna — seseorang berbaju putih datang, dan bersamalam juga dengan Damhuri. Ia menyebut nama, “Arif Gumantia.” Saya tersentak. Pikiranku menerawang ke Facebook. Saya punya teman di facebook dari Jawa Timur bernama Arif Guumantia. Rupanya benar, dialah rekan facebook itu. “Padahal tadi kita duduk jejeran ya,” ujarnya. Aku baru ngeh. Ternyata lelaki berkaos putih yang duduk di sampingku tadi adalah Arif. Kami kemudian memutuskan pergi ke gerbang TIM dan duduk lesehan di “bata merah” — begitu sebagian kawan-kawan menyebutnya. Padahal lantai yang berundak-undak itu bukan terbuat dari batu-bata, tapi dari keramik. Tapi memang warnanya merah. Di sana, akhirnya ngumpul banyak teman. Ada Akmal, Aris Kurniawan, Arif Gumantia, Esti Winarni, Rukmi Wisnu Wardhani, Damhuri, dan beberapa yang lain. Sehabis mengobrol ke sana-kemari, sekitar pukul 23.30, saya dan Akmal pamit, beranjak pulang. Sejumlah kawan lainnya tetap meneruskan nongkrong di sana, entah sampai kapan. Mungkin sampai sekarang. Nggak percaya, coba deh cek ke sana. [musismail.com] Penyair Hanna Fransisca meluncurkan buku di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Selasa malam (29/5) kemarin. Hanna secara bersamaan meluncurkan tiga genre sastra, buku kumpulan puisi “Benih Kayu Dewa Dapur”, kumpulan cerpen “Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” dan naskah lakon “Kawan Tidur”. Pada gelaran yang mengusung tajuk “Malam Sastra Hanna Fransisca” disemarakkan oleh oleh pembacaan cerpen oleh Joni Ariadinata, orasi Sapardi Djoko Damono, musikalisasi puisi oleh Arus Langit dan teater Garasi. Penyair Hanna Fransisca pada malam itu membaca puisi ”Benih Kayu Dewa Dapur” yang diiringi alunan musik etnik Tionghoa, Guzheng. Acara meriah dihadiri oleh sastrawan Abdul Hadi WM, Leon Agusta, Damhuri Muhammad, kritikus .dan para pecinta sastra. Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia), lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 30 Mei 1979. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan naskah drama. Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media antara lain Kompas, Koran Tempo dan Suara Merdeka. Sebelumnya, ia telah menerbitkan kumpulan puisi Konde Penyair Han (2010) yang mendapat pujian dari berbagai pihak. Buku itu kemudian menjadi Buku Sastra Terbaik pilihan Tempo 2010. Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu (Juni 2010). Selain menulis sastra, ia aktif di organisasi sosial dan profesi Lions Club Jakarta Kalbar Prima. Ia juga pengusaha bisnis otomotif dan menetap di Jakarta. Baru-baru ini, ia terlibat sebagai salah satu pelakon dalam pentas teater puisi “Kapal Penyeberangan Hukla” Leon Agusta di Taman Ismail Marzuki, 8-9 Mei lalu. Dramaturgi pertunjukan itu ditulis Afrizal Malna dan disutradarai Aidil Usman. (journalbali.com)

JAKARTA KECIL DAN MACETNYA “JET COASTER TEATER”

Catatan Pertunjukan “ Repertoar Sabun Colek “ Teater Stasiun, 24 Mei 2012 di Bentara Budaya Jakarta Oleh: Riyadhus Shalihin Biografi menonton pertunjukan Teater Stasiun tidak jauh berbeda dengan pengalaman kepenontonan saya sebelum menyaksikan “Jakarta kecil” di atas pentas. Jakarta sendiri seperti terminal drama yang membocorkan peristiwa acting terus menerus, aktor-aktor metropolis tanpa naskah, menonton teater di Kota ini disambut secara meriah oleh prolog-prolog faktual non estetik yang mungkin lebih simbolik, teatrikal, dramatik bahkan. Saksikan penyutradaraan kakek buta yang hampir tertabrak mikrolet, orang yang asyik makan ketoprak disamping gerobak sampah, emak dan anak tertidur nyenyak di balik tumpukan botol-botol bekas, lelaki yang sedang memukuli monyet di bawah jalan layang, anak-anak yang sedang mengejar layangan melawan arus lalu lintas, juga bau keringat para kernet serta supir metromini yang melengkapi seluruh kebutuhan indrawi pertunjukan, kegaduhan Jakarta menjadi riwayat penting bagi saya untuk menemukan identitas estetika di balik riuhnya kelahiran sebuah kondisi teater. Dalam teori akting dikenali “tubuh yang mengalami, tubuh yang menjadi, tubuh yang partisipatif“ maka dalam peristiwa kepenontonan pun banyak tercipta situasi seperti itu. Saya selalu percaya pertunjukan teater dengan megalomania artistik yang ultra ekletis sekalipun tidak pernah kabur dari muara sosiografinya, dan itulah salah satu yang membuat “kemenjadian” penonton mengalami peristiwa partisipatif timbul tenggelam, sebab kedekatannya yang nyaris tanpa jarak antara kesakralan teks, panggung dan riwayat pemeranan. Melaui leaflet yang disediakan panitia dapat diketahui bahwa Teater Stasiun bermula muncul dari kekerabatan geografis para senimannya yang berdomisili dekat dengan sebuah Stasiun yang bernama Stasiun Angke, ini merupakan point yang menarik dan mengingatkan saya pada Teater Kubur yang berlatih dan berproses di areal pekuburan Gang Kober Jakarta. Teater modern jakarta hidup dalam kondisi yang nyaris tanpa kebudayaan, mereka menghasrati teater dalam kemanusiaan yang nyaris sekarat, selain berhadapan dengan gigantisme perbelanjaan, Teater Jakarta berhadapan juga dengan kondisi seni di luar teater yang terus melakukan muslihat atas nama kontemporer, aktivitas korupsi kontemporer yang berujung transaksi niaga, terutama seni rupa dan seni lukis yang sedang memasuki musim “cukong melek seni”, seni rupa ramai dijadikan identitas legilslasi glamour para investor dan stakeholder bisnis. Memasuki estetika Teater Jakarta seakan berhadapan dengan pemeranan pabrik, pemeranan mereka diolah, dilumat dalam subjektifikasi mall-mall, menyisakan kebecekan acting, becek meninggalkan panggung menuju tempat kerja, dari acting ke demonstrasi outsourching, dari menghafalkan naskah drama menuju dialog tawar menawar barang curian, dari panasnya angkutan ojeg di siang hari menuju ruang Teater yang nyaman, dingin dan steril. Ini adalah estetika khas Jakarta yang terus terjaga, Teater yang membahasakan korelasi keindahan yang secara intens disinggahi oleh dramaturgi becek ala Jakarta minor. Robeknya televisi, sebuah kabar dari Soekarno Pertunjukan Repertoar sabun colek yang ditulis dan disutradarai oleh Edian Munaedi mempersilahkan kita untuk duduk menonton sekaligus mengusir kita dari teater. Satir Jakarta yang dipentaskan pada tanggal 24 Mei ini penuh dengan polusi biografis, teks bukan hasil pertapaan artistik , mereka menampilkan mimetisme teater yang bolong, rombeng juga polos. Sejak awal pertunjukan proses pengusiran itu sudah terjadi, para penonton disambut dengan set dekor yang menggantungkan kotak televisi di berbagai sektor pemanggungan, di atap, di depan, di samping dan di belakang panggung, seketika itu juga “robek” berita-berita politikus, iklan pembersih wajah, pelangsing tubuh, kecelakaan jalan, lumpur lapindo, pembagian BLT, demonstrasi buruh ditampilkan sekaligus, penonton seakan dicabut dari realitas konsumerisme TV menjadi negasi pentas yang menakutkan. Bahwa Gurita “jual beli bencana” televisi sedemikian dekatnya hingga tidak menyisakan ruang pengamatan, hingga akhirnya ketika diberi jarak panggung barulah terasa sedemikian mencengkramnya TV yang kita serap bagai sarapan pagi siang dan malam itu. Robeknya televisi membuat runtuhnya dinding pengalaman yang pertama, pengalaman mengalami TV dalam tubuh rumah dan tubuh teater menjadi sebuah persetubuhan atas nama TV yang menyakitkan. Setelah itu kemudian datang seorang aktor yang dinamakan “Blitz” dimainkan oleh Berry Ken Agnes yang menyampaikan dialog “ Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu, Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu “ kata – kata itu terus dilontarkan berulang-ulang hingga akhirnya panggung gelap. Dua pengawal pertunjukan itu menghantui sebuah kata Indonesia bagaikan Pidato Soekarno yang sedang tersenyum di televisi, sokerano dibangun di antara kondisi formal pidato dan kemerdekaan yang hanya bisa kita jumpai di perpustakaan saja, bukan saat menonton televisi di rumah, bukan di saat berita pagi, berita buruh yang sedang menjahit mulutnya sendiri, kita saksikan sambil mengunyah roti dan menyeruput segelas susu hangat. Pertunjukan kemudian berlangsung bagaikan peristiwa kelahiran yang cacat, berbiak tanpa ibu. Pertunjukan Repertoar Sabun Colek ini memang memakai kata repertoasi untuk menampilkan 3 sub drama yang berhubungan secara tidak situasional, menjadi suasana yang saling menyakiti peristiwa nya masing-masing. Sub Pertama adalah “ Knalpot Bajaj “ dimana seorang Bapak perantauan dari kampung Tegal yang bosan akibat anaknya meminta terus menerus uang dari dirinya, dan sang suami dari anaknya tersebut hanya bisa tidur dan meminta makan saja. Sub-sub desain artistik pertunjukan ditata secara baik oleh skenografer Edmun, pada adegan yang diberi nama kanlpot bajaj ini hadir seng-seng berkarat yang mengimpresikan sebuah gubuk pinggiran Jakarta. Bapak terus menceramahi anaknya yang tidak bisa menyuruh suaminya untuk bekerja, sedangkan sang anak memunggungi penonton dan tidak berkata apa-apa, sesenggukan, berlinang kesia-siaan, menangis dengan menyesali anomali akan krimanalitas domestik yang dilakukan suami pada keluarganya. Nmaun akhirnya sang Bapa memberikan juga sebagian uang kepada anaknya, khotbah panjang lebar akhirnya hanya menjadi polusi retoris ba, menukik namun akhirnya luluh juga. Aktor Toni Prahara sebagai bapak memancing kejenakaan yang terpatah–patah di antara bau baygon yang menjadi artefak bau, membawa saya mabuk, bau bakar baygon tidak pernah senikmat ini sebelumnya. Memotong kemaluan pertunjukan Sub drama selanjutnya dinamakan “ Got mampet “, memberitakan 2 wanita yang sama-sama dikecoh oleh hierarki gender. Wanita pada sub ini dijadikan ornamentasi non vital oleh lelaki-lelaki, hadir seorang Ibu disia-siakan oleh suami yang kerjanya hanya minta makan saja, dirinya sebenarnya tidak meminta apa-apa cukup hanya kasih sayang namun apabila itupun suami tidak dapat memberikan apalagi kebutuhan lainnya. Sedangkan Fitri anaknya adalah seorang penyanyi dangdut orkes yang disia-siakan oleh pacarnya yang merupakan pemilik orkes dangdut keliling tersebut, setelah dinikmati tubuhnya fitri ditinggalkan begitu saja. Sub ini ditampilkan menggunakan koreografi lakon yang hitam, bagaimana dialog-dialognya adalah dialog lumpur, yang jujur dan kotor. Ibu dan anak saling memaki dirinya sendiri lalu akhirnya luluh dalan ontologi kelembutan wanita yang paling alamiah. Set yang minimalis ini memang efektif untuk menciptakan imaji teateral bagi para penontonnya, suasana di belakang rumah yang pengap dan bau, dinding-dinding seng berkarat dan tata suara yang menandakan kedekatan gubuk dengan rel kereta api memparodikan urbanitas yang sesungguhnya, warna-warni belel, sebuah mozaik kemiskinan yang professional. Sang ibu yang diperankan Reni Kaha terlihat sedang mencuci baju para pelanggannya, ditemani oleh anaknya yang terus membanting radio, membanting handphone, intens menyulut roko, hingga berteriak-teriak sendiri, kekesalan sang anak akibat pacar yang tidak mau bertanggung jawab dan ibu yang menyesali dinikahi tukang tipu. Lampu mati tiba-tiba dan mereka saling erat berpegangan dalam ruang kewanitaan, sang anak yang diperankan Mega F yohana mengucap “bu kita potong aja yu kemaluan laki-laki, mentahnya aja enak apalagi kalau sudah digoreng“ sebuah jilatan acting yang sunyi dan anti sastra. Saya lupa dalam setiap adegan per adegan ada bongkahan acting di luar naskah yang dimanipulasi oleh Edi sebagai sutradara, seperti tadi pembocoran kata-kata Soekarno, serbuan televisi, Blitz yang memul-mukuli tubuhnya sendiri sambil mengucapkan kata-kata yang dicoretkan di gerobak-gerobak sampah, dan sebelumnya juga saat akan memasuki sub drama “Got Mampet” Mega F Yohana yang menjadi sang anak bergoyang dangdut, menyajikan kecentilan pentas untuk memperjelas biografi marjinalitas kedangdutannya. Matinya lampu yang disisipi dialog bagai memotong vitalitas liniernya kemaluan pertunjukan yang komunikatif dengan dialog-dialog seputar kemaluan hingga pemotongan kemaluan laki-laki. Sub drama yang terakhir menyajikan kooptasi hierarkis dalam bentuk tedekatnya. Sub yang dinamakan “Ojek Prihatin” ini ditandai oleh set pangkalan ojeg, hadir dua anak dan bapa yang tampak sama-sama gelisah menanyakan identitas kemiskinannya. Bapa yang sudah lama membangun dengan susah payah pangkalan ojegnya, dirinya tidak mau ada seorangpun yang ngojeg ditempatnya, itu namany menyaingi ekonomi sehingga siapapun akan dilawannya termasuk anaknya sendiri yang juga ingin ngojeg disitu. Yang menarik dari ini adalah identifikasi keurbanan yang betul-betul dibocorkan, Ndang Rumeksa sebagai bapa membasahi logat kebetawiannya dengan lengketan dialek sunda kasar pandeglang banten, terasa jelas sinkretisme linguistik yang barbar dari ulang-alik betawi dan sarkasme sunda daerah banten yang mempericuh lompatan acting. Ada pembauran romantisme daerah dan realitas kehidupan jakarta yang keras. Konflik terus berlanjut hingga hadir Aktor Haikal Sanad yang mencampuri identitas carut-martutnya perbiakan ras di Ibu Kota, Haikal yang berperan sebagai Usin Minyak bolak-balik menawarkan minyak parfum ala timur tenagh dengan kekentalan logat arab betawi condet yang komikal, Usin bertingkah sibuk, peduli, perhatian ternyata hanya untuk menjajakan kebutuhan ekonimnya. Berbelat-belit Usin bersantun kata akhirnya memang Jakarta hanya menawarkan putaran erotisme niaga saja. Lampu gelap, sebuah dunia yang patut disimak. Musik pertunjukan yang ditata oleh Mameth Tgong ini memang memaki imaji robotikal dan industrial kota, memberikan kolom nada yang membakar jantung kemanusiaan siapapun yang hendak datang ke kota Jakarta, Mameth menyuasanakan sebuah pengumuman suasana dan peringatan, pemompaan akselerasi ekonomi hingga mencapai titik maksimum kemuakannya. Kemuakan-kemuakan itu saya catat secara runut, seperti biasa dalam sebuah peristiwa teater lampu akan selalu gelap di seputar penonton hingga lakon teater selesai dipertunjukkan. lampu gelap adalah sebuah dunia yang jujur, nyinyir, sarkas, barbar dan juga mulia, sebuah dunia yang patut disimak. saat lampu gelap kita akan menemukan kejujuran tanpa wajah, hanya ada suara yang bisa kita dengarkan, bagaimana mereka menertawai aktor, melepaskan enersi mahkluk jakarta yang memenjarakannya, saya mengamati pada pertunjukan ini penonton terkuras untuk konsentrik menikmati daya artistik pertunjukan, lepasan tawa dan dahaga rutinitas menjadi sebuah kesenangan bersama yang sakral, lampu gelap memfasilitasi sebuah kemanusiaan tanpa martabat, kemanusiaan yang membiarkan diri kita melepas penat kerja, sebuah dunia sederajat yang tidak mengenali pakaian apa yang sedang kita kenakan, berapa banyak uang yang sedang kita simpan di dompet, mobil apa yang kita pakai, semua melebur dalam dunia agoni yang puitik, hanya ada suara , bau tubuh dan dengus nafas yang memburu, dengan caranya teater menyimak secara haru nestapa dirinya sendiri, sayangnya lampu gelap hanya ada sekejap dalam dunia seni pertunjukan, dalam dunia aktual “ke-terangan” hanya menyembunyikan kejujuran sebuah kemanusiaan. Kebudayaan yang tidak telanjang Mengapa kita rela menunggu lama demi menyaksikan sebuah pertunjukan teater, setelah lelah seharian beraktivitas mengapa tidak lekas tidur saja membuat susu, lalu berselimut dengan nyaman menyongsong hari esok. Teater memberikan perayaan bagi istirahatnya sebuah kapitalisme kemanusiaan, Teater memberikan kita sebuah ruang tanpa justifikasi jual-beli, dunia bohong-membohong yang seksi. Namun sayangnya dalam pertunjuakn sabun colek ini akhir yang telah tertata sedemikian erotik sedari awal tidak menemukan maksimalitasnya di akhir pentas. Hingga Sub drama “tukang ojeg” berakhir maka televise-televisi menyala kembali, serbuan televisi itu menyedot kembali janji-janji palsu para politisi, tensi kepenontonan pun meningkat, adrenalitas acting meninggi menghantarkan kita pada “jet coaster Teater”. Kemudian sang blitz masuk lagi dan menyatakan kembali koar-koar soekarnoisnya “kebebasan adalah hak segala bangsa“ terus diucapakan sambil satu persatu dia melepaskan jas serta pakaian yang dia pakai, kemudian satu persatu aktor yang tadi dibangun “termuntahkan” melewati sang blitz, mereka tetap bertengkar dalam peristiwanya sendiri-sendiri, berjoged dan menyanyikan dangdut, menjual parfum, anak dan bapa bertengkar saling merobek kejenuhannya pada kota sambil berlalu lalang dari kanan dan kiri panggung, saya terus tertarik pada sang blitz yang mempreteli pakaiannya satu persatu menuju telanjang, saya seakan menyaksikan realitas Jakarta yang membuat miniatur tubuh warganya hingga tidak berdaya, bertelanjang dalam topeng jas dan pakaian kantor. Namun setelah musik berhenti ternyata Berry Ken Agnes hanya berhenti membuka pakaiannya pada legging saja, dia tidak meneruskan pemretelan ketelanjangannya hingga benar-benar melucuti seluruh pakaian, saya merasakn ini adalah ketelanjangan yang masih didominasi oleh antah-berantah norma ataupun budaya yang justru akhirnya menghasilkan kebudayan yang tidak telanjang seperti yang dicita-citakan dari awal drama, saya fikir akan terjadi peritiwa yang lebih metaforik apabila Berry melepaskan saja seluruh hiruk-pikuk realitas Jakarta kecil yang telah dibangunnya tentu dengan simbol pakaian kantor yang dia kenakan, akhirnya adegan akhir menjadi sebuah ketelanjangan Jakarta yang tanggung, barbarisme yang belum sepenuhnya menelanjangi penonton. Saya teringat pada Aktor Zainal Abidin Domba yang bertelanjang dalam sebuah pertunjukan Teater SAE namun tetap tubuh telanjang yang menjadi performa adalah sebuah puitisasi ruang yang tidak birahial namun lebih kepada streching ruang menuju ketegangan “jet coaster teater” yang paling menekan, saya kira ada kebijakan gedung atapun tata aturan undang-undang kesopanan yang kini menyusupi kepentingan seni yang otentik, tata keadaban ini tidak se-egaliter seperti dahulu, juga ditambah dengan bermunculannya kelompok-kelompok garis keras agama, hal-hal tersebut bisa jadi sebagai bahan pertimbangan Sang Sutradara. Sayang sekali agama atau politik dalam sebuah era yang katanya reformis mengkapitalisasi seni-seni yang jujur, seni kini dijubahi oleh topeng undang-undang yang akhirnya tidak membebaskan kemanusiaan, meski hanya dalam satu pertunjukan Teater.***

Sabtu, 21 April 2012

Teater Garasi Pentaskan Goyang Penasaran di Salihara

Balas dendam seorang penyanyi dangdut yang penasaran dengan guru mengajinya.

Bagaimana jika seorang penyanyi dangdut yang diidolakan para lelaki dan dianggap merusak moral ternyata jatuh penasaran pada seorang guru mengaji. Inilah kisah hidup Salimah, seorang penyanyi dangdut yang membuat para lelaki bertekuk lutut di hadapannya.
Salimah bisa saja memilih salah satu dari penggemarnya. Salah satunya Solihin, pemuda perlente yang kemudian menjadi lurah. Meski lamarannya pada Salimah ditolak, namun Solihin tetap bertahan. Sayangnya Solihin tak tahu bahwa Salimah begitu penasaran pada Haji Ahmad, guru mengajinya semasa remaja.
Ironisnya, Haji Ahmad inilah yang menjulukinya sebagai sumber dosa di kampungnya. Lelaki ini pula yang membuatnya turun panggung dan terusir dari desanya. Dua tahun kemudian, Salimah yang telah penasaran, kembali untuk menuntut balas.
Kisah horor ini adalah jalan cerita lakon Goyang Penasaran yang dipentaskan Teater Garasi dari Yogyakarta di Teater Salihara, yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Kamis (19/4) dan Jumat (20/4), pukul 20.00 WIB. Tiket pertunjukan ini dijual Rp50 ribu untuk umum dan Rp25 ribu untuk mahasiswa.
Skenario lakon ini ditulis oleh Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi yang diangkat dari cerpen berjudul sama karya Intan Paramaditha yang berada dalam bagian buku Kumpulan Budak Setan, berisi kumpulan cerita pendek hasil pembacaan ulang karya-karya horor Abdullah Harahap oleh Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, dan Ugoran Prasad.
Pada hari terakhir, 20 April, setelah pentas akan diadakan diskusi terbuka dengan para seniman yang terlibat dalam pertunjukan Goyang Penasaran.
Sehari kemudian, 21 April, tim pertunjukan lakon ini mengadakan diskusi bertema Gender dan Agama dalam Seni dan Media di Newsmuseum Kafe di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. (brt-1)

Puluhan Murid SD Berprestasi Kunjungi Nissan

Puluhan murid kelas 5 (lima) dengan ranking terbaik dari 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) dari SDN I Dangdeur, SDN II Dangdeur, SDN I Cigelam dan SDN II Cigelam mengunjungi Pabrik PT Nissan Motor Indonesia (NMI) di kawasan Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat, baru-baru ini.

Kunjungan yang telah dilaksanakan ke-enam kalinya ini dapat terselenggara atas kerjasama NMI dengan pengurus Japan Club Kawasan Bukit Indah (KBI-JC). Kegiatan ini merupakan salah agenda dari program Nissan for Education, sebuah program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkesinambungan dari NMI. Program ini dilaksanakan sebagai wujud komitmen NMI dalam memajukan dunia pendidikan di tanah air yang pada tahun ini kembali difokuskan pada sektor pendidikan.

Dalam kunjungan tersebut, sekitar 24 murid berikut 6 guru pendamping berkesempatan mengikuti kegiatan plant tour. Melalui kegiatan ini, NMI ingin membagi pengetahuan kepada para murid mengenai proses produksi kendaraan Nissan mulai dari proses welding, painting, assembling, hingga vehicle quality control. Selain itu, juga termasuk proses dan prosedur keselamatan kerja yang diterapkan di pabrik Nissan.

“Kami ingin memperkenalkan otomotif sejak dini kepada anak-anak diusia sekolah. Tentunya dengan kegiatan plant tour ini, anak-anak akan lebih mudah memahami dunia otomotif. Di Nissan, kami percaya pendidikan salah satu aspek penting untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Toru Takahashi, Vice President Director Manufacturing NMI, Kamis, Purwakarta.

Di akhir acara, NMI memberikan presentasi mengenai profil perusahaan serta menggelar kuis berhadiah bagi para murid yang pertanyaannya seputar aktivitas plant tour. Aktivitas ini diselenggarakan agar anak-anak bukan hanya sekedar tour saja namun dapat mengingat kembali pengetahuan otomotif yang sudah diajarkan kepada mereka.

“Antusiasme para murid dalam mengikuti kegiatan ini sangat besar. Ini merupakan kegiatan yang menyenangkan, bermanfaat dan memberikan pengalaman baru bagi mereka. Semoga kegiatan ini dapat terus dipertahankan oleh NMI khususnya bagi para murid yang bersekolah di sekitar kawasan pabrik NMI di Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat,” tutup Ela Tati Hayati, perwakilan guru dari SDN II Cigelam Purwakarta. (tim)

Sabtu, 14 April 2012

Pameran Domestic Stuff dalam Forum Perempuan

Domestic Stuff adalah pameran seni rupa mengenai wilayah domestik dengan segala dimensi dan isu yang melingkupinya. Ketujuh seniman yang terlibat dipilih oleh Mella Jaarsma dan diminta untuk mengajak seorang seniman lain untuk berkolaborasi. Yakni, Lidyawati, Amrizal Salayan St. Parpatih, Maria Indria Sari, Samuel Indratma, Sekarputri, Mufti “Amenk” Priyanka, Ariani Darmawan,Ferdiansyah Thajib, Restu Ratnaningtyas, Agung Kurniawan, Mie Cornoedus, Setu Legi, dan Melati Suryodarmo, dan Afrizal Malna.Pembukaan Pameran Domestic Stuff yang masih dalam rangkaian kegiatan acara Forum Perempuan Seni Indonesia ini, diselenggarakan pada Sabtu, 14 April 2012, pukul 19.00 WIB. Terbuka untuk umum dan gratis. Diadakan di Galeri Salihara, pameran ini berlangsung hingga 06 Mei 2012.
Melalui karya-karya ini, para seniman dapat secara jujur menangapi dan mengkritik fenomena sosial dan mengekspresikan pendekatan mereka atas realitas secara personal. Yang akan dilihat dalam pameran ini adalah pengalaman domestik tiap seniman ketika berkenaan dengan isu yang lebih luas—seperti lingkungan hidup, identitas, sejarah, dan sebagainya; serta konstelasi dari beragam hal yang privat ketika bersanding dengan perkembangan publik.
Domestic stuff boleh jadi mulai dengan sudut pandang perempuan terhadap dunia domestik. Tetapi, menampik esensialisme tentang keperempuanan, para seniman perempuan ini tampil serba-terbuka dengan berkolaborasi dengan para seniman lelaki yang mereka pilih sendiri. Pameran dengan kurator Mella Jaarsma ini menggarisbawahi bahwa yang feminin adalah yang berubah, yang rajin merangkul yang beda. Bahwa yang domestik adalah kritik bernada humor terhadap kejantanan, kebisingan dan adu kuat di luar sana. Bahwa memandang, menciptakan tata rupa, ialah langkah penting dalam menciptakan yang bersifat publik.
Pameran ini dikuratori oleh Mella Jaarsma, perupa dan kurator kelahiran Belanda yang menetap di Yogyakarta. Sejumlah karyanya dipamerkan, antara lain, di Singapore Art Museum, Singapura, dan Third Asia Pasific Triennale, Brisbane, Australia. Bersama Nindityo Adipurnomo ia menerima The John D. Rockefeller 3rd Award (2006), dan Anugerah Seni dari ISI Yogyakarta (2008). (slr)

Teater Garasi Pentas dalam Rangka Forum Seniman Perempuan

Program ini adalah bagian dari Forum Seniman Perempuan Salihara 2012, yang berlangsung selama April—Mei 2012. Pementasan Teater Garasi dari Jogjakarta bertajuk Goyang Penasaran menampilkan kisah Salimah, seorang penyanyi dangdut, di tengah masyarakat yang memuja sekaligus menghujatnya. Banyak lelaki yang rela bertekuk lutut di depannya. Karena dianggap merusak moral, Salimah dilarang pentas oleh Haji Ahmad, guru mengajinya semasa remaja.
Dua tahun kemudian, ia kembali ke kampung dan menuntut balas. Lakon ini mengolah moda horor untuk mempersoalkan cara kita memandang tubuh, seksualitas, agama, dan kekerasan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Lakon ini adalah proyek kolaborasi Teater Garasi yang diadaptasi dari cerpen Intan Paramaditha dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Naomi Srikandi, serta didukung oleh Empowering Women Artists Yayasan Kelola (2010—2011). Teater Garasi adalah kelompok seniman dan laboratorium seni pertunjukan yang berkomitmen mengembangkan idiom-idiom pertunjukan yang segar dalam upaya membangun dialog yang kritis dengan publik/lingkungannya. Karya-karyanya termasuk Waktu Batu, Repertoar Hujan, Je.ja.l.an, dan Tubuh Ketiga. Beberapa di antaranya telah dipentaskan di festival internasional.
Pertunjukan teater “Goyang Penasaran” ini akan berlangsung di Teater Salihara pada Kamis—Jumat (19-20) April, pukul 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 50.000.
Mengalihkan sebuah cerita pendek atau karya sastra lainnya menjadi sebuah karya pentas adalah sebuah alternatif bagi pengayaan naskah teater. Tetapi itu berlangsung bukan tanpa masalah, misalnya antara mempertahankan watak karya sastra dan mencari kemungkinan pemanggungan yang dibayangkan sutradara. Bagaimana jika keduanya bertemu dan membicarakan kemungkinan pemanggungan karya tersebut? Intan Paramaditha selaku penulis cerpen “Goyang Penasaran” dan Naomi Srikandi selaku sutradara akan berbagi pengalaman seputar kolaborasi mereka dalam menulis naskah dan memanggungkan lakon Goyang Penasaran.
Diskusi “Goyang Penasaran: Dari Cerpen ke Panggung” akan berlangsung di Teater Salihara, Jumat, 20 April 2012, pukul 21:30 WIB (setelah pertunjukan). Terbuka untuk umum, tempat terbatas. Pendaftaran paling lambat Kamis, 19 April 2012

Gabung Teater Kolom untuk Profesionalisme (1)

Profil Stefen Zhou


Perjalanan karir Stefan Zhou merantau ke Jakarta terbilang nekad. Karena dia merantau tanpa punya saudara di Jakarta, sekitar tahun 2000. Dia memutuskan berangkat ke Jakarta karena semata-mata ingin menyalurkan bakat seninya, terutama di bidang seni teater. Stefan mengenal teater pertama kali, tahun 1988. Saat masih duduk di bangku sekolah SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia diajak bergabung bersama grup Enggang Terbang Mandiri dan sempat ikut pementasan dalam naskah Sam Pek Eng Tai berperan sebagai bapaknya Eng Tai. Tak tanggung-tanggung, grup ini mengadakan pementasan selama satu bulan, berkeliling seluruh kota di Kalimantan Barat.

Karena dia lebih memilih ke Jakarta untuk mencoba peruntungan nasib, maka grup teaternya dilanjutkan dengan membentuk sendiri bernama Masqurade Theater, sejak 2005 di Jakarta. Grup teater ini diklaim sebagai hobi oriented, bukan profit oriented. Walaupun pementasannya lebih banyak di mal-mal pada acara berkaitan Perayaan Imlek dan Cap Go Meh maupun undangan pentas lain di mana pun. Grup ini akan dipertahankan Stefen sampai seumur hidupnya. Walaupun Stefan sudah mulai banyak bergabung dengan grup teater-teater professional, seperti Teater Kolom Jakarta.

“Sebenarnya saya pernah ikut main dalam pentas drama musical berjudul Cinta, tapi tidak usah disebutkan nama grupnya. Saya tidak enak. Karena saya cuma jadi bintang tamu, pada pementasan di Universitas Bunda Maria, kawasan Lodan, Jakarta Utara, baru-baru ini,” ujar Stefan zhou di sela-sela berlatih teater bersama Teater Kolom di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (31/3).

Diakuinya, walaupun grup teater bentukannya masih terus dipertahankan, tapi dia mengaku masuk Teater Kolom untuk tempat menimba ilmu sekaligus menyimpan cita-cita ingin maju bersama Teater Kolom. “Saya bukan mau muluk-muluk, tapi saya merasakan dan melihat ada sesuatu yang menjanjikan bersama Teater Kolom. Karena itu, biar saya tidak ikut terlibat main, saya akan datang setiap jadwal latihan rutinnya. Tapi saya juga tidak mau menutup tawaran untuk panggilan mentas buat grup saya sendiri,” papar pria kelahiran Pontianak, 26 Agustus 1980.

Diakuinya, bakat seni tidak mendapat keturunan dari orangtuanya. Karena kedua orangtuanya seorang wiraswasta. Dia mendapat bakat seni sejak kecil sudah sering terlibat dengan dunia kesenian.Tapi bakat usaha dari orangtuanya justru yang mengalir. Karena dia sekarang membuka butik dan grosir pakaian di Pasar Pagi Mangga Dua Blok B 55 bernama Toko Louis. “Bisnis ini saya rintis bersama saudara sepupu, sejak tahun 2005. Ini karena saya sudah punya pengalaman lebih dulu di bisnis fashion selama di Jakarta. Saya sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko teman di Mangga Dua Square,” kenang anak tunggal dari pasangan Suhendro Zhou (almarhum lima tahun lalu) dengan lim Su Ngo. (tim/bersambung)