Kamis, 31 Mei 2012
Kamis, 29 Maret 2012
Girlband CherryBelle RambahDunia Film Lewat Love I U

Fenomena boyband dan girlband memang sedang tren di Indonesia. CherryBelle merupakan salah satu girlband di Indonesia yang cukup sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia. Kini, tidak hanya menjajal dunia tarik suara, CherryBelle juga mulai terjun ke dunia film. Love Is You, film perdana mereka mulai tayang 29 Maret kemarin. Semakin hari nama CherryBelle semakin melejit di dunia tarik suara. Tapi kini tidak hanya di dunia tarik suara saja, girlband pelantun lagu 'Dilema' ini juga mengasah kemampuan akting mereka di film layar lebar pertama mereka 'Love is U'.
Film yang berdurasi 90 menit ini menyuguhkan cerita tentang persahabatan, kekompakan, dan kesuksesan yang diraih CherryBelle. Tidak hanya itu, film yang 70 persen diambil dari kehidupan nyata mereka juga menceritakan tentang cinta, cinta terhadap keluarga maupun sahabat.
Cerita berawal dari masa-masa karantina, awal karier CherryBelle. Memang tidak mudah menyatukan isi kepala dari sembilan orang. Masing-masing orang punya ego, kebiasaan, keinginan, dan pemikiran sendiri. Hal-hal tersebut membuat girlband yang gawangi oleh Cherly, Anisa, Wenda, Angel, Auryn, Christy, Devi, Felly, dan Gigi mempunyai masalah-masalah kecil di luar panggung.
Hal-hal kecil tersebut membuat Victor, sang manajer, resah. Takut masalah semakin besar, Victor menempatkan CherryBelle di sebuah rumah untuk tinggal bersama dalam sebulan. Selain untuk melatih vokal dan tarian, Victor juga ingin mempererat hubungan mereka. Agar mereka lebih mengerti satu sama lain dan lebih mengerti arti kekompakan untuk grup mereka.
Tetapi masalah-masalah kecil tetap terjadi. Anisa iri dengan Gigi karena Gigi jago dalam hal menari, begitu juga sebaliknya. Gigi merasa iri dengan Anisa karena Anisa mempunyai suara yang lebih bagus darinya. Tidak hanya itu, konflik juga terjadi antara Felly dan Christy. Felly selalu merasa kesal karena selalu dibilang kembar dengan Christy. Banyak kesensitifan terjadi dalam film ini.
Berbeda dari permasalahan personel Chibi (singkatan CherryBelle) yang lain, Cherly dan Wenda mempunyai masalah keluarga sendiri. Cherly yang tidak bisa menerima ayahnya yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya karena telah meninggalkannya selama 15 tahun dan Wenda yang mempunyai Ibu yang sangat sibuk sehingga Wenda merasa kurang mendapatkan perhatian dari Ibunya. Tetapi dengan konflik-konflik itu, membuat hubungan persahabatan CherryBelle semakin erat. Mereka saling mendukung, menjaga dan lebih mengerti satu sama lainnya. Tentu saja film yang banyak diselingi dengan nyanyian ini mempunyai akhir yang 'happy ending'. Cerita yang ringan dan mudah ditebak, cocok untuk para penggemar CherryBelle yang tergolong untuk anak-anak atau remaja.
Menyatukan visi dan misi 9 orang tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi dalam sebuah girlband yang menuntut kekompakan dalam menari dan menyanyi. Begitulah dengan kisah terbentuknya Cherry Belle.
Di balik penampilan mereka yang selalu kompak, ternyata butuh perjuangan panjang untuk mencapainya. LOVE IS YOU merangkum setiap persoalan yang dihadapi masing-masing personel sejak girlband ini terbentuk. 9 orang gadis terpilih dari sekitar 15 orang gadis yang mengikuti audisi terakhir untuk pembentukan sebuah girlband. Cherly, Anisa, Wenda, Angel, Christy, Devi, Felly, Gigi, dan Auryn akhirnya terpilih. Maka terbentuklah Cherry Belle.
Dalam perjalanannya untuk menjadi grup yang kompak dan harmonis, kesembilan gadis ini harus hidup bersama selama sebulan di sebuah rumah, di mana mereka tidak hanya akan belajar menari dan menyanyi, tapi juga belajar berteman. Dan yang terpenting belajar tentang hidup. Dari awal, Felly dan Christy yang berwajah paling serupa dan memiliki perilaku yang juga hampir sama sering membuat teman-temannya terkecoh. Kadang Felly disebut Christy, dan Christy disangka Felly. Dan yang paling sering salah mengenali mereka biasanya adalah Angel, yang tidurnya justru bersebelahan dengan mereka. Manajemen menangkap kemiripan mereka sebagai ‘nilai jual’. Dan mereka pun menemukan solusi bersama.
Setiap latihan menari, Anisa selalu merasa tak seluwes teman-temannya. Dan terkadang ia merasa minder dengan keluwesan Gigi menari. Semakin sering mereka latihan, ia semakin merasa minder. Saat salah satu koreografer mereka sedang berhalangan hadir, Gigi lah yang ditugaskan untuk memimpin latihan. Saat latihan dengan Gigi itulah, rasa tak percaya diri Anisa menjadi-jadi. Akhirnya suatu saat kepercayaan diri Anisa sudah jauh lebih baik justru Gigi lah yang berperan aktif membangkitkan kepercayaan dirinya.
Ada lagi kisah Cherly dan Ayahnya (Leo Lumanto). Ayah yang sudah tak pernah ia lihat sejak ia berusia 5 tahun, tiba-tiba menghubungi untuk mengajak bertemu. Sejak Ayah dan Ibunya (Fifie Buntaran) berpisah, ia selalu menyalahkan dirinya sebagai penyebab perpisahan orang tuanya. Hal ini ternyata berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Ia merasa tak diinginkan ayahnya, sehingga Cherly jadi pribadi yang agak tertutup dan mudah menyalahkan dirinya sendiri. Cherly berkata dirinyalah yang menyebabkan perpisahan Ayah dan Ibunya sehingga menjadi gusar.
Kedelapan Chibis ini kemudian menyanyikan lagu Beautiful, menghibur lara Cherly. Suatu hari, kesehatan Auryn turun mendadak. Ia batuk, pilek, dan demam. Akibatnya ia tak bisa ikut latihan. Teman-temannya dikejar jadwal yang padat. Nyaris tak ada yang menemaninya selama ia demam tinggi, dan berkali-kali muntah. Masih dalam masa karantina, dia merasa teman-temannya tidak ada yang peduli.
Masalah Wenda yang ‘dingin’ dengan Ibunya memuncak ketika Ibunya menolak hadir di pertunjukan Cherry Belle. Dan akhirnya mereka bersama-sama bernyanyi untuk Wenda, I’ll Be There For You. Di tengah canda riang mereka, selalu ada persoalan yang harus dihadapi. Namun, semakin banyak persoalan yang dihadapi, semakin besar pula kekompakan mereka. Tak ada masalah yang tak bisa dipecahkan. Cherly dengan Ayahnya, Wenda dengan Ibunya, dan masih banyak persoalan lain justru menjadi inspirasi untuk menyanyikan lagu Love is You.
Nama Hanny R. Saputra sudah tak asing lagi di jagat perfilman nasional. Hanny sempat menjadi perbincangan ketika menyutradarai film "Virgin" pada tahun 2004. Keberhasilan film "Virgin" tidak membuat Hanny besar kepala, justru melecut dirinya untuk terus berkarya. Hanny kembali melejit ketika sukses menyelesaikan film "Di Bawah Lindungan Ka’bah" pada tahun 2011. Pada tahun ini, Hanny kembali mendapat tantangan untuk mengarahkan “Mereka personel girl band Cherrybelle dalam film "Love Is U". Dalam film tersebut Hanny dihadapkan pada perilaku personel Cherrybelle yang masih kekanak-kanakan. Mereka memang unik. Wajahnya naif, ekspresinya masih terlihat anak-anak. Banyak yang spontanitas. Saya sendiri awalnya tidak mengerti, mengapa banyak yang suka kepada mereka. Mungkin mereka menunjukkan apa adanya. Tidak merasa sok seksi," ujar sutradara kelahiran Salatiga Jawa Tengah 11 Mei 1965 ditemui di Planet Hollywood Jakarta
Menurut Hanny, ada beberapa yang diubah untuk kebutuhan cerita. Namun hampir 70 persen cerita dalam "Love Is U" merupakan kisah nyata. Mengungkapkan perjalanan dan kisah hidup personel Cherrybelle. Para personel Cherrybelle dikumpulkan dan sempat dikarantina.
Tetapi masalah-masalah kecil tetap terjadi. Anisa iri dengan Gigi karena Gigi jago dalam hal menari, begitu juga sebaliknya. Gigi merasa iri dengan Anisa karena Anisa mempunyai suara yang lebih bagus darinya. Tidak hanya itu, konflik juga terjadi antara Felly dan Christy. Felly selalu merasa kesal karena selalu dibilang kembar dengan Christy. Banyak kesensitifan terjadi dalam film ini
Berbeda dari permasalahan personel Chibi (singkatan CherryBelle) yang lain, Cherly dan Wenda mempunyai masalah keluarga sendiri. Cherly yang tidak bisa menerima ayahnya yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya karena telah meninggalkannya selama 15 tahun dan Wenda yang mempunyai Ibu yang sangat sibuk sehingga Wenda merasa kurang mendapatkan perhatian dari Ibunya. Tetapi dengan konflik-konflik itu, membuat hubungan persahabatan CherryBelle semakin erat. Mereka saling mendukung, menjaga dan lebih mengerti satu sama lainnya. Tentu saja film yang banyak diselingi dengan nyanyian ini mempunyai akhir yang 'happy ending'. Cerita yang ringan dan mudah ditebak, cocok untuk para penggemar CherryBelle yang tergolong untuk anak-anak atau remaja. Love is U' tayang di bioskop mulai Kamis (29/3/2012) mendatang. (tim)
Film Histeria Akhirnya Beredar Mulai Hari Ini
Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya pembuatan film Histeria rampung dan berhasil mewujudkan cita-cita dan kerja keras lewat Starvision. Ceritanya berkisar soal kelima anak muda berbakat yang diberikan ruang dan kesempatan bagi para sutradara-sutradara muda berbakat untuk membuat film pertama mereka yang dirilis secara komersil di bioskop-bioskop.“Bagi Starvision membuat film bukan sekedar memberi tontonan semata, tetapi film adalah spirit dengan enerji yang sangat kuat dari pembuatnya, untuk ditularkan kepada penontonnya. Ketika Upi membawa proposal pembuatan omnibus yang akan diproduserinya, dengan mengajak kreator-kreator muda yang telah berkiprah sebagai pembuat film-film pendek handal dan meraih berbagai penghargaan, jebolan institusi yang membekali bakat yang diasah berbagai pengalaman. Saya segera tertarik karena spiritnya,” kata Chand Parwez Servia, Produser Starvisionplus usai prepiew film Histeria, Selasa (26/3/2012) di Planet Hollywood, Jakarta.
Lebih lanjut dikatakan, era kebangkitan baru perfilman nasional melahirkan banyak kreator baru yang “ujug-ujug”. Padahal, era ini sangat perlu mengedukasi penonton dengan karya-karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga, memberi pengalaman menonton yang baik, sebagai investasi meningkatkan habit menonton film nasional. “Pembuatan omnibus dengan 5 karya dari 5 tim kreator muda yang penuh semangat dan memiliki ide-ide orisinal adalah upaya Upi yang brillian. Persoalannya adalah bagaimana karya ini harus tetap ‘dekat’ dengan penontonnya agar tidak jauh asap dari api,” imbuh Parvez.
Starvision menyetujui proyek omnibus yang awalnya belum ada judul. Beberapa cerita segera dipelajari. Belajar dari pengalaman beberapa negara yang sukses dengan omnibus, akhirnya genre thriller yang dipilih. “Kita mencoba menggabungkan 5 ide, dari 5 tim produksi, 5 sutradara, menyajikan 5 mimpi buruk. Sesi-sesi presentasi dari 5 tim ini sungguh mengagumkan. Upi dengan sabar dan telaten mendampingi, sehingga sejak awal pra produksi dipahami sangat baik melalui prosedur yang semestinya untuk membuat film. Diskusi-diskusi desain produksi berjalan hangat dan lancar. Eksekusi produksi adalah ujian utamanya. Film yang kemudian diberi nama HI5TERIA itu pantas disebut sebagai karya Upi terbaik. Upi sungguh telaten menjadi produser aktif dan menularkan kepiawaiannya pada kreator-kreator muda berbakat,” jelasnya.
Starvision melibatkan tim post produksinya, dengan kreatif editor yang disupervisi oleh Cesa David Luckmansyah, musik oleh Tya Subiakto Satrio dan sound designer Khikmawan Santosa yang dilengkapi tata suara Dolby Digital. Semua bekerja dengan semangat luar biasa, ada semangat yang beda dan enerji-nya menjadikan karya ini istimewa. Selebihnya penonton akan menilai, tetapi sungguh ini adalah pengalaman berharga. Rencananya project HI5TERIA ini akan jadi project tahunan. Hingga tiap tahunnya kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi 5 sutradara muda baru nan berbakat.
HI5TERIA yang dibintangi oleh artis papan atas seperti Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, Ichi Nuraini, Sigi Wimala, Poppy Sovia, Bella Esperance, Dion Wiyoko dan lainnya. Karya gress yang menggetarkan mulai dibioskop, pada 29 Maret 2012.
Mesti diakui Starvision satu di antara sedikit rumah produksi yang punya visi dalam setiap pembuatan film. Di bawah kendali Chand Parwez Servia film-film yang diproduksi Starvision bisa dikatakan menjadi lokomotif film-film di Tanah Air. Bagaimana tidak dalam satu tahunnya Starvision memproduksi enam hingga delapan judul film dengan genre yang bervariasi :drama,drama komedi, dan horror.
”Kami memang harus memberikan aletrnatif kepada penonton,” ujarnya.
Setelah memutar film Hafalan Salat Delisa, Malaikat Tanpa Sayap, keduanya drama, dalam Hi5teria yang akan mulai tayang 29 Maret ini Starvision bekerjasama dengan sutradara wanita Upi menyuguhkan film horror yang cukup bagus.
Dalam kata Hi5teria, semestinya Histeria.Angka 5 pengganti huruf s menjadi penanda bahwa film horror ini ada lima judul cerita yang dipaket menjadi omnibus.
Lima judul cerita film itu adalah Pasar Setan yang disutradarai Adriyanto Dewo, Wayang Koelit, sutradara Chairun Nissa, Kotak Musik sutradara Billy Christian, dan Palasik-disutradarai Nicolas Yudifar.Kelima judul film itu membawa warna dan gaya tersendiri.
Sutradara muda,Upi, yang menjadi project officer dalam omnibus ini mengaku bergerilya untuk mendapatkan anak-anak muda yang bersekolah film dan sangat serius bergulat di bidang film. ”Regenerasi itu penting dalam bidang apa pun. Dan membuka peluang bagi anak-anak muda ini sama dengan membangun dan memperkaya perfilman kita. Mereka njuga akan membawa nafas baru yang akan menyegarkan perfilman Indonesia,” imbuh Upi.
Bagi Parwez dengan kehadiran anak-anak muda seperti Upi dan kawan-kawan memiliki spirit dan enerji yang sangat kuat, sehingga bagus untuk ditularkan kepada penontonnya. ”Sekarang ini perlu film yang bisa mengedukasi penonton dengan karya-karya yang dapat dipertanggungjawabkan, dan memberi pengalaman menonton yang baik sebagai investasi meningkatkan habit penonton film nasional,”papar Parwez.
Film Hi5teria sudah menunjukkan keinginan Parwez agar penonton film terbiasa menyaksikan film-film yang baik dan berkualitas. Dengan latar belakang cerita keseharian, cerita rakyat dan legenda, film ini membuat penonton terkejut-kejut sepanjang pertunjukkan. Tidak ada pocong dan bukan kuntilanak yang mewarnai film ini. Hi5teria film apik yang kudu disaksikan.
Merasa jenuh dengan keadaan industri film Tanah Air, Upi Avianto akhirnya memutuskan untuk membuat konsep regenerasi dengan cara memproduseri proyek layar lebar yang berjudul Histeria. Film berjenis omnibus tersebut diprakarsai oleh 5 sutradara baru, hasil seleksi subjektif Upi melalui jejaring sosial. Para sutradara muda itu adalah Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah, yang masing-masing dari mereka menyumbang sebuah kisah horor dalam film Histeria yaitu Pasar Setan, Wajang Koelit, Kotak Musik, Palasik, dan Loket. "Kenapa saya memilih memproduseri film Histeria dari para sutradara muda ini adalah karena saya pernah ada di posisi seperti mereka, dimana saya punya ide namun tidak ada wadah untuk disalurkan. Banyak diluar sana anak-anak muda yang berbakat, namun nggak punya networking dan link. Kini saya sudah memiliki itu, makanya saya bantu mereka dengan koneksi yang saya punya. Kalau industri film mau maju, proses regenerasi itu sangatlah penting," ucap Upi ssambil menambahkan,Masa lebih dari 230 juta penduduk Indonesia sutradara yang muncul di bioskop itu-itu aja. Disini saya hanya membantu impian dari 5 anak muda ini, mudah-mudahan saja setelah ini akan ada kelanjutannya.
Upi sangat paham dengan kesulitan para sineas dalam mencari produser atau rumah produksi, demi mempresentasikan berbagai ide film yang mereka miliki ke khalayak luas. Beban itu diakui Upi akan semakin berat, jika sang sutradara masih tergolong baru di dunia film. "Saya aja yang sudah memproduksi beberapa karya film masih sulit untuk menemukan produser, apalagi mereka. Untuk proyek Histeria ini aja saya udah ditolak oleh 4 produser dan akhirnya bisa diterima oleh Chand Parwez Servia dari Starvision setelah saya bilang ke dia kalau saya akan pasang badan jika film ini nggak bagus," pungkas Upi.
Upi menambahkan, proyek regenerasi ini rencananya akan rutin dia selenggarakan tiap tahun dengan konsep atau genre film yang berbeda. "Saya berencana adakan ajang ini tiap tahun, kalau genrenya nanti horor lagi maka akan ada Histeria 2, tapi kalau tidak maka kita akan usung tema yang beda," Tegas Upi. (tim)
Jumat, 23 Maret 2012
Menkokesra: Film Sampai Ujung Dunia Mendidik Anak Muda
Judul Sampai Ujung DuniaSutradara: Monty Tiwa
Produser: Sumarsono, Garry Aditya
Pemeran: Gading Marten, Dwi Sasono, Renata Kusmanto, Roy Marten, Chintami Atmanegara, Sudjiwo Tedjo, Tutie Kirana
Produksi: NasiPutih Pictures
Jenis Film: Drama
Ada sebuah film layar lebar baru karya Sutradara Monty Tiwa. Film tersebut berjudul Sampai Ujung Dunia yang dibintangi Gading Marten, Dwi Sasono, dan Renata Kusmanto. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono ikut menyaksikan pemutaran perdana film itu. Agung Laksono mengatakan, ini film bertema pendidikan yang bagus ditonton semua kalangan, tua dan muda, segala sesuatu ada perjuangannya. Agung juga memuji segi lain dari film tersebut, yakni teknik pengambilan gambar dan editingnya. “Dari segi sinematografi bagus, pengambilan gambar bagus, teknik gambar bagus, alur ceritanya menarik," kata Agung Laksono di Hot Shot SCTV, Jumat (23/3).
Kalau membaca sinopsisnya, jelas sekali kalau ceritanya sangat sinetron banget. Mirip-mirip FTV kurang lebihnya. Namun ketika menonton filmnya, kesan itu agak sedikit berkurang. Tidak ada derai air mata yang mengalir deras karena adanya sebuah penyakit aneh, semuanya berlangsung begitu alami dan enak dinikmati.
Kisah seorang cewek yang bersahabat dengan dua pria ganteng dan akhirnya berubah menjadi kisah cinta segi tiga ini sangat manusiawi, meskipun bolong-bolong tetap saja ada dan kadang terasa dipaksakan, tapi secara umum film ini sangat nyaman dinikmati. Agak sulit membayangkan seorang gadis yang “cacat” dengan prestasi kerja yang ala kadarnya, tapi mampu membiayai “seorang calon prajurit” sampai lulus menjadi prajurit. Untuk yang ini sebaiknya kita terima saja apa kata sutradara. Intinya adegan ini ingin menunjukkan betapa cintanya sang gadis terhadap pria idamannya. Siapa pria idaman sang gadis juga pasti mudah ditebak. Namanya saja sinetron yang dibioskopkan, jadi jalan cerita sangat mudah ditebak. Meski begitu ending cerita cukup bagus, sehingga selesai menonton film ini ada sesuatu yang tetap kita dapat.
Permainan akting dari Dwi Sasono tentu sudah sangat kita kenal kehandalannya sedangkan permainan Gading Martin yang diarahkan seperti Gading Martin apa adanya juga sangat pas untuk karakter Gilang. Klop sudah permainan jejaka ganteng ini melawan akting gadis cantik asal Klaten Renata Kusmanto. Akting Renata memang belum teruji, tapi untuk permainannya di film ini sudah cukup memadai. Sayang peran Sudjiwo Tedjo tidak diexplore dengan baik. Wejangan-wejangan ala Sudjiwo Tedjo sebenarnya bisa disisipkan pada sang calon prajurit, sehingga film ini bisa lebih “berisi”.
Bagian make up juga patut diacungi jempol. Perpindahan karakter dari anak SMU menjadi pria dewasa terlihat sangat mulus. Agak sulit membayangkan seorang Gading Martin atau Dwi Sasono berperan sebagai anak SMU, tetapi di film ini mereka dapat memerankannya dengan baik. Tentu dengan bantuan riasan yang sangat detil. Jadi secara keseluruhan film ini layak tonton, apalagi untuk mereka yang suka akan kisah ala sinetron dengan tampilan yang lebih halus dan tidak banjir air mata.
Ceritanya sederhana. Gilang (Gading Marten), Daud (Dwi Sasono) dan Anissa (Renata Kusmanto) sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bertiga datang dari latar belakang yang berbeda. Satu cinta-cita Anissa yang dijanjikan untuk dipenuhi oleh kedua ‘kakak’ nya adalah, ingin berkeliling dunia. Waktu berlalu dan mereka beranjak remaja. Daud dan Gilang pun mulai menyadari bahwa perasaan sayang mereka kepada Anissa telah berubah menjadi cinta yang mendalam. Keduanya menyatakan cinta kepada sang gadis di saat yang hampir bersamaan. Anissa pun bingung, dia sama-sama mencintai kedua sahabatnya dan tidak mau pertemanan mereka retak. Akhirnya Anissa pun mempunyai ide untuk ‘menyelamatkan’ persahabatan itu. Anissa mengajukan syarat, barangsiapa yang bisa pertama kali mengajaknya berkeliling dunia, akan diterima sebagai kekasihnya. Ini menjadi motivasi untuk Gilang dan Daud. Selepas SLTA keduanya pun berpisah. Gilang melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia-Curug, sedangkan Daud diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran di Merunda. Diam-diam mereka tetap berharap dengan profesinya nanti dapat mewujudkan keinginan Anissa.
Sampai akhirnya Anissa harus menyampaikan sebuah rahasia kepada keduanya. Bahwa rupanya, cita-cita Anissa mungkin tidak akan bisa tercapai bila tidak dilaksanakan secepatnya. Anissa menyayangi kedua sahabatnya yang bimbang memilih, ternyata, Anissa kemudian mengungkap rahasia kepada kedua pria ini, bahwa ia menderita penyakit yang mengancam nyawanya.
Sutradara Monty Tiwa menganggap Sampai Ujung Dunia, film karya terbaiknya. "Saya benar-benar menaruh hati saya ke dalam film ini. Gagasan awal membuat SUD adalah bagaimana membangkitkan semangat serta di kalangan remaja agar menyukai atau setidaknya mengenal sekolah penerbangan dan pelayaran," kata Monty Tiwa kepada Tempo di Epicentrum Walk, Jakarta, Jumat (16/3).
Tak tanggung-tanggung, dalam proyek film ini Monty tak hanya menjadi sutradara, tapi sekaligus menulis skenario, mengarahkan akting para pemain, turun tangan mengedit film, hingga mencipta soundtrack alias lagu tema filmnya. Keterlibatan Monty dalam film ini berawal dari ide sang produser. Ide awalnya sangat sederhana, cinta segitiga antara seorang perempuan, pelaut, dan penerbang. Tapi di tangan Monty, film drama romantis yang sebenarnya bertema klise ini bisa menjadi karya yang manis, tanpa harus menye-menye, bahkan menuai banyak pujian. Dalam film ini, penonton juga akan dimanjakan keindahan pemandangan negeri Belanda, yang menjadi bagian dari perjalanan cerita.
Rupanya, sineas kelahiran Jakarta 28 Agustus 1976 ini menuangkan refleksi perjalanan hidupnya dalam skenario. Kenangan masa SMA dan keindahan kematangan kepribadian di usia dewasa. "Seringkali orang menganggap masa paling indah adalah masa SMA. Tanpa menyadari bahwa masa sekaranglah yang paling berarti," kata Monty
Jarang ada film Indonesia yang berani menampilkan tiga masa perjalanan waktu dengan pemain yang sama seperti Sampai Ujung Dunia. Gading Marten, Dwi Sasono, dan Renata Kusmanto mesti memainkan sosok dalam tiga rentang waktu yang berbeda. Tentu membutuhkan kematangan akting. Dwi Sasono yang sudah berusia tiga puluhan, menunjukkan kepiawaian aktingnya ketika memainkan perannya yang berusia SMA, kemudian harus bergeser usia ketika kuliah dan dewasa. Monty turun tangan sebagai pengarah akting agar inner kepribadian masing-masing tokoh utama dalam tiga periode masa itu muncul dengan alami. Ia menghabiskan waktu dua bulan untuk membangun karakter masing-masing tokoh utamanya. "I really put my heart into this," ujarnya.
Penonton akan merasakan aroma yang berbeda dari Monty Tiwa bila dibanding karya-karyanya yang jenaka dan film seram seperti Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007), Pocong 3 (2007), XL Extra Large (2008), Barbi3 (2008), Keramat (2009), dan Mendadak Dangdut (sebagai penulis). (tim)
Senin, 19 Maret 2012
Donny Alamsyah Pria Identik Film Action
“Gue ambil film ini karena dari kecil gue suka beladiri, seperti Karate, taekwondo, akido, dan tinju sam beladiri Takstis,” kata Doni saat ditemui dalam press screening film 'The Raid' di FX Plaza, kawasan Sudirman, Jakarta (19/03/2012).
Bahkan demi totlitas aktingnya dalam film tersebut, kata Donny, dirinya harus melakukan olah fisik selama 5 bulan lamanya. “Latihan setiap hari mulai dari jam 10 sampai jam 4 Sore. Istirahat cuma satu jam aja. Tapi kegiatan ini sama sekali nggak menggganggu aktifitas gue, karena gue memang lagi fokus sama film ini," bebernya.
The Raid adalah sebuah film yang menceritakan perjalanan 20 orang anggota pasukan khusus yang menjalankan misi menangkap seorang bandar narkotika kejam di sebuah gedung 30 lantai yang menjadi sarang penjahat karena tidak pernah terjamah oleh aparat. Sayang, misi pasukan khusus yang mayoritas berisikan anggota baru itu tidak berjalan mulus, sehingga mereka harus berjuang melewati lantai demi lantai untuk menyelasaikan misi dan tentunya bertahan hidup.
Dalam film besutan sutradara Gareth Huw Evans itu, Donny berperan sebagai Andi yang tak lain adalah "tangan kanan" dari bandar narkotika yang diperankan oleh aktor kawakan, Ray Sahetapi. Namun Donny berkhianat saat pasukan khusus menggrebek markas Ray, karena mengetahui sang adik, Rama (Iko Uwais) adalah salahsatu dari 20 anggota pasukan khusus tersebut. “Di film ini memang nggak ada adegan ceweknya, yang disorot itu lebih ke adegan actionnya aja," tutup Donny.
Selain mengisi musik latar dalam film The Raid atau Serbuan Maut, rupanya Mike Kenji Shinoda, salah satu personel Linkin Park, mengaku tergila-gila dengan jalan ceritanya. Kepada aktor yang juga penata laga The Raid, Iko Uwais dan Yayan Ruhian, Mike Shinoda mengungkapkan hal itu.
Pertemuan Mike Shinoda dengan keduanya terjadi ketika Linkin Park mengadakan konser di Jakarta, September 2011 lalu. Sejumlah pemain dan kru ikut menyaksikan konser mereka di Tanah Air. Alangkah terkejutnya Mike saat melihat para bintang The Raid juga turut hadir. “Iya waktu nonton Linkin Park kemarin, Mike itu langsung teriak 'Mad Dog'!," cerita Yayan pemeran Mad Dog.
Yayan dan kawan-kawan juga diberi kartu all access yang semula hanya memegang tiket VIP. Sebelum manggung Mike banyak bertanya dan memuji tentang film yang disutradarai Gareth Evans. "Bahkan dia sediain kami satu ruangan khusus dan sempet ngobrol dan memuji film The Raid. Dia suka banget," tutur Yayan.
Sambutan masyarakat luar negeri memang begitu antusias, belum diputar di Indonesia 'The Raid' sudah memenangkan banyak penghargaan seperti, 'Cadillac People's Choice Award' di ajang Midnight Madness Toronto International Film Festival yang berlangsung dari tanggal 8-18 September 2011. Penasaran bagaimana jalan ceritanya, The Raid akan diputar serentak tanggal 23 Maret. (seru/kmps)
Film The Raid Tawarkan Action Hollywood Indonesia
Sekelompok tim SWAT yang tiba di sebuah blok apartemen jauh di jantung kumuh Jakarta terletak sebuah rumah aman ditembus untuk pembunuh paling berbahaya didunia dan gangster dengan misi menangkap pemiliknya, seorang raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digerebek atau pun tersentuh oleh Polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak dijangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman. Mulai bertindak di pagi buta, kelompok SWAT diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap.Penyeragapan mereka terbongkar ketika gerakan mereka terpantau oleh kamera pengintai di gedung tersebut. Dari penthouse suite-nya, Tama memerintahkan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar. Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen dengan tidak ada jalan keluar, unit harus berjuang mereka melalui terburuk kota untuk bertahan misi mereka yang diperintahkan oleh Tama, tim SWAT harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.
Berjubah di bawah penutup dari pra-fajar kegelapan dan keheningan, tim swat elit bertugas merampok rumah aman dalam rangka untuk mengambil menurunkan raja obat bius terkenal yang berjalan itu. Tapi ketika kesempatan pertemuan dengan pukulan pengintai menutupi mereka dan berita dari serangan mereka mencapai gembong narkotika, lampu gedung dipotong dan semua pintu keluar diblokir.
Penggalan cerita di atas adalah sinopsis atau cerita dari film Indonesia berjudul The Raid (Serbuan Maut) yang rencananya akan mulai tayang pada 23 Maret 2012 nanti. Film ini sendiri sudah memulai debut World Premiere-nya pada Toronto International Film Festival, dan sukses menuai banyak pujian. Film The Raid disutradarai Gareth Evans dan dibintangi oleh Iko Uwais. Sebelumnya, mereka berdua memang pernah sukses bersama ketika melahirkan film laga Merantau. Selain mereka, Film ini juga diramaikan oleh Ray Sahetapy, Pierre Gruno dan Donny Alamsyah.
Menurut Arie Sugantoro yang memproduseri film ini dari PT Merantau Film, pada awalnya The Raid akan diedarkan di Indonesia dengan judul Serbuan Maut. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka memutuskan akan menggunakan judul yang sama dengan versi internasional. Dan yang lebih membanggakan, untuk versi internasional yang akan beredar worldwide tahun depan, music scoring akan ditangani Mike Shinoda (Linkin Park) & Joe Trapanase (composer Fast Five, Tron Legacy & Dexter Series).
Sutradara Gareth Evans dan meningkatnya bintang seni bela diri Iko Uwais reuni dalam film aksi berbahan bakar adrenalin. Sukses memenangkan Festival Film Toronto 2011, film The Raid (Serbuan Maut) rencananya akan diputar di bioskop Amerika Serikat dan 10 negara dunia lainnya, seperti Canada, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Australia dan lainnya. Film ini, diungkapkan Toro, sangat berbeda dari film action Amerika pada umumnya. The Raid unggul karena memamerkan keindahan koreografi silat yang dibuat sesempurna mungkin. "Tidak ada fight cut cepat, benar-benar fight bebas. Karena kita ingin intensitas yang kita bangun begitu agresif. Mulai dari opening 100 menit tidak ada nafas buat penonton karena film ini fight-nya hidup atau mati. Kalau film Merantau kan kalah atau atau menang," tandasnya. (tim)
Selasa, 13 Maret 2012
Pembentukan BPI Akan Dikawal Khusus Oleh Pemerintah

Menjelang Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret 2012 mendatang, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan mengawal pembentukan Badan Perfilman Indonesia (BPI). Badan Perfilman ini, sebagaimana dikatakan Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Ukus Kuswara, diharapkan akan membuat film Indonesia makin berdaya saing di negeri sendiri. Dengan demikian, secara kuantitas dan kualitas film Indonesia akan makin dapat dibanggakan. Sedangkan pada hari Film Indonesia akan mengambil tema, "Aku Cinta Film Indonesia".
Tema tersebut diharapkan menjadi momentum bangkitnya apresiasi dan partisipasi masyarakat. Dalam artian bagaimana membuat film Indonesia menjadi satu kesatuan dengan masyarakat sebagai salah satu stakeholder atau pemangku perfilman nasional. "Dan ini bisa terwujud jika ada dukungan dari pewarta film yang turut menjadi bagian di dalamnya," kata Ukus Kuswara di gedung Direktorat Film, Jakarta, Selasa (13/3).
Dengan Hari Film Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan daya budi dan karakter nilai-nilai kebangsaan. Sedangkan budi dayanya, memberikan aspek manfaat kepada masyarakat. “Yang paling pokok, Kemenparekraf akan mewujudkan pertama BPI sesegera mungkin terwujud, dengan memulai riset hingga pembiayaannya demi perkembangan perfilman. Kedua, penanganan pembentukan panitia penyelenggara Festival Film Indonesia (FFI) yang ajeg, atau semacam panitia Academy Awards di AS sebagai penyelenggara tetap piala Oscar, sebagai barometer perfilman Indonesia. Dengan menyentuh aspek bisnisnya, dan dengan melibatkan pemerintah daerah. Dan ketiga, membentuk istitusi "one stop service". Sehingga produksi film di dalam negeri, juga luar negeri yang di buat di Indonesia menjadi lebih nyaman. Jadi, jika ketiga hal itu tidak segera dilakukan, "Perfilman Indonesia akan semakin terseok-seok,” ungkap Ukus.
Sejauh ini dari data yang diterima dirjen NBSF, jumlah film Indonesia hingga saat ini, atau tahun 2012 terdapat 20 judul film yang sudah beredar. Sedangkan tahun lalu, atau 2011, film Indonesia yang beredar adalah 80 judul film. Ini pertanda kebangkrutan kembali film nasional atau Indonesia. (hery s)
Film Komedi Love Is Brondong Bukan Slasptik

Ajun Prawira sebagai Petasan
Setelah sukses membintangi film komedi bertemakan pocong yaitu Poconggg Juga Pocong (2011) dan Pocong Kesetanan (2011), aktor muda Ajun Perwira kini kembali terlibat di layar terbarunya berjudul Love Is Brondong sebagai Petasan (Playboy Tanpa Perasaan) bernama Momon. Bagi cowok kelahiran Denpasar 9 Februari 1988 ini, bermain film komedi dengan peran playboy sangatlah sulit sekaligus menyenangkan. Merasa ingin meningkatkan kualitas aktingnya di dunia perfilman, Ajun berharap suatu saat nanti bisa mendapatkan peran di film yang bergenre action layaknya Mission Imposible.
“Berperan sebagai Petasan, pelayboy tanpa alasan sangatlah sulit buat gue karena dari dulu disakitin cewek mulu dan baru kali ini dapat karakter playboy. Tapi buat gue main film komedi lebih fun ketimbang drama karena agak susah menjiwainya. Sebenarnya setiap genre film, baik itu drama ataupun komedi punya kesulitan tersendiri. Tapi kalau ditanya peran idaman, gue sebenarnya ingin banget main di film action kaya Mission Imposible gitu deh, karena buat gue dunia itu film banget,” ujar Ajun Perwira saat ditemui di acara Preview Love Is Brondong di Planet Hollywood, Jakarta Selatan, Senin (12/3).
Film Love Is Brondong dibintangi Zaky Zimah, Joanna Alexandra, Bryan McKenzie, dan Kiki The Potters, dijadwalkan tayang di bioskop pada tanggal 15 Maret 2012. Film karya Chiska Doppert ini mengisahkan tentang empat mahasiswa dengan karakter yang berbeda-beda yang saling bersahabat. Pada suatu hari, tempat tinggal kos mereka kedatangan seorang wanita yang meminta untuk 'menumpang' tinggal bersama mereka. Farhan (Zaki Zimah), Momon (Ajun Perwira), Bryan Alfin (Mc Kenzie), dan Juned (Kiki The Potters) adalah empat sekawan yang hidup bersama di satu rumah kontrakan dan kuliah di kampus yang sama. Sampai satu ketika mereka menolong Sheila (Tya Restyana) yang sedang diganggu preman. Sheila malam itu memohon tinggal sementara di rumah mereka. Di sini Sheila cerita ia telah ditipu oleh orang yang menjanjikan pekerjaan dikota. Padahal, Sheila bertekad ngumpulin uang demi memakmurkan panti asuhan tempatnya dibesarkan.
Farhan, Juned, Momon dan Alfin tersentuh. Mereka sepakat untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin guna membantu tujuan Sheila. Dan sejak Sheila tinggal di rumah mereka, kejadian-kejadian lucu pun kerap terjadi. Sampai suatu ketika, Sheila pergi. Sheila hanya meninggalkan sepucuk surat. Isi surat intinya memgucapkan terima kasih atas kebaikan mereka. Sheila kembali ke kampung halaman, untuk menyetorkan uang yang ia terima dari Farhan, Momon, Juned dan Alfin, kepada pengasuh rumah panti asuhan. Meskipun tanpa pamit, mereka bisa mengerti. Tapi Farhan merasa mencurigai sesuatu, namun dia tak yakin benar.
Hingga akhirnya, Farhan dan kawan-kawannya menemukan fakta bahwa Sheila bukan berasal dari kampung. Mereka tahu ini dari aparat kepolisian yang mendatangi rumah mereka. Sheila ternyata pengedar narkoba yang termasuk daftar pencarian polisi. Farhan dan kawan-kawannya pun mencari dimana persembunyian Sheila.
Farhan, Juned, Momon dan Alfin tersentuh. Mereka sepakat untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin guna membantu Sheila. Sejak Sheila tinggal di rumah mereka, kejadian-kejadian lucu kerap terjadi. Sampai suatu ketika Sheila pergi. Sheila hanya meninggalkan sepucuk surat. Isi surat intinya memgucapkan terima kasih atas kebaikan mereka.
Sheila kembali ke kampung halaman, untuk menyetorkan uang kepada pengasuh rumah panti asuhan. Meskipun tanpa pamit, mereka bisa mengerti. Farhan merasa mencurigai sesuatu. Farhan dan kawan-kawannya menemukan fakta bahwa Sheila bukan berasal dari kampung. Mereka tahu ini dari aparat kepolisian yang mendatangi rumah mereka. Sheila ternyata pengedar narkoba yang termasuk daftar pencarian polisi. Farhan dan kawan-kawannya pun mencari di mana persembunyian Sheila.(hery s)
LOVE IS BRONDONG
Produser : Hm. Firman Bintang
Produksi : MITRA PICTURES/BIC PRODUCTION
Sutradara : Chiska Doppert
Kamis, 08 Maret 2012
Film“Kita versus Korupsi”: Kampanye Antikorupsi melalui Film
Dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang risiko korupsi sekaligus sebagai upaya menanamkan nilai- nilai integritas, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TII) dan USAID meluncurkan film “Kita versus Korupsi”. Peluncuran film dilaksanakan di gedung Djakarta Theater, Jakarta, baru-baru ini.
Melalui film ini, KPK ingin menginisiasi dukungan masyarakat terhadap upaya pencegahan korupsi melalui medium film. “Kami yakin film dapat menjadi medium kampanye antikorupsi yang kreatif karena lebih menarik dan pesannya lebih mudah dicerna publik,” ucap Ketua KPK Abraham Samad.
Film “Kita versus Korupsi” yang terdiri atas rangkaian empat film pendek karya para sineas muda yang dirangkai dalam satu benang merah ini sarat nilai-nilai integritas yang ditanamkan dalam keluarga. Keempatnya adalah “Rumah Perkara” karya Emil Heradi, “Selamat Siang Risa!” Karya Ine Febriyanti, “Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa” karya Chairun Nissa, serta “Aku Padamu” karya Lasja F. Susatyo.
Proses pembuatan film melibatkan publik secara intensif, dimulai dari lomba ide cerita pada September 2011, yang dilanjutkan dengan kegiatan workshop pengembangan cerita (skenario) hingga rangkaian diskusi dengan banyak tokoh media, aktivis media sosial, jurnalis, termasuk pimpinan KPK dalam rangka menggali dan mengembangkan ide.
Proses pembuatan film ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat, khususnya para sineas film muda sutradara, aktor, scriptwriter dan kru, yang tergerak untuk turut andil dalam upaya pencegahan korupsi melalui sebuah film. “Kami berharap film ini tidak hanya menjadi sebuah tontonan, tetapi sekaligus menjadi tuntunan serta mampu menginspirasi setiap penontonnya untuk melakukan refleksi terhadap dirinya masing-masing mengenai nilai-nilai integritas,” tegas Abraham.
Film “Kita versus Korupsi” bukan film komersial dan akan diputar bukan untuk maksud komersial. Pemutaran film akan dilakukan melalui kegiatan roadshow di kota-kota besar di Indonesia yang dikemas dalam kegiatan bedah atau diskusi film. Masyarakat juga bisa menginisiasi pemutaran film ini dengan menghubungi pihak KPK ataupun TII. (humas KPK)
Kamis, 23 Februari 2012
‘REPUBLIK TWITTER' Dari Politik Sampai Cinta
Di tangan dingin anak-anak muda dari Yogyakarta, film REPUBLIK TWITTER membawa cerita yang benar-benar segar. Selain itu isu yang ditampilkan juga kekinian sehingga menarik untuk disimak dari awal hingga akhir film. Sukmo (Abimana Aryasatya) mahasiswa semester akhir di Yogyakarta yang memutuskan pergi ke Jakarta, ia menumpang di sahabat baiknya, Andre (Ben Kasyafani) untuk menemui Hanum (Laura Basuki) yang dikenalnya lewat situs jejaring sosial twitter. Sukmo belum juga menyelesaikan skripsinya hingga memasuki tahun akhir kuliah. Demi mengejar cintanya pada Hanum yang menjadi wartawan media investigasi, Sukmo nekat ke Jakarta.
Harapan indah bertemu Hanum ternyata hanya ada dalam dunia maya saja. Kenyataannya Hanum lebih cantik dan memiliki pasangan yang tampan dan rapi. Setidaknya dua hal itu yang ada dalam benak Sukmo saat pertama kali melihat Hanum. Meskipun sudah bertemu di satu restoran, namun Sukmo minder dan memilih meninggalkan Hanum bersama lelaki yang dilihatnya.
Dalam kegalauannya, Sukmo ternyata mendapat tawaran bekerja di warnet milik Belo (Edi Oglek). Hal ini berkaitan dengan bakat Sukmo yang jago merangkai 140 karakter di twitter. Tugas Sukmo adalah membuat seorang pejabat bernama Arif Cahyadi (Leroy Osmani) menjadi trending topik di twitter.
Benar saja, Sukmo berhasil membuat Arif menjadi pusat pembicaraan di twitter, kesuksesannya itu membuat Sukmo percaya diri menemui Hanum. Dengan mengesampingkan jati dirinya, Sukmo tampil rapi dan necis ala anak Jakarta. Namun hal itu ternyata membuat Hanum kecewa, pasalnya Hanum yang bekerja sebagai wartawan investigasi senang dengan karakter Sukmo yang cuek.
Drama semakin seru saat Hanum yang sedang menyelidiki kampanye terselubung di dunia maya, berencana berhenti menjadi wartawan ketika idenya diklaim oleh sang redaktur. Namun Sukmo memberi petunjuk penting bagi penyelidikan Hanum. Petunjuk yang akhirnya membawa Sukmo menemui masalah besar dengan Kemal (Tio Pakusadewo). Kenyataan lain yang membuat Sukmo semakin galau adalah Arif Cahyadi ternyata pacar Andre sahabatnya.
Kuntz Agus mengekskusi dengan manis film pertamanya. Selain ceritanya yang dibuat ringan dengan bumbu kisah asmara, Kuntz juga menambah animasi yang menunjukkan kecanggihan teknologi sehingga sejalan dengan cerita film. Abimana, kali ini hadir sebagai tokoh utama yang mampu membolak-balik emosi penonton. Ada saat penonton menjadi sedih, jengkel, dan tertawa karena tingkahnya. Gambar yang diambil sangat cantik dengan warna terang yang mendominasi. (kpl)
Selasa, 21 Februari 2012
Dilema Film yang Diproduseri Artis Wulan Guritno
Dalam acara nonton bersama tersebut, hadir pula artis Ray Sahetapi dan Wulan Guritno serta para sutradara, Adila Dimitri dan Robby Ertanto. Sebuah kesempatan yang baik untuk bertatap muka langsung dengan orang-orang yang berada di balik pembuatan filmnya. Asti, salah satu pemenang kuis yang sering membuka website KapanLagi.com® mengaku awalnya hanya iseng saja saat mengikuti kuis tersebut.
"Saya kalau kerja suka buka KapanLagi.com® pas lihat ada kuis mau nonton film DILEMA gratis ya udah saya coba ikutin aja kali aja menang. Saya coba kirim komentar pas Jum'at lihat pengumumannya ternyata saya menang," ujar Asti yang memang penasaran dengan film DILEMA. "Bikin penasaran awalnya, gak ngerti. Pas baca sinopsis di KapanLagi.com® ada 4 judul, tapi pas nonton tadi nyambung ke Soni Wibisono," tambahnya usai nonton bareng film dilema di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (19/2).
Tak hanya Asti, Fadli pun terkesima dengan penampilan Wulan Guritno di film DILEMA tersebut. "Gue excited karena ada Wulan Guritnonya, chemistry-nya dapet banget. Aktingnya tomboy itu bagus banget, jadi ada pengalaman baru buat Wulan. Kelihatan lebih nakal," ujarnya yang senang bisa ngobrol bareng dan makan bareng dengan beberapa pemain DILEMA. "Ya aku seneng bisa ngobrol bareng sama Wulan Guritno," akunya.
Acara jumpa fans pun ditutup dengan foto-foto 10 pemenang kuis nonton gratis film DILEMA dengan para pemain serta sutradara. (kpl/gum/dka)
Selasa, 08 November 2011
Festival Film
Q Film Festival
TEATER SALIHARA | 01-07 Oktober 2011
Sebagai satu-satunya festival yang menawarkan film-film alternatif yang tidak biasa diputar di bioskop komersial, Q Film Festival telah berhasil diselenggarakan setiap tahun sejak 2002. Selain memberi pilihan tontonan, festival film ini juga memiliki misi untuk berbagi dan mengangkat wacana lesbian, gay, bisexual, transvestites (LGBT)—sebagai bentuk dukungan atas kebebasan berekspresi dan keberagaman orientasi seksual. Selama penyelenggaraannya, Q Film Festival telah memutar lebih dari 800 judul film yang dihadiri oleh sekitar 160.000 pengunjung. Tamu-tamu dari mancanegara; pembuat film, distributor dan penyelenggara festival film pun turut hadir ke perhelatan seni budaya ini.
Untuk mengembangkan jangkauannya, sejak beberapa tahun yang lalu, Q Film Festival mulai diputar di lebih dari 10 kota di Indonesia dan mengadakan berbagai program lain seperti pameran seni rupa, penerbitan buku dan workshop film. Saat ini, Q Film Festival adalah festival film bertema LGBT terbesar di Asia dalam hal jumlah film yang diputar dan durasi festival. Selain itu, sejak 2006, Festival ini juga telah diakui sebagai bagian dari Teddy Award Section di Berlin Film Festival: program Teddy on Tour.
- Memperlihatkan kartu identitas (KTP/KITAS/Paspor)
- Berusia lebih dari 18 tahun.

