Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Kecemburuan Masyarakat Teater pada Media Massa Besar

Sejumlah media massa di Jakarta senada menolak pandangan masyarakat teater bahwa porsi pemberitaan pertunjukkan seni teater kurang mendapat porsi atau kurang mereka perhatikan. Apalagi media besar macam Kompas dan grup Tempo memiliki kantong seni yang dinilai dapat menipiskan peluang grup-grup teater di luar komunitas media massa besar, seperti Kompas dengan basis kantong seninya, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan grup Tempo dengan gedung keseniannya TUK dan belakangan pindah lokasi dan nama seiring levelnya yang profesional dan proporsional bernama Salihara. Redaktur pelaksana bidang Seni Budaya harian umum Jurnal Nasional (Jurnas) Arie MP Tamba mengatakan, harus diakui terjadinya pergeseran cara pandang masyarakat teater. Tidak saja di lingkungan masyarakat teater itu sendiri, tapi juga penonton dan pemerhatinya. Kalau tahun 1970-an, ada Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ- TIM) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dan atau Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di kawasan Pasar Baroe, Jakarta Pusat, lantas media massa mudah sekali mencari narasumbernya di situ. Tapi pada 1990-an, kegiatan kesenian tidak lagi di TIM, karena mulai hidup kantong-kantong seni. Salah satu upayanya dimulai dari komunitas lingkungan masing-masing. Kalau kegiatan di TIM mendapat sponsor dari pemerintah daerah lewat APBD, komunitas alternative tetap mencari sponsor juga. Cuma polanya beda. Yaitu patungan dari anggota komunitas ditambah dari perusahaan swasta lain. Maka hidupnya kegiatan teater dari dana sendiri. ”Upaya mereka menghidupkan kegiatan menjadikan besar seperti TIM, yaitu BBJ dan TUK yang berubah nama jadi Salihara. Malah saya dengar, BBJ itu buka cabang di sejumlah daerah. Risikonya untuk pemberitaan adalah harus mau tidak lagi memprioritaskan lingkungan sendiri. Seperti aktifitas TIM yang jadi kurang perhatian dari pemberitaan. Ini tidak ada hubungannya dengan kualifikasi, tapi untuk coba perhatian. Sedangkan kualitas bisa dilihat dari kritikly dan grupnya,” ulas Arie MP Tamba, Redaktul Pelaksana Jurnal Nasional di kantornya, kawasan Cut Meutia, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Jadi, lanjut Arie, itu kriteria media sekaligus risiko dari komunitas-komunitas desentring pemecah pusat yang bisa saja salah nilai terhadap pentas satu teater. Sebaliknya grup teater bisa memperbaiki diri. ”Kalau Jurnas akan bersikap adil saja. Artinya, mau di BBJ, Salihara, TIM, GKJ, kami coba mengapresiasi untuk mengcover. Memang tak lepas pertimbangannya ada hubungan pertemanan, disukai pembaca yang akibatnya membatasi pembaca lain. Maka itu, semua kantong seni mendapat prioritas bagi Jurnas. Kecuali kalau ada pertunjukkan dalam waktu bersamaan, pertimbangannya yang tadi, pertemanan dan dibatasi oleh pembaca,” papar Arie yang juga sastrawan. Tapi kalau kedua pertunjukkan sama kuat, lanjut dia, maka Jurnas akan menurunkan berita kedua-duanya. Bedanya pada pilihan angel. Misalnya, satu pentas teater Garasi, satu lagi pemenang Festival Teater Jakarta (FTJ), maka pada Garasi diambil angel pernyutradaraan, tapi pada teater jebolan FTJ pada aktor dan aktrisnya, atau pada angle lain yang kuat diberitakan. Yang penting jangan sampai diangkat dari kantong seninya. ”Misalnya, Salihara sedang adakan program Forum Teater Adaptasi selama Juni 2012 ini, kami pilih pertunjukkannya saja. Bukan forumnya itu. Harus diakui, 70 persen pilihan media menerbitkan adalah kepentingan kelompok,” kilahnya. Kalau mengambil contoh pemberitaan FTJ, kata dia, sebenarnya banyak hal mempengaruhinya. Bayangkan dari sisi media, harus bersaing dengan banyak peristiwan. Begitu pula dari sisi pementasannya, banyak persaingan grup yang waktu bersamaan pementasan juga, sementara halaman koran terbatas. ”Memang ada dua sisi mata uang. Mungkin media ingin memberitakan FTJ sebagai proses yang sesungguhnya, tapi di masyarakat teater ingin diberitakan yang sesungguhnya pertunjukan mereka. Jurnas selalu peduli itu, tapi memang sekarang halaman mengalami pengurangan. Sehingga sekarang tidak lagi menerbitkan tulisan teater sebagai ilmu, tapi berupa resensi saja,” tukasnya. Ini senada dengan wartawan Kompas Putu Fajar Arcana. Kalau di media asing, kolom untuk pentas kesenian sangat diapresiasi bahkan mendapat rubrik khusus, seperti New York Time. Tapi media umum berbasis publik di Indonesia, sekarang ini tidak ada lagi rubrik khusus setiap hari. Kalau pun ada setiap minggu. Kecuali hanya Kompas, Tempo, dan Suara Merdeka. Kalau media publik berbasis umum akhirnya berpijak pada dua kaki. Pertama, untuk publik dan kedua untuk perkembangan kebudayaan. Namun dalam praktiknya, kadang satu pihak harus dikorbankan. ”Karena itu, barangkali diperlukan media atau jurnal teater, seperti Dramakala yang berbasis jurnal. Titik pijak sebagai media umum, kebijakan beritanya bersifat apresiasi. Apresiasinya seperti apa? Peristiwa-peristiwa kebudayaan setiap hari terjadi dan berserakan sampai ke daerah-daerah. Saat bersamaan ada peristiwa kebudayaan berupa pentas teater. Maka perhitungan yang diambil adalah keterbacaan koran. Artinya, karena gaungnya yang besar dari pentas teater itu, maka tetap diberitakan dengan porsi beritanya terpaksa lebih kecil,” timpal Putu Fajar Arcana melalui ponselnya, Sabtu (9/6). Terkait FTJ yang punya basis massa cukup kuat dan rutin diselenggarakan setiap tahun, diakui Putu sebagai peristiwa perayaan orang-orang urban di Jakarta dalam menuangkan ekspresinya, tapi menurut Putu, kelemahannya tidak mau menyentuh media. Misalnya, pergi melakukan kunjungan kerja ke media-media. Sehingga para editor dan redaktur media mengenal betul dan mendetail tentang FTJ. “Menyentuh Koran ini yang harus digarap oleh panitia FTJ. Lakukan roadshow sejumlah media besar itu. Sehingga info FTJ diketahui. Karena sebenarnya perhatian orang media pun kecil terhadap FTJ. Peristiwa yang dicover media bukan pada posisi tawar menawar, tapi mendorong untuk merebut media massa. Jadi lebih moderat kalau masyarakat teater itu menyentuh Kompas atau Tempo,” kilahnya. Menyinggung soal komunitas BBJ, Putu mengaku itu bukan CSR—nya Kompas. Karena BBJ merupakan unit tersendiri. Jadi, pinta dia, jangan menyalahkan BBJ yang mementaskan teater lantas ditulis Kompas. ”Jangan lupa, belum tentu pementasan diBBJ akan ditulis Kompas. Sebab ada pertimbangan-pertimbangan redaksi di internal media. Jadi masyarakat teater jangan cengeng dengan mengklaim setiap kantong seni punya komunitas sendiri dan itu menjadi layak diberitakan. Maka itu, saya sarankan masyarakat teater harus menyentuh media besar itu dengan cara berkunjunglah,” pungkasnya. Sementara Rizal Nasti, Pemimpin Umum Bulletin Sombox mengatakan, masyarakat teater jangan gelisah soal tidak diberitakannya pertunjukkan teater di media besar. Karena media besar itu punya kepentingan selling point alias jualan korannya dan mempertimbangkan iklan. Kalau pertunjukkan teater mau disadari punya kekuatan sebagai alat propaganda,sebenarnya media besar dan kecil tidak perlu ada pertimbangan. Kecuali pertimbangan untuk kepentingan komunitasnya. "Kita tahu, sekarang ada komunitas kantong seni yang menjadi basis kelompok teater tersendiri. Namun sebagai teater yang diluar basis itu, kita perlu mempertahankan kualitas dan eksistensi. Persoalan berat bagi teater-teater yang tidak dikenal media,tapi punya basis masyarakat yang besara adalah eksistensi. Kalau mau besar berbuatlah untuk menjadi besar sehingga menyentuh media besar itu," pungkasnya. (hery s)

Kekuatan Pentas ”Nabi Kembar” pada Komedi Slapstik

Apakah pertunjukan teater yang membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak itu otomatis produksinya bagus? Sudah pasti. Tidak pakai tergantung. Analisanya, bentuk komedi ada tiga kelompok, komedi situasi, slapstik, dan lawak. Tidak ada yang salah dari ketiganya atau saling melemahkan. Walau kalau yang bersifat slapstik cenderung dinilai lebih murahan. Karena yang slapstik bisa ada di dalam komedi situasi apalagi di lawak. Slapstik artinya, kekonyolan. Seperti orang yang jatuh dari kulit pisang di lantai atau jalanan. Karena pertunjukkan teater itu bersifat statis, tidak seperti film atau sinetron yang dinamis. Sehingga diperlukan keterampilan sutradara maupun penulis naskah untuk bisa membuat tertawa penonton. Tujuannya supaya penonton punya waktu untuk menyegarkan otak dan perasaannya atas keseriusan pertunjukkan. Karena itu, sutradara atau penulis naskah komedi relatif lebih sulit dibanding memproduksi yang nonkomedi. Komedia situasi seperti film-film karya Nyak Abba Acub (Inem Pelayan Seksi) atau film karya Chairul Umam, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan paling fenomena film Nagabonar karya Asrul Sani. Pada pertunjukan teater yang paling gress adalah teater Amoeba dari Jakarta Barat yang mementaskan naskah bertajuk Nabi Kembar, karya Slowomir Mrozek terjemahan Jum’an dan disutradarai Join Bayu Winanda. Naskah dengan grup ini dipilih komunitas Salihara, tak lepas tentunya dari keberhasilan mereka mencetak predikat juara I pada Festival Teater Jakarta (FTJ), 2010. Namun sukses ini pula yang sekaligus membuat pertunjukkan di Salihara, pada Jumat-Sabtu (8-9/6), lalu, tidak mantap lagi seperti penampilan mereka di final FTJ. Ini bisa dimaklumi. Karena persiapan mereka akibat mengikuti FTJ 2011. Artinya, Teater Amoeba kembali menyiapkan selama satu tahun naskah Tikus dan Manusia karya John Steinbeck untuk tampil di FTJ 2011 dan terbukti, grup ini kembali merebut gelar juara umum di FTJ tahunan yang sudah berusia 30-an tahun. Lain hal kalau Salihara, meminta Teater Amoeba mementaskan kembali naskah Tikus dan Manusia. Sehingga malah lebih kental. Sedangkan pada naskah Nabi Kembar, Teater Amoeba mau tidak mau dipaksa membangkitkan memori dan menyesuaikan kondisi gedung yang sedikit banyak mengalami perubahan. Semua inilah yang terlihat membuat pementasan Teater Amoeba tidak menggigit. Walaupun tidak perlu membandingkan dengan pementasan terdahulu di ajang festival, tapi secara peristiwa pun dapat terasakan jika pementasan itu kehilangan sisi humorisnya. Ironisnya lagi, slapstick-slapstik, terutama lontaran beberapa dialog yang ingin dicapai untuk menciptakan bahan penonton tertawa tidak berhasil. Terkait pentas komedi situasi dapat dipinjam pementasan dari Teater Stasiun di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), pada 24 Mei 2012. Pementasan bertajuk Repertoar Sabun Colek karya dan disutradarai sendiri Ediyan Munaedi layak disejajarkan dengan film-film Nyak Abbas Acub tadi. Setidaknya penciptakan situasi komedinya yang bisa dibayangkan dalam film Nagabonar. Atau dalam pertunjukan teater lain pada naskah Mentang-Mentang dari New York karya Norca ANM Massardi. Siapapun sutradara dan grup maupun di mana naskah-naskah macam ini dipentaskan, sutradara tidak terlalu sulit untuk menciptakan rasa komedinya. Justru sutradara tinggal mengentalkan atau mengeksplorasai adegan untuk mendapatkan hasil-hasil kelucuannya. Kembali pada pentas Nabi Kembar, memang tidak disalahkan bentuk-bentuk slapstick yang diciptakan sutradara karena bertujuan mendapatkan kelucuan. Apalagi sekarang menggejala bentuk-bentuk pementasan yang sisi kelucuan dominant atau setidaknya berhasil mengimbangi persentase keseriusan yang telah membuat otak memeras maksud dan tujuan semiotiknya. Karena memang suatu kesulitan besar bagi grup maupun sutradara untuk membuat penonton sabar duduk menonton pertunjukan serius dengan durasi di atas satu jam. Tapi kosenkwensinya, keberhasilan itu akan menyempurkan level perrtunjukkannya. Nabi Kembar mengisahkan cerita seorang wali yang menghadapi masalah berat. Di Istananya muncul sepasang Nabi Kembar, sama rupa dan sama pintarnya yang mengkhotbahkan jalan keselamatan. Untuk mengatasi kesulitan ini, wali memanggil tiga profesor dan memintanya untuk memastikan Nabi mana yang benar-benar asli dan layak dipercaya. Sementara rakyat sudah berkumpul di depan istana, menunggu kepastian. Akan tetapi, tiga profesor itu tidak bisa memutuskan. Akhirnya profesor mengambil jalannya sendiri menyuruh Juru Sita untuk membunuh salah satu Nabi. Setelah membunuh Nabi, Juru Sita malah ketagihan dan membunuh satu Nabi lainnya. Keadaan jadi kacau dan Wali mesti mempertanggungjawabkan keadaan ini kepada rakyat yang terus menunggu. Akhirnya rakyat murka dan menerobos istana. Anarki terjadi dan korbannya adalah para profesor danWali. Hanya Juru Sita yang selamat. Lewat Nabi Kembar, Teater Amoeba mencoba menafsir kembali kekacauan politik di Polandia saat diduduki Rusia yang dibayang-bayangi oleh sosok Ratu Adil. Kekerasan politik berbanding lurus dengan tipu muslihat penguasa dan pembunuhan mereka yang dianggap menghalangi sang penguasa. Jika Mrozek menghadirkan publik yang marah dengan simbol suara-suara dari luar istana, Teater Amoeba menghadirkannya di atas pentas sebagai kelompok demonstrans di gedung istana dengan gerakdan bunyi-bunyian sebagai simbol kemarahan. Dengan slide pendudukan gedung DPR/MPR Senayan oleh mahasiswa, pada 1998, panggung dipenuhi oleh para demonstran yang membuat riuh dengan cara memukuli kerangka scaffolding. Selain itu, ada juga tentara, tokh yang bertugas mengabarkan kejadian di luar istana,termasuk penembakan sempat orang demonstran dan perusakan pagar istana yang harganya miliaran rupiah itu. Eksplorasi bunyi-bunyian komedi bernuansa blues dihadirkan sebagai penguat ide artistik secara keseluruha. Termasuk dalam menampilkan adegan pembunuhan yang semula keji menjadi penuh humor dan parodi. Dengan gaya seperti ini, Teater Amoeba mencoba menempuh siasat untuk menampilkkan teater politik tidak semata-mata sebagai teater yang penuh jargon dan khotbah, dengan tokoh-tokoh besar, tapi menghadirkan sisi sisi lain yang tak kalah menariknya, tokoh kecilnya di saping ironi tentang siapa yang selamat dan binasa dalam sebuah pengadilan rakyat. Teater Amoeba berdiri sejak 26 Nopember 1996 atas inisiatif Tarmidi Komeng dan menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat.Lakon yang pernah dipentaskan Sssst, dan Topeng karya-karya Ikranegara, Ken Arok karya Saini KM, Wot, Malam Jahanam, Romeo and Julliet, Machbet, Grafito, dll. (hery s)
Workshop Membaca Tradisi DKJ di 5 Wilayah DKI

Workshop Membaca Tradisi DKJ di 5 Wilayah DKI

Lanjutan program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertajuk Workshop Teater Membaca Tradisi yang berlangsung di lingkungan Jakarta Barat bekerjasama dengan Ikatan Drama Jakarta Barat (Indraja), pada 6-9 Juni 2012, lebih bersifat kuliah umum. Padahal instruktur workshop, Afrizal Malna selalu terus mendorong agar workshop itu betul-betul berlangsung selayak workshop dan Afrizal ingin memposisikan diri sebagai pendamping sekaligus penengah. Kenyataan ini terbukti dari dorongan Afrizal kepada ratusan peserta agar berkomentar apa pun secara bergiliran. Semua peserta mengakui, mereka telah mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Yaitu tentang tradisi yang bukan melihatnya ke belakang. Artinya, tradisi bukan latar belakang kebudayaa suatu masyarakat atau komunitas. Meskipun dalam pemberian materi workshopnya, Afrizal memutar video tentang kesenian tradisi seperti tradisi Hudoq Dayak, Kalimantan Selatan. Boleh jadi, sikap Afrizal itu yang membuatnya enggan menjawab semua pertanyaan peserta terkait rencana produksi teaternya dalam rangka mengikuti Festival Teater Jakarta (FTJ) 2012. Misalnya, ketika Afrizal ditanya soal video Performance Art Firman Djamil, Afrizal yang kebetulan ikut terlibat dalam video itu bisa dijadikan contoh langsung untuk pertunjukan teater, pria berkepala plontos itu tetap ogah menanggapi. Pokoknya, Afrizal merasa cukup memberi referensi dan ilmu tentang membaca tradisi yang implementasinya diserahkan pada sutradara sebagai peserta workshop itu. Upaya Afrizal menularkan pengetahuan yang menyerupai suatu pergerakan itu, terlihat misalnya, ketika Afrizal meminta tiga orang peserta untuk melakukan reaksi atas benda kursi dengan kue ulang tahun di atasnya berdasarkan pertanyaan yang diajukan Afrizal, yaitu; “Apakah itu Apakah?” Ketika peserta ada yang memakannya, kemudian yang lain menghidupkan seluruh properti itu sebagai bentuk upacara hari ulang tahun, ternyata menurut Afrizal semua itu linear. Jadi Afrizal ingin peserta berani melakukan yang bukan linear, terutama dalam menghadapi tradisi. “Upacara hari ulang tahun sudah menjadi tradisi kita, bukan? Karena dilaksanakan orang yangmerayakannya setiap tahun. Ini kan linear. Coba lakukan reaksi yang tidak linear menjadi tradisi yang baru lagi,” pinta Afrizal. Selain itu, Afrizal mengingatkan tentang salah satu adegan pertunjukkan teater Rumah yang Dikuburkan karya Sam Shepard, terjemahan Akhudiat dan disadur oleh Afrizal sendiri. Saat dipentaskan Teater SAE , ada tokohnya yang muncul sambil sikat gigi seperti kehidupan sehari-hari. “Ini menjadi tidak linear karena ditampilkan dalam pertunjukkan teater. Sepengetahuan saya, belum pernah ada atau belum berani orang menampilkan adegan keseharian seperti yang sehari-hari itu. Itu yang membuatnya jadi linear,” pungkas Afrizal yang malam 7 Juni 2012 itu bertepatan dengan HUT –nya yang ke-55.

Selasa, 05 Juni 2012

Happy Salma Puas Perankan Istri Bung Karno

Berbekal pengalaman menjadi seorang pemain sinetron dan teater, Happy Salma kembali menjejakan kakinya di dunia seni teater. Rencananya, Happy akan memainkan peran sebagai salah satu istri Soekarno. Sebelumnya, model asal Sukabumi ini telah sukses tampil memainkan sebuah pertunjukkan bertajuk "Monolog Inggit" di kota kembang tahun lalu. Ketertarikan selebritas pemilik nama lengkap Jero Happy Salma Wanasari pada sosok Inggit terlihat pada saat dirinya terlibat dalam pembuatan film tentang istri-istri Soekarno. Sosok Inggit yang diperankan oleh Happy Salma ini seakan hilang dari ingatan sejarah Bangsa Indonesia. ”Sosok Inggit Garnasih ini sangat inspiratif bagi kaum perempuan di Indonesia. Sebagai istri, semangat Inggit telah menghantarkan suaminya menuju pintu gerbang kebebasan kemerdekaan tanah air," ujar Happy kepada VIVAlife, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 30 Mei 2012, terkait pertunjukan Monolog Inggit" yang berlangsung pada 4 dan 5 Juni 2012, di Teater Salihara, Jakarta Selatan. Happy Salma merasa ada bagian sisi kepahlawanan yang dimiliki Inggit Garnasih. "Sebagai perempuan dengan kesederhanannya, beliau mampu mengambil sikap dan konsekuensi dengan pilihannya serta mampu menjaga harga dirinya sendiri," ujarnya. Kesulitan yang dihadapinya karena tokoh Inggit Ganarsih pernah hidup di dunia. Bukan tokoh fiktif atau imajiner yang acapkali dimainkannya dalam pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Jadi, ia mempelajari betul tokoh tersebut dari berbagai referensi yang ada. Seperti membaca buku "Kuantar Kau ke Gerbang" yang ditulis oleh Ramadhan KH. Apalagi, ia mementaskan sendiri pertunjukan itu selama 2 jam di atas panggung. Karenanya, ia harus berlatih keras dan menghapal skrip yang sangat panjang. Sebab, pertunjukan itu berlangsung sepanjang 13 babak. ”Tantangan konsistensinya itu, saya harus berlatih dan menghapal. Ada 13 babak. Dan, itu bukan kisah imaginer, ceritanya harus betul. Saya harus menceritakan dengan rinci dan detail," ucapnya. Happy juga banyak bertanya kepada orang yang mengetahui sosok Inggit semasa hidupnya. Ia melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Bandung, Jawa Barat, tempat Inggit menghabiskan masa tuanya setelah berpisah dengan Bung Karno. Inggit, adalah wanita sederhana. Dialah yang membimbing Soekarno sehingga menjadi orang luar biasa. Dia juga menunjukkan sikap perempuan selayaknya bekerja. Karena itu, Happy mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk mempelajari tokoh tersebut. "Saya banyak bertanya kepada keluarganya Inggit, bagaimana dia saya pelajari betul. Saya ingin mewakili spiritnya dia. Kelupaan sejarah itu menjadi semangat cita-cita saya mementaskan monolog ini," ucapnya. ”ketika Kusno diminta menghapus atau meniadakan kata imperialisme pada tulisannya oleh guru-gurunya, Kosno selalu bilang tidak. Maka saya pun yang begitu tahu dan memahami apa yang dikerjakan dan diperjuangkan Kusno, akan tetap setia mendukungnya..." Itulah kepingan monolog yang menunjukkan Inggit Garnasih, begitu setia dan paham akan apa yang diperjuangkan Soekarno. Itu pula yang menjadi bagian dari monolog berdurasi sekitar 1,5 jam yang membuat sekitar 300 penonton terpukau dan kusuk mendengar serta menyaksikan Monolog Happy Salma 'Inggit' di Gedung Kesenian Dewi Asri, STSI Bandung, pada Kamis (22/12/2011). Happy yang menilai Inggit Garnasih sebagai Srikandi yang terlupakan, tampak berupaya serius memunculkan karakter seorang Inggit Garnasih dalam menolognya yang disautradarai Wawan Sofwan dan penulis naskah Ahda Imran. Dengan kain batik warna krem dan kebaya hitam motif bunga-bunga putih, Happy berpenamilan sosok perempuan masa perjuangan kemerdekaan RI. Rambutnya diberi garis-garisan putih sebagai uban, serta kaki beralaskan sepatu sandal masa itu. Monolog yang digelar Mainteater yang bekerjasama dengan Titimangsa Foundation dengan sponsor utama Bakti Budaya Djarum Foundation itu merupakan momentum hari ibu, sehingga diharapkan menjadikan hari ibu tidak sebagai perayaan atau seremonial saja. Dalam sejarah, hanya menceritakan bahwa Inggit adalah salah satu istri Soekarno yang sangat setia. Namun lebih dari itu, Inggit adalah salah seorang yang paling berjasa pada keteguhan dan keyakinan Soekarno akan perjuangannya. Selain kesetiannya serta dukungan Inggit yang membuat Soekarno teguh dan yakin pada perjuangannya, seperti yang ditunjukan pada petikan di atas, diceritakan ketika Soekarno sibuk menyiapkan pidato untuk membela negeri ini, Inggit juga dengan tekun menjahitkan kancing jas Kusno, begitu Inggit memanggilnya, supaya ia tampak gagah, di depan ruang sidang esok harinya. Dan benar terjadi, pidato Soekarno di ujung Desember 1930 dengan judul Indonesia Menggugat. (tbn.c)

Kamis, 31 Mei 2012

JAKARTA KECIL DAN MACETNYA “JET COASTER TEATER”

Catatan Pertunjukan “ Repertoar Sabun Colek “ Teater Stasiun, 24 Mei 2012 di Bentara Budaya Jakarta Oleh: Riyadhus Shalihin Biografi menonton pertunjukan Teater Stasiun tidak jauh berbeda dengan pengalaman kepenontonan saya sebelum menyaksikan “Jakarta kecil” di atas pentas. Jakarta sendiri seperti terminal drama yang membocorkan peristiwa acting terus menerus, aktor-aktor metropolis tanpa naskah, menonton teater di Kota ini disambut secara meriah oleh prolog-prolog faktual non estetik yang mungkin lebih simbolik, teatrikal, dramatik bahkan. Saksikan penyutradaraan kakek buta yang hampir tertabrak mikrolet, orang yang asyik makan ketoprak disamping gerobak sampah, emak dan anak tertidur nyenyak di balik tumpukan botol-botol bekas, lelaki yang sedang memukuli monyet di bawah jalan layang, anak-anak yang sedang mengejar layangan melawan arus lalu lintas, juga bau keringat para kernet serta supir metromini yang melengkapi seluruh kebutuhan indrawi pertunjukan, kegaduhan Jakarta menjadi riwayat penting bagi saya untuk menemukan identitas estetika di balik riuhnya kelahiran sebuah kondisi teater. Dalam teori akting dikenali “tubuh yang mengalami, tubuh yang menjadi, tubuh yang partisipatif“ maka dalam peristiwa kepenontonan pun banyak tercipta situasi seperti itu. Saya selalu percaya pertunjukan teater dengan megalomania artistik yang ultra ekletis sekalipun tidak pernah kabur dari muara sosiografinya, dan itulah salah satu yang membuat “kemenjadian” penonton mengalami peristiwa partisipatif timbul tenggelam, sebab kedekatannya yang nyaris tanpa jarak antara kesakralan teks, panggung dan riwayat pemeranan. Melaui leaflet yang disediakan panitia dapat diketahui bahwa Teater Stasiun bermula muncul dari kekerabatan geografis para senimannya yang berdomisili dekat dengan sebuah Stasiun yang bernama Stasiun Angke, ini merupakan point yang menarik dan mengingatkan saya pada Teater Kubur yang berlatih dan berproses di areal pekuburan Gang Kober Jakarta. Teater modern jakarta hidup dalam kondisi yang nyaris tanpa kebudayaan, mereka menghasrati teater dalam kemanusiaan yang nyaris sekarat, selain berhadapan dengan gigantisme perbelanjaan, Teater Jakarta berhadapan juga dengan kondisi seni di luar teater yang terus melakukan muslihat atas nama kontemporer, aktivitas korupsi kontemporer yang berujung transaksi niaga, terutama seni rupa dan seni lukis yang sedang memasuki musim “cukong melek seni”, seni rupa ramai dijadikan identitas legilslasi glamour para investor dan stakeholder bisnis. Memasuki estetika Teater Jakarta seakan berhadapan dengan pemeranan pabrik, pemeranan mereka diolah, dilumat dalam subjektifikasi mall-mall, menyisakan kebecekan acting, becek meninggalkan panggung menuju tempat kerja, dari acting ke demonstrasi outsourching, dari menghafalkan naskah drama menuju dialog tawar menawar barang curian, dari panasnya angkutan ojeg di siang hari menuju ruang Teater yang nyaman, dingin dan steril. Ini adalah estetika khas Jakarta yang terus terjaga, Teater yang membahasakan korelasi keindahan yang secara intens disinggahi oleh dramaturgi becek ala Jakarta minor. Robeknya televisi, sebuah kabar dari Soekarno Pertunjukan Repertoar sabun colek yang ditulis dan disutradarai oleh Edian Munaedi mempersilahkan kita untuk duduk menonton sekaligus mengusir kita dari teater. Satir Jakarta yang dipentaskan pada tanggal 24 Mei ini penuh dengan polusi biografis, teks bukan hasil pertapaan artistik , mereka menampilkan mimetisme teater yang bolong, rombeng juga polos. Sejak awal pertunjukan proses pengusiran itu sudah terjadi, para penonton disambut dengan set dekor yang menggantungkan kotak televisi di berbagai sektor pemanggungan, di atap, di depan, di samping dan di belakang panggung, seketika itu juga “robek” berita-berita politikus, iklan pembersih wajah, pelangsing tubuh, kecelakaan jalan, lumpur lapindo, pembagian BLT, demonstrasi buruh ditampilkan sekaligus, penonton seakan dicabut dari realitas konsumerisme TV menjadi negasi pentas yang menakutkan. Bahwa Gurita “jual beli bencana” televisi sedemikian dekatnya hingga tidak menyisakan ruang pengamatan, hingga akhirnya ketika diberi jarak panggung barulah terasa sedemikian mencengkramnya TV yang kita serap bagai sarapan pagi siang dan malam itu. Robeknya televisi membuat runtuhnya dinding pengalaman yang pertama, pengalaman mengalami TV dalam tubuh rumah dan tubuh teater menjadi sebuah persetubuhan atas nama TV yang menyakitkan. Setelah itu kemudian datang seorang aktor yang dinamakan “Blitz” dimainkan oleh Berry Ken Agnes yang menyampaikan dialog “ Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu, Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu “ kata – kata itu terus dilontarkan berulang-ulang hingga akhirnya panggung gelap. Dua pengawal pertunjukan itu menghantui sebuah kata Indonesia bagaikan Pidato Soekarno yang sedang tersenyum di televisi, sokerano dibangun di antara kondisi formal pidato dan kemerdekaan yang hanya bisa kita jumpai di perpustakaan saja, bukan saat menonton televisi di rumah, bukan di saat berita pagi, berita buruh yang sedang menjahit mulutnya sendiri, kita saksikan sambil mengunyah roti dan menyeruput segelas susu hangat. Pertunjukan kemudian berlangsung bagaikan peristiwa kelahiran yang cacat, berbiak tanpa ibu. Pertunjukan Repertoar Sabun Colek ini memang memakai kata repertoasi untuk menampilkan 3 sub drama yang berhubungan secara tidak situasional, menjadi suasana yang saling menyakiti peristiwa nya masing-masing. Sub Pertama adalah “ Knalpot Bajaj “ dimana seorang Bapak perantauan dari kampung Tegal yang bosan akibat anaknya meminta terus menerus uang dari dirinya, dan sang suami dari anaknya tersebut hanya bisa tidur dan meminta makan saja. Sub-sub desain artistik pertunjukan ditata secara baik oleh skenografer Edmun, pada adegan yang diberi nama kanlpot bajaj ini hadir seng-seng berkarat yang mengimpresikan sebuah gubuk pinggiran Jakarta. Bapak terus menceramahi anaknya yang tidak bisa menyuruh suaminya untuk bekerja, sedangkan sang anak memunggungi penonton dan tidak berkata apa-apa, sesenggukan, berlinang kesia-siaan, menangis dengan menyesali anomali akan krimanalitas domestik yang dilakukan suami pada keluarganya. Nmaun akhirnya sang Bapa memberikan juga sebagian uang kepada anaknya, khotbah panjang lebar akhirnya hanya menjadi polusi retoris ba, menukik namun akhirnya luluh juga. Aktor Toni Prahara sebagai bapak memancing kejenakaan yang terpatah–patah di antara bau baygon yang menjadi artefak bau, membawa saya mabuk, bau bakar baygon tidak pernah senikmat ini sebelumnya. Memotong kemaluan pertunjukan Sub drama selanjutnya dinamakan “ Got mampet “, memberitakan 2 wanita yang sama-sama dikecoh oleh hierarki gender. Wanita pada sub ini dijadikan ornamentasi non vital oleh lelaki-lelaki, hadir seorang Ibu disia-siakan oleh suami yang kerjanya hanya minta makan saja, dirinya sebenarnya tidak meminta apa-apa cukup hanya kasih sayang namun apabila itupun suami tidak dapat memberikan apalagi kebutuhan lainnya. Sedangkan Fitri anaknya adalah seorang penyanyi dangdut orkes yang disia-siakan oleh pacarnya yang merupakan pemilik orkes dangdut keliling tersebut, setelah dinikmati tubuhnya fitri ditinggalkan begitu saja. Sub ini ditampilkan menggunakan koreografi lakon yang hitam, bagaimana dialog-dialognya adalah dialog lumpur, yang jujur dan kotor. Ibu dan anak saling memaki dirinya sendiri lalu akhirnya luluh dalan ontologi kelembutan wanita yang paling alamiah. Set yang minimalis ini memang efektif untuk menciptakan imaji teateral bagi para penontonnya, suasana di belakang rumah yang pengap dan bau, dinding-dinding seng berkarat dan tata suara yang menandakan kedekatan gubuk dengan rel kereta api memparodikan urbanitas yang sesungguhnya, warna-warni belel, sebuah mozaik kemiskinan yang professional. Sang ibu yang diperankan Reni Kaha terlihat sedang mencuci baju para pelanggannya, ditemani oleh anaknya yang terus membanting radio, membanting handphone, intens menyulut roko, hingga berteriak-teriak sendiri, kekesalan sang anak akibat pacar yang tidak mau bertanggung jawab dan ibu yang menyesali dinikahi tukang tipu. Lampu mati tiba-tiba dan mereka saling erat berpegangan dalam ruang kewanitaan, sang anak yang diperankan Mega F yohana mengucap “bu kita potong aja yu kemaluan laki-laki, mentahnya aja enak apalagi kalau sudah digoreng“ sebuah jilatan acting yang sunyi dan anti sastra. Saya lupa dalam setiap adegan per adegan ada bongkahan acting di luar naskah yang dimanipulasi oleh Edi sebagai sutradara, seperti tadi pembocoran kata-kata Soekarno, serbuan televisi, Blitz yang memul-mukuli tubuhnya sendiri sambil mengucapkan kata-kata yang dicoretkan di gerobak-gerobak sampah, dan sebelumnya juga saat akan memasuki sub drama “Got Mampet” Mega F Yohana yang menjadi sang anak bergoyang dangdut, menyajikan kecentilan pentas untuk memperjelas biografi marjinalitas kedangdutannya. Matinya lampu yang disisipi dialog bagai memotong vitalitas liniernya kemaluan pertunjukan yang komunikatif dengan dialog-dialog seputar kemaluan hingga pemotongan kemaluan laki-laki. Sub drama yang terakhir menyajikan kooptasi hierarkis dalam bentuk tedekatnya. Sub yang dinamakan “Ojek Prihatin” ini ditandai oleh set pangkalan ojeg, hadir dua anak dan bapa yang tampak sama-sama gelisah menanyakan identitas kemiskinannya. Bapa yang sudah lama membangun dengan susah payah pangkalan ojegnya, dirinya tidak mau ada seorangpun yang ngojeg ditempatnya, itu namany menyaingi ekonomi sehingga siapapun akan dilawannya termasuk anaknya sendiri yang juga ingin ngojeg disitu. Yang menarik dari ini adalah identifikasi keurbanan yang betul-betul dibocorkan, Ndang Rumeksa sebagai bapa membasahi logat kebetawiannya dengan lengketan dialek sunda kasar pandeglang banten, terasa jelas sinkretisme linguistik yang barbar dari ulang-alik betawi dan sarkasme sunda daerah banten yang mempericuh lompatan acting. Ada pembauran romantisme daerah dan realitas kehidupan jakarta yang keras. Konflik terus berlanjut hingga hadir Aktor Haikal Sanad yang mencampuri identitas carut-martutnya perbiakan ras di Ibu Kota, Haikal yang berperan sebagai Usin Minyak bolak-balik menawarkan minyak parfum ala timur tenagh dengan kekentalan logat arab betawi condet yang komikal, Usin bertingkah sibuk, peduli, perhatian ternyata hanya untuk menjajakan kebutuhan ekonimnya. Berbelat-belit Usin bersantun kata akhirnya memang Jakarta hanya menawarkan putaran erotisme niaga saja. Lampu gelap, sebuah dunia yang patut disimak. Musik pertunjukan yang ditata oleh Mameth Tgong ini memang memaki imaji robotikal dan industrial kota, memberikan kolom nada yang membakar jantung kemanusiaan siapapun yang hendak datang ke kota Jakarta, Mameth menyuasanakan sebuah pengumuman suasana dan peringatan, pemompaan akselerasi ekonomi hingga mencapai titik maksimum kemuakannya. Kemuakan-kemuakan itu saya catat secara runut, seperti biasa dalam sebuah peristiwa teater lampu akan selalu gelap di seputar penonton hingga lakon teater selesai dipertunjukkan. lampu gelap adalah sebuah dunia yang jujur, nyinyir, sarkas, barbar dan juga mulia, sebuah dunia yang patut disimak. saat lampu gelap kita akan menemukan kejujuran tanpa wajah, hanya ada suara yang bisa kita dengarkan, bagaimana mereka menertawai aktor, melepaskan enersi mahkluk jakarta yang memenjarakannya, saya mengamati pada pertunjukan ini penonton terkuras untuk konsentrik menikmati daya artistik pertunjukan, lepasan tawa dan dahaga rutinitas menjadi sebuah kesenangan bersama yang sakral, lampu gelap memfasilitasi sebuah kemanusiaan tanpa martabat, kemanusiaan yang membiarkan diri kita melepas penat kerja, sebuah dunia sederajat yang tidak mengenali pakaian apa yang sedang kita kenakan, berapa banyak uang yang sedang kita simpan di dompet, mobil apa yang kita pakai, semua melebur dalam dunia agoni yang puitik, hanya ada suara , bau tubuh dan dengus nafas yang memburu, dengan caranya teater menyimak secara haru nestapa dirinya sendiri, sayangnya lampu gelap hanya ada sekejap dalam dunia seni pertunjukan, dalam dunia aktual “ke-terangan” hanya menyembunyikan kejujuran sebuah kemanusiaan. Kebudayaan yang tidak telanjang Mengapa kita rela menunggu lama demi menyaksikan sebuah pertunjukan teater, setelah lelah seharian beraktivitas mengapa tidak lekas tidur saja membuat susu, lalu berselimut dengan nyaman menyongsong hari esok. Teater memberikan perayaan bagi istirahatnya sebuah kapitalisme kemanusiaan, Teater memberikan kita sebuah ruang tanpa justifikasi jual-beli, dunia bohong-membohong yang seksi. Namun sayangnya dalam pertunjuakn sabun colek ini akhir yang telah tertata sedemikian erotik sedari awal tidak menemukan maksimalitasnya di akhir pentas. Hingga Sub drama “tukang ojeg” berakhir maka televise-televisi menyala kembali, serbuan televisi itu menyedot kembali janji-janji palsu para politisi, tensi kepenontonan pun meningkat, adrenalitas acting meninggi menghantarkan kita pada “jet coaster Teater”. Kemudian sang blitz masuk lagi dan menyatakan kembali koar-koar soekarnoisnya “kebebasan adalah hak segala bangsa“ terus diucapakan sambil satu persatu dia melepaskan jas serta pakaian yang dia pakai, kemudian satu persatu aktor yang tadi dibangun “termuntahkan” melewati sang blitz, mereka tetap bertengkar dalam peristiwanya sendiri-sendiri, berjoged dan menyanyikan dangdut, menjual parfum, anak dan bapa bertengkar saling merobek kejenuhannya pada kota sambil berlalu lalang dari kanan dan kiri panggung, saya terus tertarik pada sang blitz yang mempreteli pakaiannya satu persatu menuju telanjang, saya seakan menyaksikan realitas Jakarta yang membuat miniatur tubuh warganya hingga tidak berdaya, bertelanjang dalam topeng jas dan pakaian kantor. Namun setelah musik berhenti ternyata Berry Ken Agnes hanya berhenti membuka pakaiannya pada legging saja, dia tidak meneruskan pemretelan ketelanjangannya hingga benar-benar melucuti seluruh pakaian, saya merasakn ini adalah ketelanjangan yang masih didominasi oleh antah-berantah norma ataupun budaya yang justru akhirnya menghasilkan kebudayan yang tidak telanjang seperti yang dicita-citakan dari awal drama, saya fikir akan terjadi peritiwa yang lebih metaforik apabila Berry melepaskan saja seluruh hiruk-pikuk realitas Jakarta kecil yang telah dibangunnya tentu dengan simbol pakaian kantor yang dia kenakan, akhirnya adegan akhir menjadi sebuah ketelanjangan Jakarta yang tanggung, barbarisme yang belum sepenuhnya menelanjangi penonton. Saya teringat pada Aktor Zainal Abidin Domba yang bertelanjang dalam sebuah pertunjukan Teater SAE namun tetap tubuh telanjang yang menjadi performa adalah sebuah puitisasi ruang yang tidak birahial namun lebih kepada streching ruang menuju ketegangan “jet coaster teater” yang paling menekan, saya kira ada kebijakan gedung atapun tata aturan undang-undang kesopanan yang kini menyusupi kepentingan seni yang otentik, tata keadaban ini tidak se-egaliter seperti dahulu, juga ditambah dengan bermunculannya kelompok-kelompok garis keras agama, hal-hal tersebut bisa jadi sebagai bahan pertimbangan Sang Sutradara. Sayang sekali agama atau politik dalam sebuah era yang katanya reformis mengkapitalisasi seni-seni yang jujur, seni kini dijubahi oleh topeng undang-undang yang akhirnya tidak membebaskan kemanusiaan, meski hanya dalam satu pertunjukan Teater.***

Sabtu, 21 April 2012

Teater Garasi Pentaskan Goyang Penasaran di Salihara

Balas dendam seorang penyanyi dangdut yang penasaran dengan guru mengajinya.

Bagaimana jika seorang penyanyi dangdut yang diidolakan para lelaki dan dianggap merusak moral ternyata jatuh penasaran pada seorang guru mengaji. Inilah kisah hidup Salimah, seorang penyanyi dangdut yang membuat para lelaki bertekuk lutut di hadapannya.
Salimah bisa saja memilih salah satu dari penggemarnya. Salah satunya Solihin, pemuda perlente yang kemudian menjadi lurah. Meski lamarannya pada Salimah ditolak, namun Solihin tetap bertahan. Sayangnya Solihin tak tahu bahwa Salimah begitu penasaran pada Haji Ahmad, guru mengajinya semasa remaja.
Ironisnya, Haji Ahmad inilah yang menjulukinya sebagai sumber dosa di kampungnya. Lelaki ini pula yang membuatnya turun panggung dan terusir dari desanya. Dua tahun kemudian, Salimah yang telah penasaran, kembali untuk menuntut balas.
Kisah horor ini adalah jalan cerita lakon Goyang Penasaran yang dipentaskan Teater Garasi dari Yogyakarta di Teater Salihara, yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Kamis (19/4) dan Jumat (20/4), pukul 20.00 WIB. Tiket pertunjukan ini dijual Rp50 ribu untuk umum dan Rp25 ribu untuk mahasiswa.
Skenario lakon ini ditulis oleh Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi yang diangkat dari cerpen berjudul sama karya Intan Paramaditha yang berada dalam bagian buku Kumpulan Budak Setan, berisi kumpulan cerita pendek hasil pembacaan ulang karya-karya horor Abdullah Harahap oleh Intan Paramaditha, Eka Kurniawan, dan Ugoran Prasad.
Pada hari terakhir, 20 April, setelah pentas akan diadakan diskusi terbuka dengan para seniman yang terlibat dalam pertunjukan Goyang Penasaran.
Sehari kemudian, 21 April, tim pertunjukan lakon ini mengadakan diskusi bertema Gender dan Agama dalam Seni dan Media di Newsmuseum Kafe di Jalan Veteran, Jakarta Pusat. (brt-1)

Sabtu, 14 April 2012

Teater Garasi Pentas dalam Rangka Forum Seniman Perempuan

Program ini adalah bagian dari Forum Seniman Perempuan Salihara 2012, yang berlangsung selama April—Mei 2012. Pementasan Teater Garasi dari Jogjakarta bertajuk Goyang Penasaran menampilkan kisah Salimah, seorang penyanyi dangdut, di tengah masyarakat yang memuja sekaligus menghujatnya. Banyak lelaki yang rela bertekuk lutut di depannya. Karena dianggap merusak moral, Salimah dilarang pentas oleh Haji Ahmad, guru mengajinya semasa remaja.
Dua tahun kemudian, ia kembali ke kampung dan menuntut balas. Lakon ini mengolah moda horor untuk mempersoalkan cara kita memandang tubuh, seksualitas, agama, dan kekerasan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Lakon ini adalah proyek kolaborasi Teater Garasi yang diadaptasi dari cerpen Intan Paramaditha dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Naomi Srikandi, serta didukung oleh Empowering Women Artists Yayasan Kelola (2010—2011). Teater Garasi adalah kelompok seniman dan laboratorium seni pertunjukan yang berkomitmen mengembangkan idiom-idiom pertunjukan yang segar dalam upaya membangun dialog yang kritis dengan publik/lingkungannya. Karya-karyanya termasuk Waktu Batu, Repertoar Hujan, Je.ja.l.an, dan Tubuh Ketiga. Beberapa di antaranya telah dipentaskan di festival internasional.
Pertunjukan teater “Goyang Penasaran” ini akan berlangsung di Teater Salihara pada Kamis—Jumat (19-20) April, pukul 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 50.000.
Mengalihkan sebuah cerita pendek atau karya sastra lainnya menjadi sebuah karya pentas adalah sebuah alternatif bagi pengayaan naskah teater. Tetapi itu berlangsung bukan tanpa masalah, misalnya antara mempertahankan watak karya sastra dan mencari kemungkinan pemanggungan yang dibayangkan sutradara. Bagaimana jika keduanya bertemu dan membicarakan kemungkinan pemanggungan karya tersebut? Intan Paramaditha selaku penulis cerpen “Goyang Penasaran” dan Naomi Srikandi selaku sutradara akan berbagi pengalaman seputar kolaborasi mereka dalam menulis naskah dan memanggungkan lakon Goyang Penasaran.
Diskusi “Goyang Penasaran: Dari Cerpen ke Panggung” akan berlangsung di Teater Salihara, Jumat, 20 April 2012, pukul 21:30 WIB (setelah pertunjukan). Terbuka untuk umum, tempat terbatas. Pendaftaran paling lambat Kamis, 19 April 2012

Gabung Teater Kolom untuk Profesionalisme (1)

Profil Stefen Zhou


Perjalanan karir Stefan Zhou merantau ke Jakarta terbilang nekad. Karena dia merantau tanpa punya saudara di Jakarta, sekitar tahun 2000. Dia memutuskan berangkat ke Jakarta karena semata-mata ingin menyalurkan bakat seninya, terutama di bidang seni teater. Stefan mengenal teater pertama kali, tahun 1988. Saat masih duduk di bangku sekolah SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia diajak bergabung bersama grup Enggang Terbang Mandiri dan sempat ikut pementasan dalam naskah Sam Pek Eng Tai berperan sebagai bapaknya Eng Tai. Tak tanggung-tanggung, grup ini mengadakan pementasan selama satu bulan, berkeliling seluruh kota di Kalimantan Barat.

Karena dia lebih memilih ke Jakarta untuk mencoba peruntungan nasib, maka grup teaternya dilanjutkan dengan membentuk sendiri bernama Masqurade Theater, sejak 2005 di Jakarta. Grup teater ini diklaim sebagai hobi oriented, bukan profit oriented. Walaupun pementasannya lebih banyak di mal-mal pada acara berkaitan Perayaan Imlek dan Cap Go Meh maupun undangan pentas lain di mana pun. Grup ini akan dipertahankan Stefen sampai seumur hidupnya. Walaupun Stefan sudah mulai banyak bergabung dengan grup teater-teater professional, seperti Teater Kolom Jakarta.

“Sebenarnya saya pernah ikut main dalam pentas drama musical berjudul Cinta, tapi tidak usah disebutkan nama grupnya. Saya tidak enak. Karena saya cuma jadi bintang tamu, pada pementasan di Universitas Bunda Maria, kawasan Lodan, Jakarta Utara, baru-baru ini,” ujar Stefan zhou di sela-sela berlatih teater bersama Teater Kolom di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (31/3).

Diakuinya, walaupun grup teater bentukannya masih terus dipertahankan, tapi dia mengaku masuk Teater Kolom untuk tempat menimba ilmu sekaligus menyimpan cita-cita ingin maju bersama Teater Kolom. “Saya bukan mau muluk-muluk, tapi saya merasakan dan melihat ada sesuatu yang menjanjikan bersama Teater Kolom. Karena itu, biar saya tidak ikut terlibat main, saya akan datang setiap jadwal latihan rutinnya. Tapi saya juga tidak mau menutup tawaran untuk panggilan mentas buat grup saya sendiri,” papar pria kelahiran Pontianak, 26 Agustus 1980.

Diakuinya, bakat seni tidak mendapat keturunan dari orangtuanya. Karena kedua orangtuanya seorang wiraswasta. Dia mendapat bakat seni sejak kecil sudah sering terlibat dengan dunia kesenian.Tapi bakat usaha dari orangtuanya justru yang mengalir. Karena dia sekarang membuka butik dan grosir pakaian di Pasar Pagi Mangga Dua Blok B 55 bernama Toko Louis. “Bisnis ini saya rintis bersama saudara sepupu, sejak tahun 2005. Ini karena saya sudah punya pengalaman lebih dulu di bisnis fashion selama di Jakarta. Saya sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko teman di Mangga Dua Square,” kenang anak tunggal dari pasangan Suhendro Zhou (almarhum lima tahun lalu) dengan lim Su Ngo. (tim/bersambung)

Senin, 09 April 2012

Teater Stasiun Pentaskan Reportoar Sabun Colek

Pemain Teater Stasiun Latihan pada Salah Satu Adegan Reportoar Sabun Colek

Lama grup teater senior jebolan Festival Teater Jakarta (FTJ), Teater Stasiun tidak menggelar produksi. Terakhir pementasan grup yang berbasi di wilayah Jakarta Barat ini, naskah Teroris di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada 2006. Sutradara sekaligus penulis naskah Reportoar Sabun Colek Ediyan Munaedi mengatakan, proses produksinya yang akan ditampilkan di Bentara Budaya Jakarta, pada 3 Mei 2012, pukul 20.00 WIB, ini terbilang cukup lama. Ketahuan mulai proses rutin saja, selama tujuh bulan.
Selama waktu itu, Ediyan memproses naskah secara improvisasi hingga akhirnya menjadi naskah utuh yang namanya naskah setelah lebih dari tiga bulan. Jadi setiap latihan dia mencatat dialog yang sudah diucapkan pemain. Kadang berganti dialog dan bisa berganti pada hari lain. Tapi setelah ditemukan dialog secara kualitas baru dimatangkan tanpa terjadi pergantian dan mulai ditulis. Jadi menurut Ediyan, naskahnya dibuat lembar per lembar dengan melihat persoalan di lingkungan rumahnya. Dia melakukan obrolan-karena tak mau disebut investigasi- pada warga yang jadi target atau objek penulisan naskahnya. Kemudian dapat selembar dibawa untuk laithan. Begitu proses terjadinya penulisan naskah secara utuh.
“Memang proses produksi ini cukup lama. Lebih dari tujuh bulan. Ini bisa lebih lama lagi waktunya kalau dihitung dari semangatnya. Produksi ini sebenarnya semangat lama yang timbul tenggelam sesuai timing. Proses naskahnya cukup panjang juga, persisnya setelah habis produksi Teroris tahun 2006. Karena saat itu, aku memang sudah punya semangat untuk menulis naskah sendiri. Ini terutama karena kegemasanku pada kondisi lingkungan di tempat tinggalku (di kawasan Angke, Jakarta Barat,red). Tapi terganggu sama produk lain, seperti The Bomber yang tidak sempat dipentaskan. Padahal sampai bloking pengadeganan,” ungkap panjang Ediyan Munaedi, sutradara Teater Stasiun di sela-sela latihan grupnya di Gelanggang Remaja Jakarta Barat (GRJB), Grogol, Sabtu (31/3).
Semangat produksi Reportoar Sabun Colek ini, menurut Ediyan, terhenti lagi. Karena teman-temannya sempat bersemangat untuk menggarap naskah Menunggu Godot. Ini pun sempat proses panjang bahkan sudah bloking pengadeganan selama tiga bulan. “Sampai akhirnya aku menemukan Menunggu Godot di lingkunganku sendiri karena Menunggu Godot yang sebenarnya gagal juga dipentaskan. Jadi produksi Reportoar Sabun Colek ini lahir dari proses latihan ke proses latihan yang terputus-putus. Lalu disambung setiap tumbuh semangat yang lama pada reportoar ini. Jadi ini bukan naskah imajinatif, tapi naskah kisah nyata dari daerah rumahku,” ulas Ediyan yang telah memenangkan Teater Stasiun sebanyak tiga kali dalam FTJ.
Awalnya ada empat bagian, rinci dia, tapi karena kepanjangan dipendekkan menjadi tiga bagian dengan durasi hampir dua jam nanti pementasannya. Tiga bagian itu terdiri dari kisah Tukang Bajaj, Tukang Ojek, dan Ibu. Menurutnya, tiga kisah nyata merupakan absuditas kaum Sabun Colek. Jadi konsep dibalik produksi ini, Ediyan merekam dari dalam komunitas warga di lingkungannya itu ada dilematis. Rekaman ini dipicu bacaan berita di Poskota dan Koran Lampu Hijau. “Awal-awal sekali, aku terinspirasi karena baca dua Koran itu. Aku temukan kenyataan bahwa mereka hadir tanpa perencanaan, tapi tidak bisa keluar. Baca Koran itu, sepertinya biasa, tapi kalau buat mereka itu sama saja tragedi. Di sini absurd juga. Ada cerita misalnya, pasangan suami istri yang hidup selama 21 tahun bersama, tapi suaminya pengangguran. Mereka punya anak dan anaknya ini juga memiliki problem tersendiri lagi. Nah, itu di dalam lingkungan yanga kecil dan dalam lingkungan besarnya,ya,pada
Negara ini,” urainya.
Realita ada penguasa dan pengusaha, selanjutnya ada media seperti televise yang begitu dominan karena menciptakan informasi-informasi yang hadir sebagai sebuah ralitas baru. “Bayangkan orang menonton televise berita kenaikkan BBM yang menyebut Jakarta lumpuh. Begitu pun di media cetak isinya kurang lebih begitu. Ternyata warga di lingkungan rumahku begitu takut keluar rumah. Padahal waktu aku keluar dan kucoba melihat demonstrasi menolak kenaikkan BBM itu, tidak ada apa-apa. Lalu lintas berjalan normal. Paling di jalan yang berada di depan gedung DPR MPR, Senayan. Karena memang di sana jadi basis demonstrasi. Itu wajar, tapi rakyat lemah menerima ini seperti terror,” ujar Ediyan mengutip cerita di naskahnya.
Adapun yang menjadi target dari produksinya di luar konsep pementasan, Ediyan mengatakan, selama ini kita tidak pernah peduli dengan persoalan-persoalan kecil yang lebih dalam. “Ternyata kita jadi sebuah tragedi sekaligus hiburan. Problem kita itu sebagai candaan kita. Ini kan tragedi namanya. Realitas ada warga yang merasakan tragedy, tapi tidak ada empati kita. Jadi dari pementasan ini, kami ingin terjadinya empati itu, kalau tidak bisa pada penonton, minimal pada komunitas kami. Jadi tidak Cuma simpati dan empati, tapi terlibat. Kami mendorong bisa hadir sebagai manusia utuh di lingkungan kami masing-masing, terutama pada situasi yang sama pada cerita naskah Reportoar Sabun Colek ini. Jadi pelaku bisa ikut larut dan baur tidak memendamnya sendirian,” tutupnya. (sng)

Minggu, 08 April 2012

“Teater Membaca Tradisi” Dasar Pemikiran Perlunya Diskusi

“Teater Membaca Tradisi” Dasar Pemikiran Perlunya Diskusi

Festival Teater Jakarta (FTJ) telah memasuki usianya yang ke-40 pada tahun 2012 ini. Di usia memasuki akilbaligh-nya yang ke-dua ini, FTJ 2012 akan membingkai helatannya dengan tema “Membaca Tradisi”. Sebuah tema yang bukan saja sekedar jargon event tetapi menjadi tolak dan tolok ukur penilaian juri terhadap penampilan para peserta FTJ 2012 mulai dari pelaksanaan tingkat wilayah kota administrasi (babak penyisihan) sampai ke tingkat provinsi DKI Jakarta (babak final).
Pembacaan terhadap tradisi akan menjadi cermin estetika (baik isi maupun bentuk) pentas drama peserta FTJ 2012. FTJ 2012 akan mulai digelar di tingkat wilayah (babak penyisihan) pada Juni dan Juli 2012. Sedangkan babak finalnya (tingkat provinsi DKI Jakarta) akan dilangsungkan pada akhir November – awal Desember 2012.
Mengingat persyaratan penampilan peserta FTJ 2012 tersebut di atas, yang berkenaan dengan tema “Membaca Tradisi”, Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menganggap perlu dan penting untuk mengadakan diskusi tentang “Teater dalam Membaca Tradisi” sebagai wahana pergulatan pemikiran sekaligus memberi peluang pemahaman tentang apa itu “tradisi” dan bagaimana “Teater Membaca Tradisi”? bagi teman-teman pekerja teater serta khususnya (calon) peserta FTJ 2012. Sehingga diharapkan diskusi ini akan memberi tidak saja informasi pengetahuan (ranah kognisi), tetapi bisa meresap menjadi sikap/pemahaman (ranah afeksi) juga syukur-syukur akan teraplikasikan dalam tindak (psikomotor) pelaku/pekerja teater khususnya (calon) peserta FTJ 2012.

Teater Membaca Tradisi

Memang, bukanlah hal baru mengupas kegelisahan kehidupan kesenian kita khususnya teater dalam membaca tradisi atau nilai-nilai yang mengakar di bumi pertiwi ini. Setidaknya wacana menengok tradisi sebagai alternatif bagi teater Indonesia modern telah banyak dikupas pada dekade 1970-an sampai 1980-an. Jika kita mengungkapnya kembali persoalan tradisi dalam teater di tahun sekarang ini sepertinya kita menggelar bancakan seonggok makanan basi yang telah mengeras dan jamuran. Tapi benarkah membicarakan tradisi sudah tidak relevan lagi bagi kehidupan perteateran mutakhir kita?
Gerakan penggalian akar budaya lokal memang telah dilakukan oleh para dramawan-dramawan Indonesia sejak pengujung tahun 1960-an. Arifin C. Noer, Rendra, Putu Wijaya, Ikranegara, Suyatna Anirun, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Saini KM kemudian disusul oleh Chairul Harun, Wisran Hadi, Aspar Paturusi, B.M. Syam dan N. Riantiarno adalah nama yang bisa kita sebut sebagai dramawan yang serius melakukan semacam pencarian akar tradisi lokal pada pementasan-pementasan teater mereka. Sebagian dari mereka telah berpulang, beberapa nama telah tak produktif, hanya Putu Wijaya dan N. Riantiarno saja yang masih terus berjibaku mengolah kreatifitas dengan pentas-pentasnya. Walau kita juga tidak mengesampingkan peran dramawan yang relatif masih muda seperti Butet Kertarejasa, Dindon WS, Iswadi Pratama, Yudi Tajudin, Iman Soleh, dan beberapa dramawan muda lainnya, yang melalui karya-karya pentasnya, mereka berupaya melakukan semacam interkulturalisme dalam teater.
Inilah fakta, bahwa teater Indonesia modern merupakan produk dari dialog yang terus menerus antara elemen-elemen Barat dengan Timur. Menurut Saini KM dalam buku “Interkulturalisme (dalam) Teater” terbitan Yayasan Untuk Indonesia, tahun 2000, para teaterawan kita mengambil kepadatan struktural dari Barat yang sangat penting untuk diekspresikan dalam tema-tema dalam batas waktu yang diizinkan dalam pertunjukan kontemporer. Pada pihak lain, mereka mengambil kekayaan imajinasi dan simbol-simbol dari kesenian Timur sebagai penekanannya. Pergulatan yang demikian intensif dengan dua kutub budaya itu membuat para teaterawan kita seperti tidak merasa bahwa mereka mengaku sebagai pemilik gaya Brechtian lantaran mirip longser Sunda dan ketoprak Jawa, serta pemilik gaya Artaudan lantaran mirip dengan teater tradisional Bali.
Dari fakta-fakta di atas menunjukkan pada kita bahwa perjalanan teater Indonesia modern selalu ditandai oleh adanya pergulatan terus menerus dari gejala-gejala sosio-kultural. Baik dari gejala kebudayaan yang ada dan mengakar di bumi pertiwi ini yang kemudian sering kita sebut sebagai tradisi serta budaya yang masuk dari luar yang pada percampurannya melahirkan budaya kontemporer. Sebagaimana kodratnya bahwa semua kebudayaan pada suatu waktu akan berubah. Antropolog William A. Haviland (1988) mensinyalir setidaknya ada dua hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan kebudayaan. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah terjadinya perubahan lingkungan yang dapat menuntut perubahan kebudayaan yang bersifat adaptif. Penyebab kedua, terjadinya kontak dengan bangsa lain yang mungkin menyebabkan diterimanya asing sehingga terjadilah perubahan dalam nilai-nilai dan tata kelakuan yang ada. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia.
Teater sebagai salah satu media ekspresi kebudayaan manusia tentunya tidak akan tinggal diam menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Pada perkembangannya teater bisa menjadi berbanding lurus dengan dinamika kebudayaan manusia. Pada sisi inilah, argumentasi mengangkat kembali wacana membaca dan atau menengok tradisi mendapat penguatan. Kita tidak lagi punya paradigma sempit memandang tradisi sebagai sebatas “benda museum”, artefak kuno, nilai-nilai jadul, “benda mati”, karena sejatinya tradisi bersifat dinamis. (dkj)

Rabu, 28 Maret 2012

Pentas Lenong:  Lakon Perawan di Gadein

Pentas Lenong: Lakon Perawan di Gadein

Pentas Lenongan STAGEMAN art
di Perkampungan Budaya Betawi - Srengseng Sawah – Jagakarsa – Jakarta Selatan
Dengan lakon : Perawan di Gadein
Karya : Ki Jebul
Sutradara : Anto Ristargie

Eh Cing .. Lenong itu bisa juga disebut teater tradisional Betawi. Alasannya .. kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Dan bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.
Eh Cang .. Lenong itu berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh. Dekornya sangat sederhana, berupa layar sekitar 3×5 meter bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen, obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum meningkat jadi petromaks. Tahun 70-an, durasi lenong yang semalam suntuk disunat jadi tiga jam saja. Selain itu, dramaturgi sederhana ikut diperkenalkan, tata panggung lebih realistis, make-up menggantikan cemongan dan bedak, pemasangan hair creppe buat kumis dan jenggot, hingga special effect untuk darah dan luka. Ada lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi) kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam. Ada juga lenong preman, busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dan kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah bertemakan cerita sehari-hari seperti rakyat yang tergencet pajak tuan tanah. Karena pakaian para pemainnya tidak ditentukan sang sutradara. Lenong Preman dinamai juga Lenong Jago.
Eh Ncang-Ncing .. Di Lenong itu pakem-pakem yang harus ada : pemain harus masuk dari sisi kanan panggung dan keluar dari sisi kiri juga musik pengiringnya adalah gambang kromong. Tapi ada juga toleransi daerah tertentu, terutama pinggiran Jakarta (perbatasan dengan Bekasi dan Bogor), yang memang tidak memiliki tradisi gambang kromong, diganti tanjidor. Karena musik jenis itulah yang berkembang pesat dan menjadi jati diri masyarakat Betawi pinggir.
Tahun 80-an dan 90-an, muncul teater-teater pop yang ke-Betawi-Betawian yang dapat juga dikatakan sebagai (konsep) pertunjukan lenong, orientasi hiburan pada pertunjukan Lenong adalah sebuah pertunjukan yang menghidupkan spontanitas, penuh lawakan yang tidak satu arah. Penonton pun boleh menjadi aktor, dan penonton yang menjadi pelawak itu adalah buah dari spontanitas, lawakan yang tidak terstruktur, tidak ada aturan. Semua bisa jadi bahan tertawaan, semua bisa tertawa. Karena lawakan sebagai bagian lawakan yang utuh murni untuk menghibur adalah bentuk awal dari lakon-lakon lenong.
Maka Lenong tetap Lenong. Tidak ada kategorisasi lain untuk hal itu. Lenong menjadi budaya bangsa yang menghibur secara jujur, tulus, spontan serta menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. (tim)

Jumat, 23 Maret 2012

Pentas Teater Titik Nol, Kolaborasi Film dan Teater

Sebuah kain putih berperan sebagai layar dibentangkan di tengah di bagian belakang. Peran kain ini begitu hidup menyamai tokoh-tokoh di dalam naskah Titik Nol Cerita dari Aceh. Seni adalah sebuah bentuk kegiatan yang tidak dibatasi oleh batas geografi. Mampu menyampaikan suatu wacana dan pemikiran tanpa limitasi adalah esensi sebuah karya seni. Esensi seni lainnya adalah mampu berkolaborasi dengan disiplin seni lainnya hingga menjadi sebuah tampilan baru. Hal itulah yang diterapkan dalam Titik Nol. Pertunjukan ini adalah sebuah bentuk kolaborasi sutradara Agnes Christina (Singapura) dan Nicholas Yudifar dan aktor dari Indonesia (Agus Nur Amal) dan Singapura (Emanorwatty) dipentaskan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu-Minggu (17-18/3) pukul 19.30 WIB.
Agnes yang selalu mengklaim setiap pertunjukkan adalah media belajar, maka usai pementasan digelar diskusi atau tanya jawab. Dari sekian banyak pertanyaan, paling seru ketika mempersoalkan soal adegan yang berkomunikasi lewat bayangan pada layar itu. Mereka menilai adegan itu kaku sehingga tidak cair sampai di penonton. Mereka menuntut adegan berisi tentang masa muda dari tokohnya Agus Nur Amal dan Emanorwatty, malah dibuat bergantian berada di balik layar sebagai bayangan agar dibuat berkomunikasi langsung. Karena ini merugikan dari sisi make up juga. Karena make up tokoh semasa Agus Nur Amal anak-anak tetap kelihatan tuanya.
Tapi begitu mendengar jawaban dari Agnes, sutradara berdarah Indonesia yang menetap di Singapura, justru menimbulkan perdebatan lagi. Titik Nol: Cerita dari Tanah Aceh berawal dari adaptasi dari sebuah film pendek dengan judul yang sama karya Nicholas, kata Agnes. Kemudian diputuskan untuk menyadur film itu menjadi sebuah pementasan teater berdurasi 60 menit oleh Agnes.
Dalam kolaborasi ini, Agnes dan Nicholas menggabungkan film pendek yang bercerita tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan ayahnya akibat terjangan tsunami saat gempa Aceh 2001 lalu, dengan teater. Sehingga menghasilkan gaya pencitraan yang lebih menarik dan mudah dicerna penonton. Dengan penggabungan film pendek dan teater, kolaborasi Agnes dan Nicholas ini memang bertujuan untuk menciptakan gaya bercerita yang lebih menarik dan mudah dicerna penonton. Dengan dukungan kolaborasi pemain Indonesia-Singapura, seperti Emanorwatty Saleh (Singapura), dan Agus Nur Amal (Indonesia), pementasan teater Titik Nol menjanjikan sebuah cerita melankolis yang dipersembahin dengan sentuhan komedi. Eits, selain pagelaran teater, dalam kesempatan ini pula, pada tanggal 14 maret 2012, Pusat Kesenian Jakarta bakal ngadain workshop pencahayaan dalam teater oleh Fita Helmi, penata lampu asal Singapura yang menjadi piñata lampu Titik Nol.
Dengan memakai SDM-SDM berbakat dari Indonesia dan Singapura, Titik Nol lebih dulu dipentaskan di The Substation Theatre, Singapura pada 1-3 Maret 2012. Menariknya, ternyata berbeda jauh waktu pementasan di Singapura dengan di Indonesia. Utamanya adegan yang dipersoalkan penontonnya tadi. Agnes mengaku, di Singapura mereka membuat adegan semasa Agus Nur Amal muda berdialog langsung tanpa melalui layar.
Tapi ini dibenarkan oleh sutradara Teater Kolom, Hery S. Dia mengatakan, justru bersyukur menontonnya di Indonesia. Karena yang benar dilakukan Agnes adalah saat pementasan di Indonesia. Selain itu menunjukkan kreatifitas hasil proses kreatif dan evaluasi pada produksi sebelumnya, tapi juga Hery S mengklaim pilihan Agnes itu sudah benar. Karena adegan yang berisi tentang flash back atau kisah yang dikisahkan dari masa lalu tokohnya, jadi mudah dicerna penonton lewat adegan dari bayangan di layar dengan tokoh aslinya. “Itulah namanya sentuhan film-nya. Disampin itu, ada semacam terobosan untuk memanfaatkan post dramatic. Di mana berdialog tidak lagi harus bertatap langsung seperti pertunjukkan konvensional atau non post dramatic,” terang Hery S.
Titik Nol bercerita tentang Siti, Sukran, dan Sofyan. Siti seorang muslim Malaysia dan Sukran adalah seorang Aceh yang memiliki hubungan dengan Sofyan. Kehidupan Sofyan sedikit banyak dipengaruhi situasi politik di Aceh. Keberadaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia memengaruhi kehidupan masyarakat Aceh. Tapi, bagaimana semua ini memengaruhi Siti, seorang wanita yang hidup di Malaysia? Ketika tsunami memorak-porandakan tanah Aceh dan Sofyan menghilang, kehidupan mereka semakin sulit.
Ketika seseorang hilang, kita terus berharap dia akan kembali, tetapi berapa lama kita harus menunggu? Akhirnya kita membutuhkan kepastian. Ketika seseorang dalam hidup kita menghilang, kita hanya dapat menunggu dan berharap bahwa yang hilang akan kembali. Akan tetapi, sampai kapan kita akan menunggu? Pada akhirnya, kita hanya ingin kepastian bahwa yang hilang memang tidak akan kembali. Dengan gabungan antara film pendek dan teater, Agnes Christina asal Indonesia ini pastinya beda sama pertunjukan teater biasa.
Pementasan ini sendiri didukung pula oleh National Arts Council Singapore, The Substation Singapore, Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki dan Hotel Formule. (tim)

Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjihtjih Kembali Langsungkan Deretan Pementasan

Judul Damar Wulan”

Waktu: 24 Maret 2012

Pukul: 20.00 WIB

Sutradara: Imas Darsih

Asisten Sutradara: Dadang Badoet & Abah Ember

Tempat: Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jl. Kabel Pendek, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Pementasan yang terselenggara berkat dukungan dari Dewan Kesenian Jakarta, Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (BAMUS)dan PT Bassoli.

Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih didirikan pada 1928. Mengambil nama Miss Tjitjih berdasarkan nama diva panggung sandiwara pada masa itu: Nyi Tjitjih. Dia adalah pemain sandiwara Sunda kelahiran Sumedang. Perjalanan hidup Nyi Tjitjih mulai berubah saat rombongan sandiwara keliling Opera Valencia pimpinan Abu Bakar Bafaqih bertemu dengan kelompok sandiwara Sundanya Tjitjih. Bafaqih, seniman tonil keturunan Arab kelahiran Bangil Jawa Timur, amat terpesona dengan permainan Nyi Tjitjih ketika itu. Ia lalu mengajak Nyi Tjitjih bergabung dengannya. Sejak bergabung dengan Opera Valencia karier Tjitjih terus menanjak, bahkan namanya menjadi lebih terkenal ketimbang nama grupnya sendiri. Akhirnya, Opera Valencia berubah menjadi “Miss Tjitjih Toneel Gezelschap” atau Miss Tjitjih saja. Sejak ganti nama, grup sandiwara ini semakin terkenal. Setiap kali kali mereka pentas pasti penonton membludak.

Sejak tahun 1928, perkumpulan Miss Tjitjih menetap di Batavia tepatnya di sebelah bioskop Rivoli, Kramat Raya. Mereka juga memiliki jadwal tetap untuk mengadakan pertunjukan di Pasar Baru hingga Pasar ini tutup tahun 1936.

Nyi Tjitjih meninggal dunia pada usia 28 tahun pada tahun 1936. Grup sandiwara Miss Tjitjih sangat terpukul atas kepergiannya, tapi Bafaqih dan teman-temannya meneruskan perjuangannya dalam melestarikan kesenian Sunda. Setelah itu mereka pindah ke daerah Muara Angke. Sekitar 15 belas tahun kemudian mereka pindah lagi ke daerah Cempaka Baru hingga sekarang. Pada tahun 1997 gedung ini sempat habis terbakar tapi kemudian dibangun kembali lebih bagus dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Nyi Tjitjih memang membawa andil besar dalam grup ini. Dialah yang berinisiatif mengganti dialog pertunjukan Miss Tjitjih menjadi bahasa Sunda.

Sejak dua puluh tahun terakhir, pertunjukan Miss Tjitjih banyak mengambil tema-tema horor. Tengok saja judul-judul yang sering mereka mainkan ini: Kuntilanak Warung Doyong, Si Manis Jembatan Ancol dan Beranak Dalam Kubur.

Dikarenakan berbagai masalah, sejak beberapa tahun terakhir 2010 & 2011 , Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih hanya dapat melaksanakan pentas rutinnya pada bulan Oktober-November-Desember, dengan dana yang sangat sedikit (Rp. 1.800.000 per pertunjukan). Keadaan ini, membuat Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih menjadi carut-marut. Sejak Akhir tahun 2011, Komite Teater – Dewan Kesenian Jakarta mengambil inisiatif untuk memberi dukungan kepada kelompok ini. (tim)


Program selama Februari-April 2012:

No

Waktu

Judul

Tempat

Genre

1

Sabtu,11 Februari 2012

Bende Jenggala

GK. Miss Tjitjih

Babad

2

Sabtu, 25 Februari 2012

Kujang Padjajaran

GK. Miss Tjitjih

Babad

3

Sabtu, 10 Maret 2012

Mas Kawin ku Sirah Bapak

GK. Miss Tjitjih

Roman Silat

4

Sabtu, 24 Maret 2012

Damar Wulan

GK. Miss Tjitjih

Babad

5

Sabtu, 14 April 2012

Panakawan Jadi Raja

GK. Miss Tjitjih

Babad

6

Sabtu, 28 April 2012

Kuntilanak Lorong Sempit

GK. Miss Tjitjih

Roman

Rabu, 21 Maret 2012

Agnes Christina, Pilih Berkarir di Teater

Gadis lajang ini lupa pacaran. Pasalnya, dia terlalu padat untuk mengisi proyek pementasan teater di berbagai negara dan kota di Indonesia lewat bendera usaha yang sedang dirintisnya, ACP (Agnes Chritina Project). Disamping itu, Agnes sedang tekun untuk karir. Sehingga dia sampai nekad mengatakan, pasangan hidup adalah nomor dua.
Sebagai anak perempuan, Agnes mengaku selalu ditanyai orangtuanya. Misalnya, apakah sudah punya pacar atau belum, kapan mau menikah, dan seterusnya. Bahkan orangtuanya, tidak setuju jika menekuni dunia teater. Orangtuanya selalu menekannya agar Agnes yang lulusan National University of Singapura jurusan Enviromental Engineering (Teknik Lingkungan Hidup) tahun, 2007-2011, bekerja di kantoran saja. Tapi dia selalu menepis dengan jawaban, sekarang focus pada karir dulu. Kebetulan dirinya juga baru lulus kuliah.
“Pastinya, namanya orangtua menanyakan sudah punya pacar apa belum. Karena pernah pacaran tidak serius dan memang saya tidak focus. Soalnya, sebagai orang teater, waktunya tidak menentu. Latihan-latihan terus, tak jarang pulang malam. Nah, ini sama kendalanya kalau saya kerja di kantoran. Tidak bisa bagi waktunya. Kalau kerja kantoran susah untuk komitmen. Makanya, tidak aneh, kalau banyak orang di teater yang jomblo berkepanjangan,” tepis Agnes Christina saat di temui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (20/3).
Yang mengejutkan, Agnes mengaku, jika ternyata umurnya nanti sampai 32 tahun baru mapan dari karirnya. Maka dia lebih memilih untuk mengadopsi anak saja. “Itu perjalanan hidup,ya? Tuhan yang mengatur semua. Tapi, saya piker kalau sudah umur 32 tahun dan hidup sudah mapan, mending saya adopsi anak saja ketimbang bersuami,” cetus bungsu dari dua bersaudara pasangan Tjandra Kurniawan dengan Shintya Kurniawan.
Begitu pun soal pertentangan kedua orangtuanya dengan berkarir di teater, Agnes mengakui, karena berteater tidak punya prospek kehidupan seperti bekerja di kantoran. “Pastinya, orangtua cari yang save (aman, red). Selama ini, mereka melihat dunia teater atau seni umumnya tidak prospektif. Karena tidak jelas penghasilannya setiap bulan. Tapi kalau diminta bekerja di kantor, saya lebih memilih buka usaha. Saya punya keinginan untuk membuka usaha juga. Walaupun kalau kerja kantoran di Singapura, gajinya besar sekali,” pungkasnya. (ipo)

Sabtu, 17 Maret 2012

Dramawan Singapura Beri Workshop Tata Cahaya Panggung

Penata Cahaya dari ACP, Mohammad Helmi Fita (berkaos merah) memberikan pengenalan alat light dalam workshop di TIM yang diselenggarakan DKJ bareng ACP.



Agnes Christina Project (ACP) asal Singapura bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akan menggelar pementasan bertajuk Titik Nol di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Jumat-Sabtu (16-17/3). ACP melakukan kolaborasi dengan seniman Indonesia Agus Nur Amal dan Emanorwaty Saleh (Singapura) disutradarai langsung oleh Agnes Christina. Dalam rangkaian pementasan Titik Nol itu, dilakukan workshop Pencahayaan Dalam Teater dengan instruktur lighter designer (piñata cahaya) Singapura Mohammed Helmi Fita di tempat yang sama, pada Rabu (14/3), kemarin.

Dalam workshop itu, Helmi mengemukan perlunya pengenalan mendetail terhadap seperangkat alat lampu untuk tata cahaya. Kalau di Singapura, ada pembelajaran di perguruan tinggi bidang kesenian khusus tentang lampu. Sehingga seorang piñata cahaya mengenal tipe-tipe dan klasifikasi lampu, fungsi, merek, karakter , ukuran, dan semua terkait dalam spesifikasi satu unit lampu.

“Kalau di Singapura ada pengetahuan tentang alat lampu itu sendiri secara khusus. Sehingga kita bisa mengetahui cara pakai dan penggunaannya. Maka itu, seorang piñata lampu itu harus menyanyi lampu, seperti kita menyanyi anak. Karena lampu itu tempat kita menumpahkan kreatifitas. Paling tidak kita harus selalu member apresiate pada lampu-lampu panggung itu. Apresiate ini sebagai bentuk saying kita padanya supaya lampu itu pun memberi kita kemudahan. Misalnya, tidak tiba-tiba mati atau rusak dan tidak menyulitkan saat pemasangan,” papar Helmi dalam bahasa Inggris dari puluhan peserta workshop yang berasal dari seluruh Indonesia.

Menurut dia, ada empat kelompok lampu yang vital dalam setiap satu pementasan. Yaitu kelompok lampu Parcan atau Par, Profil, PC (Presnel Compact), dan Pressnel. Bagi dia, lampu yang paling hebat adalah profil. Lampu ini dinilainya sebagai sebuah magic. Karena bisa memberi efek macam-macam yang menakjubkan, terutama untuk focus pada kreatifitas si piñata lampu. “PC juga hebat karena bisa sinarnya bisa mengecil dan membesar. “Karena itu, penting mengetahui lebih dulu tentang alat lampu itu. Baru kita cari tahu fungsi dalam menyatukan atau kebutuhan suasana adegan. Aneh, kalau kita butuh adegan tertentu, ternyata piñata lampu salah member perwujudan dari kreatifitas si sutradara. Apalagi kalau si sutradara pun tidak tahu juga soal lampu,” sindir pria yang punya pengalaman sebagai piñata lampu di berbagai Negara, seperti India, Korea, dan Jepang.

Sementara itu, sutradara Teater Kolom Hery S mengaku di Indonesia tidak ada pembelajaran tentang pengenalan satu unit lampu. Bahkan di IKJ (Institute Kesenian Jakarta) pun tidak ada. “Saya dengar dari anak-anak yang kuliah di IKJ, mereka mengenal alat-alat unit lampu dari para senior. Harusnya IKJ menyediakan alat lampu yang bisa dipreteli mahasiswanya, seperti mahasiswa jurusan film,” ungkap Hery S.

Sedangkan pementasan Titik Nol sendiri bercerita tentang Sukran, seorang bocah dari Aceh dan Siti, seorang wanita Malaysia yang sama-sama merasakan kepedihanatas hilangnya Sofyan akibat tsunami Aceh, pada 2004 lalu. Ketika kita kehilangan seseorang, kita hanya dapat menunggu dan berharap bahwa yang hilang akan kembali. Tapi berapa lama kita menunggu? Pada akhirnya, kita hanya ingin sebuah kepastian kalau orang yang hilang memang tidak akan kembali. (tim)